Menghibur Diri Dengan Melihat Kawan Lebih Buruk Dari Kita

Oleh: Dr. Zainuddin, SE.,M. Si.

ACEHSATU.COM – Bagi yang sekolah tahun 1990 an kebawah pasti masih ingat bagaimana keadaan pada saat pembagian rapor kenaikan kelas. Banyak orang tua mencerca anaknya kenapa nilainya bisa merah dua mata pelajaran.

Namun dengan sigap si anak menjawab dia lebih baik dari kawannya dengan alasan kawannya itu merah tiga pelajaran dan bahkan ada yang merah empat pelajaran.

Ternyata pola tingkah anak-anak yang sekolah tempo dulu masih diadopsi juga untuk banyak hal di zaman modern saat ini.

Pola menghibur diri dengan membandingkan bandingkan dengan yang lebih jelek darinya agar masih dapat meyakinkan dan muncul rasa percaya diri, walaupun sesungguhnya yang demikian itu sering para ustadz dan ustadzah memberi siraman termasuk tidak benar perilaku yang salah dengan membandingkan dengan yag lebih salah atau membandingkan dengan minim prestasi dengan yang lebih minim lagi.

Fenomena yang teramati dalam masa wabah covid-19 banyak sekali kejadian-kejadian yang membuka tabir ketidakmampuan pemangku kepentingan dalam menyelesaikan dengan cara cepat, tepat dan terukur.

Salah satu fenomena yang teramati umpamanya dalam masalah ekonomi begitu terdampak dari terjadinya wabah covid-19 yang melanda dunia. Hampir seluruh unit bisnis terkenak imbas, ada yang merumahkan karyawannya dan bahkan ada yang mem PHK karena bisnis harus tutup sementara waktu atau untuk selamanya.

Begitu pula dengan program-program proyek pemerintah di Indonesia dan mungkin juga untuk negara-negara lain di dunia yang harus ditunda untuk sementara waktu karena dananya dialihkan kepada penanganan covid-19.

Akibat penundaan atau bahkan penghapusan program pemerintah mengakibatkan banyak unit usaha yang inti usahanya dari tender-tender proyek pemerintah harus melemparkan kain putih tanda menyerah alias tutup untuk semenetara waktu hingga batas waktu yang tidak bisa diprediksi.

Ada kejadian yang membuka mata publik ketika seorang wali kota (kalau tidak salah wali kota Surabaya Negara Indonesia)  melakukan sujud di kaki seoarang dokter dengan alasan bahwa yang berasangkutan merasa tidak mampu menghadapi kejadian luar biasa wabah covid-19 karena ada perdebatan-perdebatan yang memnacing emosi si wali kota.

Menurut saya tindakan tersebut sedikit banyaknya merupakan tindakan gentlemen seorang pemimpin secara terbuka tidak merasa malu mempertontonkan keadaan yang terjadi dari akibat perang batin dan kekesalan dari pola manajemen penanganan yang lebih kurang tidak terkoordinasi dengan baik dan saling menyalahkan.

Tindakan seperti itu didalam demokrasi sesuatu yang tidak boleh dipandang sebagai tindakan yang tidak benar, karena konteksnya adalah dilakukan secara terbuka dan spontan akibat emosional yang muncul dari akumalasi kekesalan menyangkut bentuk tanggung jawabnya kepada masyarakat yang dipimpin, dan kita sebenarnya ingin melihat dari daerah otonom lain di Indonesia secara totalitas energinya diperuntukkan kepada penanggulangan wabah covid-19 saat ini tanpa ada sandiwara berlebihan yang terus di manage agar terlihat perfect.

Ada kejadian yang paling viral di Indonesia ketika ada publis tentang presiden memarah-marahi pembantunya tentang lambannya realisasi budget dalam masa pendemik ini, lagi-lagi kejadiaan tersebut sebenarnya diwajarkan dalam demokrasi.

Karena demokrasi itu sendiri harus apa adanya tanpa dipoles agar terlihat sempurna, dan mengenai emosional sang presiden itu hingga dia harus marah bila benar bukan suatu sandiwara belaka, maka tindakan itu pantas diapresiasi dengan baik karena sesungguhnya terbaca bahwa pemimpin ingin yang terbaik untuk rakyatnya.

Sebenarnya dalam sistem presidential seorang presiden memiliki kekuasaan yang luas dalam tindakan-tindakan yang dibenarkan oleh undang-undang, dan bisa leluasa memerintahkan dan mengambil tindakan lain termasuk memecat dan membubarkan apa-apa yang diinginkan selama dibenarkan oleh undang-undang, dan setiap keputusan yang diambil oleh presiden tidak perlu ada rapat-rapat kabinet dan bisa langsung diambil keputusan yang terbaik menurutnya dan tidak menyalahi undang-undang, maknanya keputusan seorang presiden dalam sistem presidential mutlak ada di tangan presiden.

