Mengulik “Perdana Menteri” Baru Aceh Darussalam

Kononnya beliau mengklaim telah dipilih oleh majelis Negara Acheh Darussalam (NAD) pada 22 Agustus 2020 lalu di Aceh.
Aceh Darussalam
Bukhari Raden. Foto HO/ACEHSATU.com

Hadirlah nama seorang aktivis GAM yang hidup di pengasingan.

Di waktu yang sama sempat menulis beberapa buku tentang perjuangan kemerdekaan Aceh.

Dia adalah Yusra Habib Abdul Ghani, berdomisili di Denmark serta sejak 1990 an tercatat sebelumnya bermukim di Malaysia dengan salah satu statusnya sebagai pengungsi politik yang diiktiraf oleh UNHCR, Kuala Lumpur.

Saat di Denmark, dia berkampanye bersama GAM hingga menjelang penandatanganan perjanjian MoU Helsinki.

Gerakan Aceh Merdeka
Sosok Dr. H. Yusra Habib Abdul Gani, SH. Foto HO/ACEHSATU.com

Pada sesi terakhir perjanjian itu, menurut pengakuannya, dan dua rekan seperjuangannya menarik diri.

Menurutnya karena perjanjian itu sendiri tidak sesuai dengan akidah perjuangan yang selama ini di perjuangkannya.

Setelah penandatanganan perjanjian antara RI dan GAM itu selesai dia pernah mendeklarasikan sebuah organisasi yang menurutnya sebagai organisasi penyelamat perjuangan.

Namun, ide itu tenggelam tanpa suatu titik temu.

Selain itu, paska MoU Helsinki, diantara lain terdapat Markas GAM Eropa di bawah komando dr. Husaini Hasan yang aktif melanjutkan perjuangan Aceh Merdeka dan sangat kritis terhadap cara-cara Malik Mamud cs bekerja.

Beberapa tahun kemudian lahir lagi organisasi pejuang seperti Komite Persiapan Aceh Merdeka Demokratik (KPAMD) yang dipimpin oleh sejumlah pemuda Aceh secara kolektif, dan seterus nya GIAS (Government of Independence of Acheh Sumatra) yang dipimpin oleh veteran 76, Ir Teuku Asnawi Ali di Amerika.

Pada musim Semi 2012 di Denmark, organisasi ASNLF diaktifkan kembali melalui musyawarah Bangsa Aceh dari perwakilan berbagai negara. 

Jauh hari sebelum rapat dilaksanakan, atas inisiatif komite dan panitia oleh Ariffadhillah dan kawan-kawan, mereka mengundang seluruh elemen bangsa Aceh di manapun berada seperti dari Amerika Serikat, Australia, Norwegia, Jerman, Belanda, Swedia, Malaysia, dan tentu saja Denmark sebagai tuan rumah turut di undangnya.

Malangnya, Yusra Habib yang tinggal di Denmark tidak terlihat di situ, sedangkan dari Amerika dan Kanada sanggup mengirimkan perwakilannya.

Dalam hal ini tidak memungkinkan hadir dari Aceh dikarenakan alasan keamanan sehingga alternatifnya mengikuti melalui jaringan alam maya.

Seiring dengan waktu ASNLF sering berinteraksi di tingkat internasional dan kemudian di waktu yang sama mencetak generasi mudanya untuk mencari pengalaman di even-even internasional. 

Salah satunya seperti di kantor PBB Jenewa serta even pelatihan kader diplomat yang digagas oleh UNPO.

Salah satu hasil pelatihan tersebut, aktivis ASNLF kerap hadir untuk mengahadang Indonesia dalam memutar balik fakta dan opini di mata masyarakat internasional terutama yang berkaitan dengan isu Aceh.

Perdana Menteri Pro Kontra (Hal 3)