Potret

Nasib Para Rasta di Tanah yang Dijanjikan

Meski telah sampai di “Tanah yang Dijanjikan”, kaum Rasta di Ethiophia masih mengalami berbagai hambatan dan diskriminasi.

Marcus Mosiah Garvey Jr, 1924. FOTO/Library of Congress/Wikimedia Commons

ACEHSATU.COM – So-o, Africa unite: ‘Cause the children (Africa unite) wanna come home. Africa unite: ‘Cause we’re moving right out of Babylon, yea, And we’re grooving to our Father’s land, yea-ea.

Sepenggal lirik Africa Unite yang digubah musisi reggae asal Jamaika Bob Marley menggambarkan betapa berharganya benua Afrika bagi keturunan Afrika yang hidup di luar benua tersebut. Khusus bagi para penganut Rastafari, Afrika bukan sekadar seonggok tanah. Bagi mereka, Afrika adalah tanah yang dijanjikan. seperti halnya Jerussalem bagi bangsa Yahudi, Afrika adalah tanah zion bagi para Rastafari.

Agama Rastafari berakar pada ajaran yang dikembangkan aktivis serta pemimpin politik Jamaika Marcus Garvey. Dialah tokoh kunci gerakan “Kembali ke Afrika” yang mendorong keturunan orang-orang Afrika di benua Amerika untuk pulang ke kampung halamannya. Gerakan ini muncul pada 1920-an.

Garvey saat itu meramalkan munculnya seorang raja berkulit hitam di Afrika. Kelak Raja ini akan menyelamatkan orang-orang berkulit hitam di seluruh dunia yang nasibnya mengenaskan. Dijajah oleh bangsa lain sampai dijadikan budak di benua Amerika.

Raja Diraja ini dipercaya ada dalam sosok Kaisar Ethiopia Haile Selassie, yang dikenal juga dengan nama Jah. Sebelum disahkan sebagai raja pada 2 November 1930, dia dikenal dengan nama Ras Tafari Makoennen. Nama ini yang kelak menjadi inspirasi nama gerakan “Rastafari”.

Peneliti Rastafari Desta Meghoo, dalam Decades Later, Rastafaris Still Struggling for Recognition, juga mencatat pentingnya keberadaan Heile Selassie dalam kebangkitan gerakan nasionalisme kulit hitam. Raja Ethiopia itu adalah satu-satunya pemimpin Afrika yang pada waktu itu mengunjungi para diaspora Afrika. Saat itu, Sang Raja mengingatkan para diaspora itu bahwa mereka punya “rumah” di Afrika.

Pada 1955, setelah berkunjung ke Karibia, Haile Selassie mengirim undangan terbuka bagi keturunan Afrika untuk pulang kampung ke Ethiopia. Sang Raja telah menyediakan 500 hektar tanah bagi mereka yang hendak pulang. Letaknya di bagian selatan kota Shashemene yang berjarak 250 km dari ibukota Ethiopia Addis Ababa.

Akhirnya, dua belas orang menerima tawaran ini: satu orang berjalan ke sana, sebelas lainnya naik perahu. Sebagian besar dari mereka berasal dari Jamaika.

Pendeta Paul adalah satu-satunya dari 12 orang tersebut yang masih hidup sekarang. “Afrika adalah tanah kelahiran peradaban. Di Jamaika, ada ideologi dan politik yang memisahkan kita. (Hal itu juga) yang membuat saya pergi. Lagi pula, Ethiopia menggugah jiwa Rasta (saya), karena semua tentang pulang kembali,” ujar Paul, kepada Lifegate.

Pada Desember 2015, Aljazeera melaporkan sekitar 800 Rastafari hidup di Shashemene. Sebagian besar percaya bahwa mereka tengah memenuhi nubuat yang mengatakan bahwa keturunan budak Afrika akan kembali ke Afrika.

Sayangnya, banyak yang tidak memiliki surat izin resmi dan dilarang memiliki kewarganegaraan Ethiopia. Ditambah paspor yang kadaluwarsa, beberapa di antaranya menjadi tidak memiliki kewarganegaraan dan tidak bisa pulang ke negara asal. Ketiadaan kartu identitas Ethiopia juga berakibat mereka tidak bisa bekerja formal.