Seterusnya, yang membuat publik urut dada ketika ada pasangan bupati dan istri sebagai ketua dewan perakilan rakyat daerah tertangkap tangan oleh badan antirusuah KPK akibat suap, dan hal ini memori saya teringat kepada Gubernur Aceh periode ini yang telah divonis bersalah dan harus nginap diruang kelas tidak boleh pulang selama empat belas semester secara intensif untuk perenungan.

Terhadap kejadian terakhir ini memperlihatkan kepada public betapa taka bisa dipercayanya elit dalam prilaku keseharian, rupanya kemewahan dan stautus sosialnya itu semua menyalahi atauran, maknanya adalah Indonesia belum mampu menciptakan clean government.

Mungkin disini yang perlu diadakan menurut saya adalah agreement atau perjanjian tertulis bagi segenap gubernur dan bupati terpilih didepan dewan perwakilan diatas materai tentang sanksi-sanksi yang akan diterimanya jika dalam kepemimpinannya tidak clean government.

Pada saat ini banyak wakil dari gubernur dan wakil dari bupati yang gubernur dan bupati sudah dua periode akan mencalonkan diri sebagai bupati pada pilkada mendatang dan diam-diam mereka secara tak langsung mulai kampanye terutama yang mendapat dukungan dari sang gubernur dan bupati itu sendiri dan bahkan secara terbuka diungkapkan ini dia penerusnya, ini juga termasuk meneruskan sikap prilaku penerima suap masa depan.

Saran saya jika wakil gubernur dan wakil bupati sudah juga menjabat dua periode tidak dibenarkan mencalonkan dirinya sebagai gubernur dan bupati.

Hal ini sesuai dengan memori kita tertuju kepada bapak wakil presiden periode lalu karena sudah dua periode tidak bisa dicalonkan lagi, mungkin departemen dalam negeri bisa mengontrol hal-hal seperti ini demi tercipta clean governmet.

Kembali lagi ke cerita bagaimana cara menghibur diri dengan melihat keburukan kawan dalam masalah ekonomi.

Banyak ungkapan ditengah masyarakat terutama di Aceh tentang bagamaina prilaku masyarakatnya selalu melihat kawannya yang ada di luar Aceh sekarang sudah hidup ketat sekali protokol kesehatan sehingga mereka merasa lebih baik dan kerap kali mengabaikan pola protokol kesehatan dalam kesehariannya.

Begitu pula tentang dalam bidang ekonomi mereka selalu melihat bahwa daerah lain sudah banyak krasak-krusuk tengan pengangguran tetapi di Aceh masih santai-santai saja dan merasa lebih hebat karena terbukti rakyat paling santai yang kita jumpai hampir seluruh warung-warung kopi di seluruh Aceh dengan asyik berbahagia walaupun sesungguhnya kehidupan ekonomi amat rentang krisis.

Dan yang paling heran kita juga melihat pemangku kepentingan di Aceh termasuk paling santai dalam masa pandemik sekarang ini, tidak adak kesibukan seperti yang ada di daerah lain, maknanya masih menikmati kebahagian karena merahnya sedikit dibandingkan dengan daerah lain di luar Aceh yang merahnya banyak.

Ditingkat nasional masih juga menggunakan pola prilaku anak sekolah tempo dulu dalam menanggapi keterlambatan ekonomi pada masa pandemi dunia sekarang ini. Kalau tiadak salah elit negeri selalu membandingkan dengan negara lain tentang keadaan ekonomi yang terjadi, dan terakhir betapa bangganya elit memaparkan bahwa negara diluar sana jauh lebih negatif pertumbuhan ekonominya dibandingkan Negara Indonesia, bahkan negara maju sekalipun sekelas negara-negara Eropa dan Amerika.

Begitu juga dalam hal keterpaparan covid-19 selalu kita dibuat terhibur dengan membandingkan negara lain jauh lebih banyak dibandingkan kita dan setrusnya dan seterusnya.

Pola mencari kelemahan kawan demi membela diri memang tidak dilarang sepanjang tidak dijadikan titik tujuan kepuasan.

Boleh-boleh saja kita menghibur diri dengan melihat kawan jauh dibawah kita, namun kita harus tetap tidak puas atas capaian tersebut sambil memperbaiki diri dan jangan samapai menjadi alat pembelaan yang terus menerus digunakan untuk dijadikan seuatu prestasi.

Sebenarnya dalam ekonomi tidak mengenal berprestasi selama masih merah (selama belum tercapai target), tidak ada istilah kita lebih baik karena tumbuh minus 3 persen dibandingkan orang lain minus 5 persen, dan dua-duanya adalah tidak baik itu yang benar.

Semoga kedepan tidaklah kita berbangga seperti ketika anak-akan sekolah dasar tempo dulu, bangganya karena dia hanya memiliki nilai merah dua mata pelajaran sedangkan kawannya merah tiga mata pelajaran dan seterusnya dan seterusnya. Insya Allah dengan selalu mempebaharui wudhu akan terhindar dari wabah covid-19 dan masa depan Negara Indonesia akan gemilang dan berjaya jika disetiap elit negeri terhindar prilaku korupsi. Amiin. (*)