Miris! Kuliah Daring Bikin Pusing

ACEHSATU.COM – Miris! begitulah yang saya rasakan ketika membaca cerita mahasiswa yang terpaksa berusah payah mencari sinyal internet hingga naik ke menara masjid demi untuk bisa mengikuti kuliah daring yang diselenggarakan oleh kampusnya.

Cerita pilu itu bukanlah isapan jempol belaka, namun itu realita, dan yang mengungkapkan kisah itupun bukan orang sembarangan. Adalah Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Syamsul Rizal, M.Eng saat menjadi narasumber pada seminar yang membahas tentang Quo Vadis: Pendidikan Tinggi di Masa Pandemi COVID-19 Kamis (14/5/2020).

“Ada sebagian mahasiswa kita harus mendaki ke gunung atau naik ke menara masjid untuk mendapatkan sinyal (internet),” kata Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal.

Kisah tragis mahasiswa ketika dipaksa atau terpaksa mengikuti kuliah secara daring dari rumah mereka yang lokasinya jauh dari perkotaan hingga ke pelosok pedalaman seperti yang dialami oleh mahasiswa Unsyiah bukan kasus satu orang saja.

Sebelumnya saya juga punya pengalaman tentang keluhan mahasiswa di daerah barat selatan Aceh yang harus rela naik ke pohon hanya untuk mendapatkan sinyal internet, celakanya dia juga seorang perempuan. Coba Anda bayangkan!

“Pak, mohon maaf saya tidak bisa sering-sering masuk kuliah online, di sini saya susah dapat sinyal dan kadang harus naik ke pohon untuk bisa dapat jaringan pak.” begitu isi pesan Whatsapp yang ia kirimkan kepada saya.

Belum lagi bila kita membahas tentang berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa untuk membeli kuota atau paket internet. Setiap bulannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah, padahal mereka berasal dari keluarga miskin non beasiswa. Pusingkan?

Jadi apa yang dikatakan Prof. Syamsul Rizal itu fakta. Bukan mengada-ada apalagi hanya sekedar cerita. Artinya saya pun bisa membuktikannya sendiri.

Singkat kata saya bisa mengatakan kuliah daring selain menghabiskan banyak uang karena harga internet di Indonesia mahal plus jaringannya tidak merata dan leletnya minta ampun.

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian besar pemerintah, bagaimana memberikan pemerataan pembangunan bagi seluruh rakyatnya. Ketimpangan pembangunan antara daerah kota, desa dan pedalaman kian melebar. Namun sayangnya pemerintah seperti abai dan lepas tanggung jawab.

Menurut informasi rata-rata kecepatan internet di Indonesia, berdasarkan laporan “Digital 2020” mencapai 13,83 Mbps. Sedangkan kecepatan internet fixed di Tanah Air mencapai 20,11 Mbps.

Sementara pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 175,4 juta atau mencapai 64 persen. Itu artinya, dari total 272,1 juta populasi di Indonesia, sebesar 64 persennya telah terkoneksi internet. (*)