“Komunitas Rasta selalu menjadi minoritas. Padahal Rasta hanya sebuah komunitas kecil. Jadi, apakah mereka berbahaya bagi Pemerintah atau orang-orang Ethiopia? Mungkin ada sedikit nilai subversif karena kami berkaitan dengan Raja (Haile Selassie) yang merupakan mantan rezim penguasa,” ujar Alex Renia, seorang Rastafari asal Karibia Perancis yang datang ke Shashemene pada 2005, kepada Africanews.

Padahal, pemerintah Ethiopia pernah mencicipi devisa dari mereka. Pemerintah sempat membolehkan para Rastafari dan penggemar reggae mengadakan perayaan hari ulang tahun Bob Marley di Addis Ababa pada 2005. Sekitar 700 ribu orang hadir di sana. Hal tersebut tentu menghasilkan devisa bagi Ethiopia dari sektor pariwisata.

Hal tersebut pernah ditegaskan penulis buku Visions of Zion: Ethiopians and Rastafari in the Search for the Promised Land Erin Macleod. Kepada Montreal Gazette, Erin mengatakan reggae dan Rastafari memang sulit dipisahkan.

“Saya pikir sebagian besar orang di luar Jamaika atau diaspora Jamaika mengenal Rastafari lewat reggae. Saya belajar Rastafari melalui lirik, seperti kebanyakan orang. Bob Marley benar-benar membuat Rastafari dikenal di dunia internasional dan saya pikir hal tersebut dapat didebat bahwa sebagian besar pandangan orang tentang Rastafari bersumber dari Marley,” ujar Macleod.

Tidak sekadar menjadikan Shashemene dan Ethiopia sebagai “tanah suci”, Macload juga percaya Rastafari dapat berperan dalam masyarakat Ethiopia.

“Rastafari adalah para pebisnis, pekerja sosial-kemanusiaan, seniman, dan musisi. Terdapat berbagai macam cara mereka berkontribusi untuk masyarakat Ethiopia. Ada potensi besar bagi Rastafari untuk ikut serta dalam pembangunan bisnis dan sosial-kemanusiaan. Beberapa inisiatif yang dapat dilihat di Shasemene, seperti restoran, sekolah komunitas, dan pabrik tofu menandakan hal tersebut ada,” sebut Macload.

Keluhan mengenai identitas Rastafari juga disampaikan Rueben Kush. Bagi Kush, Rastafari di Ethiopia meski seolah tidak diterima tapi sebenarnya mereka tidak pernah diusir.

“Kebutuhan kami adalah kebutuhan dasar manusia,” ujar Kush kepada Jamaica Observer, “Kami harus bisa memberi tahu anak-anak kami bahwa mereka memiliki sebuah negara. Anak-anak dilahirkan di sini dan digolongkan sebagai orang tanpa kewarganegaraan – tidak dapat mendapatkan identitas di sini dan tidak dapat memperoleh identitas dari negara tempat orang tua mereka berasal.”

Pada Juli 2017, Associated Press melansir Menteri Luar Negeri Ethiopia berencana memberikan kartu identitas kepada Rastafari.

“Dalam kasus Rastafarian, kita memiliki tiga generasi orang yang tinggal di sini yang telah bercampur baik dengan warga kita. Tapi sayangnya mereka bukan orang Karibia atau orang Etiopia yang entah bagaimana tanpa kewarganegaraan. ID nasional ini akan mengatasi masalah ini,” ujar juru bicara Menteri Luar Negeri Ethiopia Meles Alem.

Akankah Rastafari lekas mendapat keadilan dan kenyamanan di “Tanah yang Dijanjikan” tersebut? Sepenggal larik dari lagu Exodus hasil karya Bob Marley tentu akan setia menemani perjuangan dan penantian para Rastafari:

Jah come to break downpression,

Rule equality,

Wipe away transgression,

Set the captives free.

Sumber: Tirto.id

To Top