Meski Disakiti Rakyat Aceh Tidak Dendam, Mengapa?

Oleh: Dr. Zainuddin, M.Si

ACEHSATU.COM – “Jangan beritahukan kegundahan hati atau kesusahanmu kepada orang. Tetaplah tersenyum meski sesungguhnya dirimu sedang merasa sakit.”

Ungkapan ini setidaknya dipraktekkan dalam keseharian sebagian umat pada jaman modern ini, terutama di kawasan yang mempraktikkan hukum syariah seperti Aceh.

Maknanya adalah kekacauan hati dan penderitaan itu tidak pernah diumbar, malah sebaliknya menampakkan kebahagiaan, tersenyum, biasa memberi salam, menjawab salam, senang melantunkan ayat-ayat suci Alquran di masjid-masjid atau surau-surau.

Derita panjang semasa konflik Aceh antara pemerintah Indonesia dengan pejuang GAM telah memberi inspirasi bagi rakyat Aceh untuk bisa bertahan hidup dalam situasi bising peluru dan lalu lalang Panser (tank) tentara tanpa henti.

Ketika rakyat diwajibkan menaikkan bendera merah putih di depan rumah masing-masing dan bahkan harus berjejeran di pinggir jalan dipagi hari dan menurunkannya di sore hari.

Pada saat itu rakyat Aceh terjebak pada dua kekuatan di satu sisi harus mengikuti himbauan dari pasukan Indonesia dengan mempersiapkan bendera merah putih dan mengibarkannya, tetapi disisi lain ada rasa takut apabila dari pihak kontra dalam hal ini Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akan mempermasalahkan tindakan tersebut.

Namun, rakyat Aceh sebagai penganut Islam taat tetap yakin bila langkah, rejeki dan maut merupakan takdir dari Allah SWT sehingga semua himbauan dari dua belah pihak pun dilakoni tanpa sedikit pun tersirat rasa ragu.

Begitu pula dengan ibu-ibu di Aceh terutama di kampung halaman penulis di Kecamatan Meureudu Pidie Jaya pada saat itu selalu mengingatkan kepada putra-putrinya sebelum berangkat ke sekolah untuk menaikkan bendera merah putih, baik di depan rumah maupun di pinggir jalan sebagaimana diperintahkan.

Walaupun dengan risiko pada saat itu bisa kehilangan nyawa karena ada kelompok yang kontra.

Dari perkara ini bisa dimaknai bahwa betapa cintanya anak negeri Serambi Mekah pada Sang Saka Merah Putih, betapa gejolak hatinya dilawan hingga tak peduli dan siap menerima risiko fatal sekalipun demi berkibarnya bendera merah putih di tanah rencong.

Kemudian, para suami dan anak laki-laki remaja diwajibkan pula untuk ronda malam di pos-pos jaga (pos Kamling) yang sudah dibuat secara swadaya di malam hari dan bahkan ada yang wajib piket di siang hari.

Betapa pilunya hidup para laki-laki di Aceh kala itu yang kesehariannya mencari rejeki di siang hari dan harus bergadang di malam hari tanpa kenal lelah.

Karena sering para bapak-bapak dan laki-laki remaja mendapat hukuman dari aparat keamanan yang berpatroli jika ditemukan tertidur pada saat piket penjagaan di pos-pos jaga malam.

Ada satu cerita yang menyedihkan pada saat itu Abu saya (sebutan Ayah bagi orang Aceh) di Kemukiman Beuracan Meureudu Kabupaten Pijay mendapatkan hukuman push up, jalan di tempat bersama anggota regu jaga malam lainnya padahal beliau sedang menderita batu ginjal dan gangguan paru-paru namun harus menerima hukuman tersbut akibat tuduhan kesalahan.

Abu saya dan teman-temannya tidak sedikitpun ada kekecewaan dan marah sebab memang tidak ada pilihan lain apalagi berargumentasi sehingga mereka pasrah menerima resiko.

