oleh

Mungkinkah Mengejar Pertumbuhan Ekonomi Untuk Menampung Pengangguran yang Terus Meningkat?

-Indeks, Opini-234 views

Oleh: Dr. Zainuddin, SE, M. Si.

ACEHSATU.COM – Tulisan ini dibangun dengan asumsi penulis, dan tidak bermaksud menggurui, bila ada nilai kebenaran boleh diambil hikmahnya dan bila salah dilupakan saja. Indikator kesejahteraan diantaranya dapat diukur dengan tingkat pengangguran yang minimal, tidak adanya tumpukan pengangguran terbuka dalam jumlah banyak.

Guna mengatasi agar pengangguran tidak buming tidak lain dan tidak bukan harus digenjot pertumbuhan ekonomi terutama pertumbuhan dari sisi lapangan usaha.

Dengan adanya lapangan usaha sudah dapat dipastikan akan menyerap tenaga kerja, baik itu lapangan pekerjaan formal maupun lapangan pekerjaan informal.

Mengenai situasi ini mari kita lihat perumbuhan ekonomi (PDB) pada sisi lapangan pekerjaan dalam tiga tahun terakhir di Indonesia menurut BPS, seperti pada gambar berikut ini:

Sumber: BPS

Berdasarkan gambar tersebut diatas dapat kita maknai selama periode 2017-triwulan I 2020 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi (PDB) sektor lapangan kerja tidak pernah mencapai 5,5% apalagi hingga 6% sampai 7%.

Ini artinya memang Indonesia belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang benar-benar dapat menampung semua angkatan kerja yang selalu bertambah setiap tahunnya.

Pada dasarnya setiap tambahan atau tumbuh 1% pertumbuhan lapangan kerja akan dapat menyerap tenaga kerja pada saat sekarang ini lebih kuarang sebesar 110.000 tenaga kerja (sumber: Kompas.com).

Sedangkan, pada angka pengangguran menurut BPS sebesar 6,88 juta orang pada Februari 2020.

Bila kita hubungkan dengan daya serap tenaga kerja setiap tumbuh 1% PDB, maka logika sederhana  harus ada pertumbuhan sebesar 62,55%, untuk mecapai pertumbuhan ini kira-kira butuh waktu berapa tahun (asumsi pengangguran tidak bertambah).

Jika target pertumbuhan pada tahun 2020 juga berkisar pada 5% diakhir tahun, maka hanya akan dapat mengurangi pengangguran sebesar 550.000 orang saja, dan masih tersisa sebesar  6.330.000 orang. Dan hakikatnya angkatan kerja pasti tidak statis pasti dia akan bergerak dinamis akan bertambah dari tahun ke tahun dan akhirnya akan bertambah pula pengangguran.

Jika asumsi pengangguran fixed atau tetap seperti jumlah 6,88 juta orang dan butuh pertumbuhan ekonomi (PDB) sisi lapangan pekerjaan akan dapat nol pengangguran dibutuhkan pertumbuhan 62,55%, bila asumsi akan dapat tambahan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,5% pertahun, maka diperlukan bilangan tahun dengan mempergunakan model deret hitung dengan nilai beda 2,5 dan niali dasar 2,97, maka butuh lima tahun waktunya untuk menuntaskan pengangguran yang kita asumsi tadi, dan diakhir tahun kelima atau tahun 2025 harus mencatat pertumbuhan sebesar 15,49%.

Nah, berdasarkan hitung-hitungan yang sederhana ini untuk bisa makmur dengan melihat semua pengangguran (asumsi pengangguran 6,88 juta tidak ada pertambahan) mendapat pekerjaan semuanya dibutuhkan lima tahun dengan asumsi mampu mencatat pertumbuhan yang besar pada tahun kelima dari sekarang rasa-rasanya cuma dapat berharap ada takdir Allah SWT saja, karena secara logika manusia pasti tidak mampu membukukan pertumbuhan sebanyak itu, apalagi keadaan dunia usaha di Indonesia amat banyak faktor yang mempengaruhinya.

Kira- kira bila asumsi tambahan tenaga kerja (berarti pengangguran bertambah) setiap tahunnya 1 juta angkatan kerja dan diasumsikan 6% dari angkatan kerja menganggur, berarti tambahan pengangguran setiap tahun sebanyak 60.000 orang, maka pada akhir tahun 2025 masih mencatat pengangguran sebesar 300 ribu orang, jika asumsi tadi benar.

Oleh sebab itu, mengenai penanggulangan pengangguran di Indonsia bukan pekara mudah apalagi situasi sedang dalam keadaan panedemik Covid-19, maka tindakan penghematan yang dilakukan pemerintah mengalihkan budget dari konsumtif dialihkan untuk belanja ekonomi penciptaan lapangan pekerjaan perlu didukung agar supaya lapangan pekerjaan dapat tercipta terutama usaha-usaha mikro hingga menengah yang tidak banyak butuh modal dapat berkembang ditengah-tengah masyrakat, dan bila hal ini bisa diwujudkan bukan tidak mungkin lapangan pekerjaan akan tercipta luas dan dapat menyerap tenaga kerja, dan target menjadi/mengarah ke negara makmur dan maju pada tahun 2024 atau 2025 bisa tercapai.

Sepertinya pemerintah memiliki banyak pilihan dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat meredam urbanisasi berskala besar ke kota-kota yang bisa menciptakan pengangguran, yaitu mempergunakan alokasi dana desa dipergunakan dengan porsi besar pada penciptaan usaha mikro hingga menengah disetiap desa–desa yang ada, dan optimalkan peran bank daerah di setiap provinsi membiayai usaha mikro dan menengah di provinsi yang bersangkutan dengan catatan tidak adanya KKN ria.

Selanjutnya, dapat dinyatakan bahwa Indonesia memiliki harapan lebih besar dalam membangun ekonominya walaupun didera wabah Covid-19, bila masing-masing pemerintah otonomi bisa merencanakan pertumbuhan usaha mikro hingga menengah dengan cara dilakukan penghematan konsumsi belanja-belanja serimonial dan keberpihakan bank-bank daerah untuk berperan aktif dalam pembiayaan usaha mikro hingga menengah di masing-masing provinsi.

Untuk aksi nyata setiap pembiayaan mikro dan menengah yang dilakukan harus transparan dan akuntabel dan harus dapat diakses oleh masyarakat dan insya Allah dalam waktu dekat ekonomi bangsa dan negara segar dan semarak kembali. Insya Allah tidak lama lagi Covid-19 kalah dan pergi ke negeri asal. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh)

Indeks Berita