Miskin

Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyajikan Aceh menduduki peringkat termiskin di Sumatera pada 2020 lalu setidaknya membuktikan itu.
Miskin
Karikatur @acehsatu.com

ACEHSATU.COM — Tak mudah menjadi miskin, apalagi dengan mimpi yang besar.

Aceh hari ini adalah sebuah paradoks.

Limpahan dana yang mengucur nyatanya tak mampu menjadi stimulus bagi sejumlah program pembangunan yang merata dan berkeadilan.

Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyajikan Aceh menduduki peringkat termiskin di Sumatera pada 2020 lalu setidaknya membuktikan itu.

Apa yang tersaji dalam laporan statistik BPS tentang kemiskinan Aceh menjadi prosa yang sakral.

Lebih suci dibanding slogan-slogan yang – katakanlah – tak begitu penting semacam “Aceh Hebat” dan “Bereh”.

Miskin
Karikatur @acehsatu.com

Dua slogan itu acap kita lihat di baliho setiap kota, media cetak hingga media online.

Seolah ingin menjadi propaganda bagi “keberhasilan” pemerintah.

Tetapi, apa yang disajikan BPS sesungguhnya menjadi refleksi atas kecakapan Pemerintah Aceh dalam capaian program-program yang sedari awal dibangun dengan narasi yang setengah gagah dan setengah bingung.

Bahkan sedikit lucu. Apalagi jika kita kembali membacanya hari-hari ini.

Namun, hingga hari ini kadang masih terdengar narasi dari seorang pejabat tinggi di negeri ini yang menyebutkan bahwa rokok menjadi variabel yang signifikan dalam menjerumuskan Aceh dalam ke jurang kemiskinan.

Pernyataan kiranya lebih mirip semacam stand up comedy.

Jauh dari narasi yang dibangun dengan argumentasi dan tesis yang kuat.

Syahdan, dalam film the Gods Must Be Crazy yang dirilis Jamie Uys tahun 80-an lalu, diceritakan sebuah botol jatuh dari langit (dilempar dari pesawat) ke sebuah kampung primitif di Afrika.

Barang aneh itu lantas di anggap dari tuhan oleh suku Kalahari. Xi yang menemukan lantas menggunakannya untuk beragam keperluan.

 “Kekayaan” baru itu akhirnya menyebabkan pertikaian di antara mereka.

Kekayaan pada akhirnya memang cenderung menjadi sumber pertikaian oleh kekuasaan.

Ia kerap menyeret rakyat dalam jurang kemisikinan. (*)