Merger Bank Syariah, Peluang atau Ancaman?

Bank syariah yang kecil-kecil akan menghadapai kesulitan untuk berkompetensi terutama dalam menghadapi integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN sektor keuangan pada tahun 2020.
Merger Bank Syariah
Mulyati.

Merger Bank Syariah, Peluang atau Ancaman?

Oleh: Mulyati

ACEHSATU.COM – Cikal bakal munculnya perbankan syariah indonesia pada tahun 1991.

Sampai saat bisa dikatakan sudah mencapai dua dekade yang menawarkan produk keuangan dan investasi dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan bank konvensional yang sudah lama ada.

Meskipun masih dianggap “newbie”, perbankan syariah berkembang cukup pesat.

Bahkan bank-bank konvensional di Indonesia kini ikutan tren dengan mendirikan institusi syariah atau unit usaha syariah sendiri.

Hal ini dilakukan untuk memikat lebih banyak nasabah yang tertarik dengan keunggulan bank syariah.

Peran ekonomi syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia diperlukan integrasi setiap elemen ekonomi syariah yang tercermin dalam ekosistem ekonomi syariah yang kuat.

Pengembangan sektor keuangan syariah harus selaras dengan kebutuhan penguatan sektor rill, terutama industri halal, usaha-usaha syariah serta pembangunan infrastruktur agar tercipta sinergi berkelanjutan.

Jumlah bank syariah di Indonesia sebanyak 14 Bank Umum Syariah (BUS) dan 20 Unit Usaha Syariah (UUS), sedangkan Bank Umum Konvensional (BUK) mencapai 96 bank.

Merger Bank Syariah
Mulyati.

Proporsi jumlah BUS dibandingkan dengan BUK adalah 14,6 tetapi market share bank syariah hanya 6,18% dengan total aset per Juni 2020 sebesar Rp 545 triliun.

Hal ini indikasi bahwa bank syatiah memiliki size yang relatif kecil.

Strategi Merger (Hal 2)