Menjilat Ludah Sendiri, Ini Maknanya

Seorang kakek ditemukan dalam kondisi telah meninggal dunia di Baubau, Sulawesi Tenggara.
Foto - Ilustrasi penemuan jenazah pria tua. | Foto: Thinkstock/detikcom

Menjilat Ludah Sendiri

ACEHSATU.COM – Menjilat ludah sendiri. Penggalan kata ini mungkin cocok disematkan kepada orang yang tidak menyadari atas ucapan-ucapannya.

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa setiap perkataan yang diucapkan kepada orang lain sesungguhnya pasti akan kembali kepada dirinya.

Meski sudah dijelaskan dalam sejumlah riwayat bahwa jika kita berkata baik untuk orang lain maka kebaikan itu akan kembali kepada diri kita.

Begitu pula keburukan, sekecil apapun perkataan buruk kepada orang lain maka keburukan itu pula yang bakal kita tuai bahkan bisa lebih buruk dari perkataan kita sebelumnya.

Namun hal itu tidak semua orang meyakini sebagai suatu keniscayaan. Bahkan sebaliknya menganggapnya sebagai mitos atau sesuatu yang tidak terjadi.

Dalam khazanah peribahasa Indonesia, terdapat sebuah kalimat nan masyhur. “Menjilat ludah sendiri.” Dari berbagai sumber, arti peribahasa tersebut adalah seseorang yang menarik kembali pernyataannya (membatalkan perjanjian) baik karena terpaksa maupun karena kebiasaan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari Rasulullah Saw bersabda bahwa, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Penting untuk menjaga lisan. Sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang.

“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (H.R. al-Bukhari).

Berkata buruk kepada orang lain dapat mengundang kebinasaan

Orang yang tersakiti oleh ucapan kita akan melakukan pembalasan dengan cara mereka sendiri termasuk kemungkinan melakukan kekerasan secara fisik.

Selain mendatangkan kerugian di dunia, perkataan buruk yang diucapkan seseorang juga akan mendapatkan balasan di hari akhirat.

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988).

Oleh sebab itu penting bagi kita untuk selalu menjaga lisan dengan mengucapkan hal-hal yang baik dan dipikirkan terlebih dahulu akan dampak dari ucapan kita.

Terkadang dalam kehidupan sehari-hari apa yang kita nilai baik belum tentu orang lain akan menilai sama.

Karenanya baik yang dimaksud di sini adalah jangan sampai ucapan kita menyakiti perasaan orang lain atau dapat menjatuhkan harkat dan martabat nya di depan umum. Itulah indikator umum yang dapat dijadikan tolok ukur.

Dewasa ini sudah banyak kita temukan orang-orang yang dengan begitu mudahnya mengeluarkan berbagai ucapan untuk orang lain. Tidak peduli apakah si yang dibicarakan suka atau tidak.

Apalagi dalam dunia politik, banyak aktor politik yang asal nyablak dalam berkomunikasi. Terlebih bila terkait lawan politiknya. Tuduhan miring atau negatif sekali pun mau diucapkan.

Karena bersifat menuduh maka sering seperti berbicara tanpa bukti. Akibatnya pihak yang dituduhkan pun meminta klarifikasi.

Contoh kasus yang paling hangat tentang buruknya ucapan yang menjurus kepada menuduh adalah Ike Muti yang berkata tanpa dasar terhadap Pemerintah Provinsi DKI (berita viral, cari sendiri di internet).

Akhirnya Ike Muti meminta maaf kepada Pemprov DKI atas ucapan nya yang tidak berdasar setelah disomasi oleh pihak terkait.

Itulah pelajaran berharga bagaimana agar setiap orang mau berpikir dulu sebelum mengeluarkan kata-katanya. Sehingga aksi menjilat ludah sendiri tidak terjadi. (*)