Muspika Meurahdua Tetapkan MTR 2020/2021, Petani Minta Kesiapan Pupuk

Petani lebih menekankan tentang pupuk, karena berdasarkan pengalaman, setiap jelang tanam dan umur tanaman sekitar sebulan pupuk bersubsidi sering kosong atau tidak tersedia di kios-kios pengecer.

ACEHSATU.COM | PIDIE JAYA – Untuk keseragaman atau keserentakan dalam bertani, muspika Kecamatan Meurahdua, Pidie Jaya, Selasa (27/10/2020) menggelar rapat turun ke sawah Musim Tanam Rendengan (MTR) 2020/2021 dengan semua keuchik, imum mukim, ketua kelompok tani, kejruen blang serta Dinas Pertanian Pangan setempat.

Petani meminta agar pupuk bersubsidi tersedia di kios-kios pengecer.

Petani lebih menekankan tentang pupuk, karena berdasarkan pengalaman, setiap jelang tanam dan umur tanaman sekitar sebulan pupuk bersubsidi sering kosong atau tidak tersedia di kios-kios pengecer.

Dalam kondisi demikian, petani pusing tujuh keliling.

Yang penting pupuk tersedia, soal harga belakangan, kata seorang keuchik.

Selain pupuk, petani juga meminta Distan setempat supaya mengawasi peredaran benih tanpa label. Benih tanpa identitas sering mengecewakan petani.

Pertemuan berlangsung di Balai Desa dipimpin Teuku Safrizal camat setempat. Dihadiri Kadis Pertanian Pangan diwakili Kabid Produksi, Safri SP, MP, Kapolsek, Danramil, Imum Mukim, Geusyhik, Kejruen Syhik, Petugas Gapoktan seta Penjaga Pintu Air.

Rapat memutuskan, kenduri blang tgl 5/10 s/d  10/11/2020. Olah tanah 5 s/d 30/11/202020, tabur benih 25/11 s/d 10/12/2020, mulai tanam 10 s/d 25/12/2020 dan selesai tanam atau top blang tanggal 26/12/2020.

Panen diperkirakan Maret 2021.

Sebagaimana musim tanam gadu 2020 lalu, varietas padi yang dianjurkan pada MTR kali juga berumur genjah atau pendek berkisar antara 110-115 hari. Yaitu, Intani, Ciherang, Mekaonnga  serta varietas Cigelis.

Distanpang meminta petani supaya menghindari penggunaan benih tanpa label karena dikhawatirkan akan terserang hama atau penyakit.

Petani juga dianjurkan agar menggunakan pupuk sesuai dosis dan perlu disiapkan sejak sekarang. Sebaiknya, pengadaaan pupuk secara berkelompok.

Melalui keuchik dan imum mukim serta kejruen blang, Camat Meurahdua, Teuku Safrizal S.STP, M.S.M dalam arahannya mengharapkan kepada petani supaya mentaati jadwal yang telah disusun.

Karena, merujuk pada pengalaman, jika jadwalnya melor atau tidak serentak apalagi hingga sebulan bisa jadi akan berekses terhadap  serangan hama atau penyakit.

Terlebih lagi tikus akibat ketersediaan makanan yang tidak pernah henti maka binatang pengerat ini akan cepat sekali berkembang atau beranak pinak.

Harapan sama juga disampaikan Safri Sallam. Katanya, seperti musim tanam gadu yang sedang berjalan ini. Beberapa kecamatan sudah selesai panen dan cuaca mendukung serta harga gabah lumayan bagus.

Sementara sebagian lagi kini sedang panen malah ada baru menguning dan panen sekitar sepekan mendatang. Cuaca yang sering mendung dan jika hujan berakibat harga jual gabah turun, sebut Safri.

Karenanya, Kabid Produksi mengajak petani agar mengikuti jadwal tanam yang telah disusun. Pihaknya, optimis kalau dapat diikuti, perolehan hasil akan maksimal dan itu telah terbukti beberapa tahun lalu.

Pemkab setempat menghendaki Pijay bisa panen lima kali dalam dua tahun. Tapi jika selalu melor seperti saat ini sebagian belum panen  capaian hasil akan rendah.

Ironisnya, lanjut Safri, Meureudu, Meurahdua dan Ulim yang airnya tersedia cukup, tapi selalu melor bertani.

Pertemuan juga dibarengi dengan diskusi atau Tanya jawab menyangkut ketersediaan sarana pendukung.

Seperti benih, pupuk dan air. Menyangkut dengan pupuk, lapor seorang kechik, setiap tahun menjadi kendala utama.

Akibat krisis  pupuk di pasaran, sehingga petani pusing tujuh keliling. Keuchik dan Ketua Gapoktan meminta Distanpang agar mengawassi beredarnya benih tanpa label. (*)