Lingkungan

Miris, Daging Primata Ini Dijadikan Umpan untuk Memancing Kepiting

Seekor bekantan (Nasalis larvatus) bersembunyi di rerimbunan di tepi Sungai Hitam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan ini merupakan habitat bekantan. | KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA

Seekor bekantan (Nasalis larvatus) bersembunyi di rerimbunan di tepi Sungai Hitam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan ini merupakan habitat bekantan. | KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA

ACEHSATU.COM, PONTIANAK Populasi primata jenis Bekantan (Nasalis Larvatus) yang hidup di kawasan mangrove di wilayah Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya diperkirakan hanya berkisar 200 hingga 350 ekor. 

Monyet hidung panjang tersebut merupakan primadona endemik asli Kalimantan yang keberadaannya dilindungi undang-undang.

Namun, di kawasan Batu Ampar, nasib satwa tersebut bisa dibilang memprihatinkan. Daging bekantan dikabarkan dijadikan umpan yang digunakan masyarakat memancing kepiting.

Kondisi tersebut diungkapkan Manajer Program WWF Indonesia-Kalimantan Barat, Albertus Tjiu, Rabu (16/3/2016) usai kegiatan Sosialisasi Program Peningkatan Produksi, Restorasi dan Konservasi Mangrove dan Gambut di Hotel Gardenia Resort, Kubu Raya, Kalbar.

Aktivitas masyarakat yang memancing menggunakan daging bekantan tersebut diketahui dari hasil survei dan penuturan masyarakat.

“Untuk perburuan dari investigasi kami sebelumnya, sebenarnya belum clear. Tapi dari perjalanan kerja kami di Kubu Raya, ada indikasi bekantan ini diburu dan malangnya daging bekantan digunakan sebagai umpan untuk memancing kepiting,” kata dia.

Saat ini, pihaknya terus memantau perkembangan populasi bekantan yang berada di wilayah Kabupaten Kubu Raya, khususnya di hutan mangrove Kecamatan Batu Ampar.

“Sampai empat tahun ke depan akan terus dimonitoring, apakah tren jumlah populasi meningkat atau menurun, atau stabil,” kata Albertus.

Albertus menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan BKSDA Kalbar melakukan investigasi terkait perburuan bekantan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi dan mencegah perburuan satwa liar dilindungi di kawasan tersebut.

Untuk mendapatkan data yang lebih valid, WWF Indonesia akan melakukan investigasi ulang terkait temuan tersebut, sehingga bisa diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Penggunaan daging bekantan sebagai umpan memancing kepiting, semakin mengancam keberadaan primata endemik tersebut.

Dalam menyikapi kondisi tersebut, terkait dengan pengelolaan sumber daya alam, perlu adanya semacam edukasi yang diberikan kepada masyarakat.

“Masyarakat perlu diedukasi dan diberi pemahaman, bahwa sebenarnya kepiting itu bisa ditangkarkan. Jadi jangan menggunakan daging satwa liar,apalagi bekantan yang dijadikan umpan pancing,” katanya.(KOMPAS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top