Nanggroe

Munawar Liza: Islam Agama Sempurna, tapi Juga Menghargai Keberagaman

Namun, kata dia, dalam perjalanan panjang, Aceh mengalami beberapa hal, ada perang dengan Belanda 1873.

FOTO | IST

ACEHSATU.COM | SABANG – Tokoh Perdamaian Aceh, Munawar Liza mengatakan bahwa Ansor adalah organisasi besar yang pernah terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan dan berlangsungnya Republik Indonesia sampai saat ini.

“Aceh pernah menjadi sebuah negara, sebuah kekuatan asia tenggara dalam bidang ilmu pengetahuan dan perdagangan. Aceh pernah menjadi kiblat nusantara, pernah menjadi batu loncat orang-orang yang akan menuntut ilmu ke luar negeri, pernah membantu masjidil haram utnuk pengelolaannya tatkala negara-negara waktu itu diperintah oleh Daulah Turki Usmani,” katanya dalam acara Kirab Satu Negeri dan doa bersama untuk persatuan bangsa, di Banda Aceh, Minggu (16/9/2018).

BACA: Kirab Satu Negeri, GP Ansor Aceh Ajak Perkuat Persatuan Bangsa

Namun, kata dia, dalam perjalanan panjang, Aceh mengalami beberapa hal, ada perang dengan Belanda 1873.

Ketika Belanda datang ke Aceh dan memaklumkan perang, pemuda dengan spirit Islam yang melawan.

“Makanya organisasi pemuda harus mengikuti sejarah pendahulu. Pemuda-pemuda zaman sekarang jangan merasa sudah sempurna, kadang-kadang kita hanya menghabiskan sedikit uang, tapi pemuda terdahulu menghabiskan nyawa untuk membela masyarakat, negara dan juga Islam. Seperti pada 1873, Pemuda yang ernama Teungku Chit di Tiro, Teungku Chik di Pante Kulu, Teungku Lueng Bata dan semua pahlawan Aceh mereka berdiri menentang penjajahan,” ujanrya.

Selain itu, juga pada 1953, Daud Bereuh menegagkan kesejahteraan masyakat. Tahun 1976, Hasan Tiro dan pemuda lainnya juga berjuang untuk meluruskan ketimpangan yang ada di masyarakat.

“Agama islam adalah agama sempurna, tapi juga menghargai keberagaman.”

Karena itu, isu di setiap daearah, bahkan fatwa di daerah-daerah tertentu mungkin saja berbeda.

BACA: Usulkan Penguatan Aqidah, Bardan Saidi Isi Tausiah Sambut Tahun Baru Islam

“Iman Syafii waktu bermukim di Irak, beliau mengeluarkan fakta terhadap suatu masalah, tapi tatkala beliau pindah ke Mesir, ada perubahan-perubahan tertentu yang sesuai dengan zamannya.”

Demikian degan pemuda di Indonesia, walaupun satu negara, tapi tidak semua masalah menjadi urusan bersama.

“Saya berharap kepada kepada Gerakan Pemuda Ansor, janganlah membawa persoalan-persoalan yang tidak ada urusannya dengan daerah ke daerah-daerah lain. Jadilah perekan umat, datang ke Aceh, pelajari kekayaan Aceh, sentuh tradisional wisdom Aceh, gali apa-apa yang ada di Aceh. Ansor jangan hanya menyebarkan instruksi ke daerah, tapi juga harus button up, ambil persoalan daerah jadikan persoalan nasional, sehingga daerah terbantukan,” pungkas mantan Wali Kota Sabang ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top