oleh

Meningkatkan Daya Saing Melalui Peningkatan Pembangunan Kualitas SDM

-Kolom-285 views

ACEHSATU.COM – “Membangun bangsa adalah membangun generasi baru yang lebih unggul dari generasi sebelumnya, dan membangun manusia baru”.

Demikian sepenggal kalimat bijak mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono. Menurut Boediono, manusia Indonesia harus unggul secara fisik maupun mental, keduanya harus berjalan beriringan.

Pandangan Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. Boediono tersebut disampaikan sebagai bagian dari rangkaian acara Grand Launching BI Institute pada tanggal 22 Agustus 2016 silam, namun ternyata kalimat tersebut masih relevan hingga kini.

Bahkan pula program pembangunan manusia menjadi prioritas Presiden Joko Widodo hingga 2024 nantinya.

Saat Jokowi hadir pada acara Kompas 100 CEO Forum yang videonya diunggah di kanal YouTube Kompas TV, Rabu (27/11/2019), ia menjelaskan lima program kerja prioritas pada periode ke dua masa kepemimpinannya seperti dilansir tribunnews.com, (28/11/2019).

Salah satu program prioritas yang menempati urutan pertama dalam masa kerja lima tahun ke depan pada masa pemerintahan Jokowi-Ma’ruf adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Walaupun begitu, pembangunan sektor infrastruktur juga terus dilanjutkan di Indonesia.

Pentingnya peningkatan pembangunan manusia di Indonesia memang bukanlah pemikiran baru. Isu ini sudah sejak lama disuarakan oleh berbagai elemen masyarakat agar pemerintah memiliki strategi yang tepat dalam memperbaiki kualitas SDM.

Alat yang sering digunakan untuk mengukur pembangunan manusia yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI).

Menurut wikipedia IPM/HDI adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di angka 71,39 sepanjang 2018. Angka tersebut meningkat sekitar 0,82 dibanding sebelumnya sebesar 70,81 pada 2017.

Berdasarkan standar Badan Program Pembangunan United Nations Development Programme (UNDP), indeks tersebut menunjukkan IPM Indonesia berada di level yang tinggi.

Meskipun begitu, di ASEAN, posisi Indonesia ada diperingat ke enam dengan skor 38,61. Sedang Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 77,27. Peringkat berikutnya disusul oleh Malaysia (58,62), Brunei Darussalam (49,91), dan Filipina (40,94).

Hasil tersebut merupakan Laporan yang dirilis oleh INSEAS yang menyusun pemeringkatan dengan penekanan penting pada pendidikan.

Beberapa aspek pendidikan yang menjadi ukuran di antaranya pendidikan formal, vokasi, literasi baca-tulis-hitung, peringkat internasional universitas, jurnal ilmiah, mahasiswa internasional, relevansi pendidikan dengan dunia bisnis, jumlah lulusan teknisi dan peneliti, jumlah hasil riset, dan jurnal ilmiah.

Rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia telah mempengaruhi daya saing di tingkat global, artinya rendah pula tingkat daya saing.

Bisa dibilang bahwa daya saing SDM di Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan negara lain. Indonesia berada di urutan 67 dari 125 negara di dunia dalam peringkat GTCI 2019.

Oleh karena itu sektor sumber daya manusia penting untuk menjadi prioritas pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing. Aspek ini menjadi faktor kunci untuk membawa Indonesia menjadi salah satu negara industri, dan bersaing dengan negara-negara maju di dunia.

Guna mencapai visi itu, pemerintah memang telah menetapkan berbagai langkah dan strategi. Katakan saja di Kemdikbud misalnya.

Menteri Nadiem Anwar Makarim telah menyusun lima kebijakan sektor pendidikan untuk mewujudkan target pemerintah dalam pembangunan SDM.

Pendidikan menurut Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15/1974 adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmaniah dan rohaniah, yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luar sekolah, dalam rangka pembangunan persatuan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Adapun tujuan pendidikan sebagaimana tercantum dalam Tap MPR No 11/1993 untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional, bertanggung jawab dan produktif, serta sehat jasmani dan rohani.

Jadi dapat kita lihat bahwa persoalan pembangunan sumber daya manusia Indonesia sudah diamanatkan oleh Konstitusi kita sejak dulu. Maka pertanyaannya mengapa SDM Indonesia masih terus tertinggal?

Selain itu, bila pemerintah saat ini akan memfokuskan prioritas pembangunan pada sektor pendidikan, pelatihan, dan memperbaiki kualitas manusia Indonesia sehingga jangan lupa bahwa urutan pertama bagaimana menjadikan manusia Indonesia manusia yang religius, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa bukan mengembangkan sekularisme. Unsur karakter menjadi lebih penting.

Setelah membangun manusia Indonesia yang berkeyakinan kepada Tuhan maka berbagai tantangan akan relatif lebih mudah untuk dihadapi dan diselesaikan.

Sebab keyakinan tersebut dapat melahirkan model SDM dengan cara berpikir yang positif dan tawadhu. Konsekuensinya manusia Indonesia memiliki sikap mental pantang menyerah dan tidak mudah putus asa.

Selanjutnya baru dikembangkan kecakapan dalam aspek keterampilan yang berbasis teknologi sebagai satu keunggulan bersaing.

Cara ini bisa dicapai dengan strategi memperbanyak vokasi dan pelatihan kerja. Menginternalisasi teknologi baru dalam budaya masyarakat Indonesia terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda.

Dalam konteks human resource development, good will pemerintah tidak hanya sebatas untuk pencitraan dan bertujuan mengambil keuntungan politik dalam jangka pendek saja. Tapi dengan niat berbakti untuk negara.

Karena ini adalah persoalan bangsa dan harga diri rakyat Indonesia di mata internasional. Maksudnya, bagaimana bangsa lain dapat menghargai Indonesia bila SDM nya tidak memiliki keunggulan.

Maka harus benar-benar berangkat dari ketulusan ingin membawa negeri ini keluar dari lingkaran setan yang telah lama membelenggu. Seperti kebodohan yang dipelihara.

Membangun SDM memang tidak mudah. Presiden Jokowi pun mengakui bila hal itu sebagai pekerjaan yang sulit.

Tidak mudah karena memerlukan berbagai sumber daya lain sebagai pendukung utama yang tidak sedikit.

Misalnya anggaran, strategi, dan sarana prasarana lain atau infrastruktur yang dibutuhkan. Sehingga tidak seperti secepat membalik telapak tangan.

Balik lagi bila merujuk perkataan Pak Boediono di awal. Bahwa yang namanya pembangunan manusia harus meliputi fisik dan mental. Dengan istilah lain disebut jiwa dan raga.

Aspek ini termasuk kesehatan dan nilai-nilai moralitas yang terdapat pada manusia Indonesia. Jika berhasil maka barulah disebut unggul. Semoga Indonesia bisa. (*)

Komentar

Indeks Berita