Pernah suatu waktu saat beliau masih hidup saya bertanya tentang hukuman yang mereka terima dari aparat Indonesia di malam tersebut, beliau tersenyum dengan keriput dahi nya yang terlihat seakan memberi jawaban menerima dengan tulus tanpa dendam atas perlakuan aparat. Beliau bahkan tidak pernah mengingatnya lagi.

Banyak para orang tua dan laki-laki remaja yang secara masif mendapatkan tekanan hidup pada saat itu sudah terlebih dahulu dipanggil menghadap Rabb nya sebelum masa damai disepakati berupa MoU Helsinki, tetapi saya yakin seyakinnya bahwa mereka-mereka tidak sedikitpun menyesali terhadap apa-apa yang pernah mereka terima pada saat konflik Aceh tempo dulu.

Semisal ada seorang bisu yang bernama Mansur Bin Ibrahim yang harus meregang nyawa karena konflik Aceh, dimana dia sebenarnya hanya seorang tuna rungu yang bisu yang hari-harinya hidup secara mandiri dengan cara mencari ikan di sungai Beuracan untuk dijual disamping dibawa pulang untuk keponakannya dan saya salah satu keponakannya.

Kami harus mengotong mayatnya di suatu magrib karena ada dua peluru yang bersarang didadanya, betapa magrib itu kepiluan yang amat sangat kami rasakan terlebih dia tak ada perbuatan salah yang diperbuat tetapi harus terjadi seperti itu.

Namun, yang paling membanggakan kakak dan adik-adik serta keponakan bahkan keluarga besarnya tidak sedikitpun memilki dendam dan menyesali atas perkara itu, karena yang terucap adalah katrok hak (sudah janji Allah) mautnya seperti ini.

Subahnallah kembali ya Allah betapa hati rakyat Aceh benar-benar tidak tersakiti sedikit pun dengan perkara-perkara duniawi, ikhlas seluruhnya karena Allah.

Selanjutnya, setelah damai antara Aceh dan Indonesia terjalin melalui penandatanganan MoU di Helsinki yang kini sudah berusia lebih kurang lima belas tahun, tiba-tiba datang lagi ujian yang tak kalah dahsyat yakni Covid-19 yang amat menakutkan itu.

Tetapi yang terlihat di Aceh hal itu hanya perkara kecil saja. Banyak kerabat dan sahabat berdiskusi dengan saya tentang wabah ini bila secara kacamata teori dunia sungguh menakutkan akan tetapi rakyat Aceh memandangnya itu bentuk teguran dari sang Pencipta yang tidak perlu ditakuti, melainkan harus introspeksi diri kesalahan apa yang sedang terjadi. Begitu ringan jawaban yang diberikan.

Subhanallah, betapa orang Aceh ini berpegang teguh kepada nilai tauhid yang sangat kuat sehingga tak mengherankan ketika di tempat lain takut bertarawih ke masjid namun di Aceh malah jamaah membludak hingga menjadi viral keseluruh dunia.

Ketika warung-warung kopi (cafe) di tempat lain sepi namun di Aceh ibarat tidak ada Covid-19 tetap sesak ramai para orang laki-laki berdiskusi ringan sambil menunggu waktu azan tiba atau sekedar beristirahat dari lelahnya mencari amal (bekerja).

Benar-benar orang Aceh tidak pernah tidak bahagia selagi nyawa dikandung badan, dan ini bukan hanya isapan jempol terbukti bagaimanapun dihadang, diterkam, dan malah dikeroyok oleh ujian masih saja bisa tersenyum. Karena semua perkara di dunia ini diyakini sebagai takdir dari Allah Yang Maha Kuasa.

Muliakan ya Allah anak keturunan Aceh dengan jiwa bersih sebersih yang Engkau kehendaki, jadikanlah rakyat Aceh tanpa mengeluh karena perkara duniawi, dan agar selalu terlindungi dari fitnah dan cela.

Kokohkan keimanan anak keturunan kami pada yang Engkau ridhoi ya Rabb hingga akhir zaman, dan semoga bala Covid-19 cepat berlalu dan Engkau ambil kembali dari bumi pertiwi. Amiin. (*)

(Penulis Adalah Dosen USM Aceh Asli Putra Pijay)