oleh

Mungkinkah Sukmawati Sakit Jiwa?

-Kolom Hamdani-152 views

ACEHSATU.COM – Tulisan ini ingin menanggapi pidato Sukmawati Soekarno Putri yang kontroversial itu. Nama lengkapnya Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri, ia lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951, saat ini berumur umur 68 tahun. Sukmawati adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Sukmawati juga merupakan adik dari Megawati Soekarnoputri, mantan presiden Indonesia, yang kini menjabat Ketua Umum Partai PDIP.

Ketokohan Sukmawati Soekarno Putri tergolong tidak sepopuler Megawati meski keduanya keturunan Soekarno. Bahkan sebagian masyarakat Indonesia tidak mengenal sosok Sukmawati.

Termasuk apa kiprah dan kontribusi dirinya terhadap bangsa dan negara ini untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Barangkali hanya sedikit dari rakyat Indonesia yang tahu tentang aktivitas Sukmawati. Jika saya tidak salah, ia sering membaca puisi bila diundang pada acara-acara bertajuk ke-indonesiaan. Misalnya mengenai kebudayaan, kebhinnekaan, dan nasionalisme.

Belakangan Sukmawati sering jadi sorotan karena sikapnya yang dianggap anti Islam. Kendatipun ia berpenampilan mirip muslimah yang baik, namun sebagian umat muslim Indonesia menilai dirinya bukanlah penganut Islam yang taat.

Bahkan tak jarang Sukmawati menampakkan ketidaksukaannya terhahap ajaran Islam yang dianggapnya tidak sejalan dengan nasionalisme yang dia anut.

Sebagai budayawan, Sukmawati menghasilkan karya-karya sastra dan puisi. Banyak puisi yang telah dituliskannya namun kurang masyhur. Beda dengan puisi-puisi WS Renda dan Taufik Ismail atau Gus Solahuddin yang sangat digandrungi masyarakat. Padahal puisi-puisi mereka menukik tajam kritikan sosial.

Rendahnya popularitas Sukmawati telah membuat dirinya tidak mendapatkan tempat pada jalur politik.

Sukmawati hampir tidak pernah tampil di atas panggung politik nasional. Apalagi mendapatkan peran strategis untuk mempengaruhi kebijakan negara dalam menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran.

Sehingga secara logika agar dia tidak kalah dengan popularitas Megawati, Rachmawati, Guruh Soekarno dan bahkan Puan Maharani, Sukmawati perlu melakukan langkah-langkah aneh dan kontroversi agar popularitasnya terdongkrak.

Mungkin Anda masih ingat tentang puisi yang ia katakan suara azan kalah merdunya dengan kidung ibu Indonesia. Itu adalah bentuk keanehan seorang Sukmawati.

Berikut puisi lengkap Sukmawati yang dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 silam yang ia beri judul Ibu Indonesia.

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Sekilas puisi Sukmawati terlihat sangat bagus, sarat makna terhadap ibu pertiwi bernama Indonesia.

Namun mana kala pencipta puisi tersebut mencaci sang Maha Pencipta melalui pelecehan terhadap suara azan, maka disinilah Sukmawati dinilai sebagai seniman atau budayawan yang tidak beriman kepada Allah. Ini salah satu indikasi orang yang sedang sakit jiwanya.

Menurut Kapitra, Sukmawati tidak seharusnya membanding-bandingkan adzan dengan Kidung Pancasila. Adzan yang merupakan panggilan untuk ibadah, lanjut Kapitra, tidak bisa dibandingkan dengan hal lain.

Kapitra berkata benar, buat apa coba membandingkan azan dengan kidung ibu Indonesia yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Bahkan nilai keduanya pun sangat berbeda. Kidung ibu Indonesia hanya pantas dibandingkan dengan lagu-lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Inul Daratista, atau Trio Macan, misalnya.

Namun tidak dengan azan. Sebab senandung azan itu adalah sebutan nama Allah dan RasulNya. Itu adalah kalimat tauhid dan panggilan manusia untuk melaksanakan ibadah shalat.

Ibadah yang sangat tinggi nilainya dibandingkan membaca puisi yang tidak berguna itu dihadapan Allah Swt.

Sehingga kesesatan berpikir Sukmawati telah menjelaskan siapa dirinya dihadapan
rakyat Indonesia terutama keberpihakan dia terhadap Islam.

Terus terang saja umat Islam Indonesia meragukan Sukmawati bahkan trah Soekarno dalam membela Islam. Meskipun begitu, tidak seluruhnya beranggapan demikian.

Bandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad Saw

Kali ini Sukmawati bikin heboh lagi. Ia kembali melontarkan buah pikir “busuk” yang kalau ditelan mentah-mentah bukan hanya tidak sehat tapi malah jadi penyakit.

Penyakit apa? Penyakit jiwa. Sukmawati telah melemparkan lagi benih penyakit sakit jiwa menular bagi generasi muda Indonesia. Mereka yang tidak sehat imannya, besar kemungkinan kesesatan berpikir Sukmawati akan termakan.

Seperti dilansir detiknews.com, Sukmawati diduga telah melontarkan kalimat yang berpotensi menjadi perkara penistaan agama Islam.

Sehingga Koordinator Bela Islam (Korlabi) melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke polisi atas dugaan penistaan agama tersebut ke Polda Metro Jaya. Sukmawati dilaporkan atas ucapannya yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden pertama RI Sukarno.

Ucapan sembrono tersebut dilontarkan Sukmawati pada saat dirinya menghadiri sebuah diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ di Jakarta pada Senin (11/11).

“Di abad 20, yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia itu Nabi Yang Mulia Muhammad atau Ir Sukarno? Tolong jawab, silakan anak-anak muda, saya mau tahu jawabannya, ayo jawab, nggak ada yang berani? Saya mau yang laki-laki, kan radikalis banyaknya laki-laki,” tanya Sukmawati pada para peserta yang hadir. Lantas kemudian dijawab oleh salah seorang mahasiswa dan potongan jawaban itu membawa kesimpulan bahwa Soekarno lah yang berjuang memerdekakan Indonesia dan bukan Nabi Muhammad Saw.

Tetapi yang menjadi perdebatan adalah mengapa Nabi Muhammad Saw diposisikan sejajar bahkan lebih rendah dari Soekarno? Atau mengapa tidak sekalian dengan Tuhan saja, bukankah Tuhan juga tidak berjuang seperti Soekarno? Mengapa pula dalam pembukaan Undang Undang 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan Indonesia berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa bukan berkat Soekarno? Sadarlah nenek Sukmawati (*)

Komentar

Indeks Berita