Meski Sudah Dilarang Ulama, Banyak Pemuda Aceh Main PUBG di Warung Kopi

"Peran ulama menjadi semakin strategis karena masyarakat Aceh dikenal sangat religius. Dan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, Aceh memiliki hak untuk menerapkan Syariat Islam secara kaffah yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak"
Ulama aceh larang pubg
Gubernur Aceh Nova Iriansyah (Dok. Pemprov Aceh)

ACEHSATU.COM [ BANDA ACEH Gubenur Aceh menyayangkan masih banyak generasi muda Aceh yang main Player Unknown Battle Ground (PUBG) di sejumlah Warung Kopi (Warkop) di Aceh meski ulama Aceh telah mengeluarkan fatwa haram terhadap PUBG.

Kondisi tersebut diungkapkan Gubenur Aceh, Nova Iriansyah pada pembukaan Musyawarah Besar  (Mubes) Ulama Aceh tahun 2022, di Aula Tgk H Abdullah Ujong Rimba, Komplek Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Senin (7/3/2022) malam.

Penelurusan tamiangsatu.com, game PUBG adalah game online yang disebarluaskan oleh Tencent, di mana jumlah orang yang melakukan unduhan mencapai seratus juta lebih. Sistem bermain PUBG ini last men standing, artinya pemain terakhir yang menang. Pemain itu harus lebih dulu bertahan hidup dari serangan pemain lain.

Baca : Gubernur Heran Masih Banyak Anak Muda Aceh yang Main PUBG, Padahal Sudah Diharamkan

Cara memainkan game PUBG, anda diminta membentuk tim atau bisa juga bermain solo. Nanti akan diluncurkan seratus pemain di sebuah pulau. Keseratus pemain itu harus mempertahankan hidup sampai detik terakhir. Pemain yang bisa bertahan sampai akhir merupakan pemenang dari permainan PUBG.

Kepada pada Gubenur Aceh, menurut Gubenur,  daya rusak permainan ini sangat berbahaya. demi melindungi masyarakat, dirinya acapkali meminta Fatwa dan Taushiyah MPU termasuk fatwa ulama terkait PUBG

Karenanya, ia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian MPU Aceh pada musyawarah besar ulama Aceh tahun 2022 ini.

Menurut Nova, peran ulama menjadi semakin strategis karena masyarakat Aceh dikenal sangat religius. Dan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, Aceh memiliki hak untuk menerapkan Syariat Islam secara kaffah yang meliputi aqidah, syariah dan akhlak.

ilustrasi : Game PUBG

Ditambahkan, tantangan ulama ke depan adalah mempersiapkan dan mendidik generasi muslim yang siap mengemban risalah Islam, sebagai sebuah konsep dalam pikiran, keyakinan yang meresap di dalam hati, disertai pengabdian yang tulus kepada Allah.

Gubernur menegaskan, kehadiran ulama dalam pembangunan sangat dibutuhkan, sebab ulama dalam kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah masyarakat, memiliki peran strategis dalam mencerdaskan dan membimbing umat.

Baca : MPU Tegaskan, Bermain PUBG Bisa Dihukum Cambuk di Muka Umum

“Dalam dunia se modern apa pun, peran ulama tidak akan pernah tergantikan. Itu sebabnya, Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Ulama secara tegas menempatkan posisi ulama pada kedudukan yang sangat terhormat,” kata Nova.

Gubernur juga menyampaikan optimismenya, bahwa Mubes Ulama Aceh Tahun 2022 ini, bukan semata sukses memilih Ketua MPU Aceh untuk masa bakti 2022-2027, tetapi juga menghasilkan rumusan Taushiyah Musyawarah Besar Ulama Aceh, untuk mendukung secara maksimal peningkatan eksistensi peran ulama dalam pembangunan daerah, dan memperkuat pelaksanaan Syariat Islam menuju Aceh bermartabat (*)