Nelayan Aceh tidak Melaut hingga Hari Ketiga Idul Adha

Nelayan Aceh tidak melaut hingga hari ketiga Idul Adha. Hal ini sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh sejak turun menurun.
Nelayan Aceh
Ilustrasi kapal nelayan (ANTARA/Hayaturahmah)

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Nelayan Aceh tidak melaut hingga hari ketiga Idul Adha. Hal ini sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh sejak turun menurun.

Lembaga Panglima Laot (laut) Aceh menyatakan para nelayan di daerah itu dilarang melaut selama tiga hari lebaran Idul Adha yakni 10, 11 dan 12 Dzulhijjah (20 sampai 22 Juli 2021).

“Itu adalah hari pantangan melaut, tanggal hijriah tersebut adalah hari yang diharamkan melaut bagi nelayan seluruh Aceh,” kata Wasekjen Panglima Laot Aceh Miftach Cut Adek, di Banda Aceh, Senin.

Tak hanya untuk nelayan Aceh, kata Miftach, hari pantangan melaut tersebut juga berlaku terhadap nelayan dari luar Aceh yang melakukan aktivitas operasionalnya di wilayah perairan Aceh.

“Bukan hanya bagi nelayan asal Aceh saja, para pihak lain yang ingin mencari ikan di wilayah laut seluruh Aceh juga diberlakukan aturan yang sama,” ujarnya.

Nelayan Aceh
Ilustrasi kapal nelayan (ANTARA/Hayaturahmah)

Larangan tersebut merupakan ketentuan dari hukum adat laut yang berlaku di Aceh, setiap hari besar seperti hari raya para nelayan diperintahkan untuk tidak melaut sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Miftach menjelaskan, hari pantangan melaut ini mengandung makna bahwa nelayan diharuskan melaksanakan ibadah Idul Adha serta bersilaturahmi dengan saudara masing-masing.

“Selama tiga hari itu nelayan Aceh juga diharuskan untuk melaksanakan ibadah berkurban dalam lingkungan masyarakat masing-masing,” katanya.

Miftach menegaskan, jika terdapat adanya nelayan yang melanggar ketentuan adat itu, maka dapat diberikan sanksi berupa penahanan kapal minimal selama tiga hari dan maksimal tujuh hari.

“Sanksi lainnya yaitu semua ikan hasil tangkapannya pada hari itu akan disita untuk Lembaga Panglima Laot setempat,” demikian Miftach Cut Adek. (*)