Mengharapkan Elit Peduli Pada Rakyat

Oleh: Dr. Zainuddin,SE.,M.Si.

ACEHSATU.COM – Sebelum kita bercerita lebih jauh, mari kita klasifikasi rakyat atau masyarakat kedalam tiga kategori yaitu masyarakat jelata, masyarakat menengah dan masyarakat elit.

Masyarakat jelata adalah rakyat yang tidak lebih stok kebutuhannya bertahan seminggu atau pendapatannya bersifat sangat rendah, masyarakat menengah adalah masyarakat yang memiliki pendapatan dan harta dengan stok mencukupi kebutuhannya dan memiliki kemampuan untuk kebutuhan tersier lainya.

Sedangkan masyarakat elit adalah masyarakat memiliki kemampuan harta benda yang lebih atau disebut juga masyarakat kaya atau masyarakat pebisnis yang sukses secara materi dan biasanya konsumsi masyarakat elit ini cukup tinggi serta memiliki usaha yang besar dan sering diistilahkan dengan kelompok borjuis.

Berdasarkan tiga kategori masyarakat tersebut masing-masing berbeda harapannya kepada pemangku kepentingan negara atau daerah.

Masyarakat jelata sebenarnya yang kehidupannya kebanyakan berada sejajar dengan garis kemiskinan dan malah cenderung akan berada dibawah garis kemiskinan serta masyarakat miskin memiliki berjuta harapan kepada penyelenggara negara dan penyelenggara daerah.

Bagi rakyat jelata sebenarnya amat sangat sederhana harapannya yaitu terciptanya lapangan kerja agar mereka bisa mendapatkan pekerjaan demi memperoleh pendapatan dalam rangka pemenuhan kebutuhannya, karena bagi mereka berpikir sangat sederhana yang penting ada pekerjaan yang mendatangkan rejeki cukup untuk memberi makan tanggungannya.

Harapan yang lain, mereka hanya ingin yang serba murah, mulai murahnya harga-harga bahan pokok, murahnya biaya pendidikan dan murahnya perumahan sangat sederhana.

Kenapa bagi mereka berharap harus murah, karena merak sadar betul dengan tingkat pendapatan mereka, seperti keinginan mereka menyekolahkan anak-anaknya kebiasaan terganjal karena biaya yang tinggi, dan rata-rata dari mereka belum memiliki rumah sendiri terutama yang urban di kota-kota sangat menginginkan kepada elit negeri dapat memformulasikan rumah yang sanggup mereka beli.

Selanjutnya, mereka rakyat jelata petani biasanya tidak memiliki lahan persawahan atau lahan perkebunan dan mereka hanya sebagai pekerja harian atau buruh tani.

Jadi harapan mereka sederhana yaitu mereka ingin ada kebijakan dari elit negeri memberikan lahan kepada mereka untuk tempat bercocok tanam, karena dari sejauh amatan yang ada lahan-lahan perkebunan hampir semuanya dikuasai oleh kaum borjuis alias yang memiliki modal.

Sedangkan petani atau buruh tani hanya kerja harian sama kaum borjuis atau dengan kata lain tueng upah, dan sepertinya begitu juga masyarakat jelata yang mendiami pesisir pantai harpannya mereka bisa memiliki modal usaha unutk mandiri.

Rupanya sederhana sekali yang diharapkan oleh rakyat jelata kepada pemangku kepentingan baik negara maupun daerah, dimana mereka tidak minta apartemen, gedung tinggi, jalan yang lebar tetapi mereka berharap hanya dapat berkerja, rumah yang sangat sederhana, harga yang murah termasuk sekolah anak-anak jangan banyak kutipan, lahan pertanian untuk digarap, dan adanya modal untuk melaut bagi yang tinggal di pesisir.

Kaum menengah yang biasanya sudah dapat dikatakan hidup sudah teratur dalam hal pemenuhan kebutuhan dan pendapatan yang sudah bisa dibuat planning liburan akhir tahun, dan biasanya sudah memiliki aset walaupun tidak banyak juga ditandai dengan tingkat pendidikan paling minimal sarjana serta ditandai kaum ini sudah hidup kesehariannya tidak jauh dari teknologi informasi.

Kelompok ini berharap pada pemangku kepentingan untuk dapat menjamin tingkat pertumbuhan ekonomi harus tren positif dengan tingkat keamanan terjamin dan fasilitas publik  yang harus terus dibangun, tata kelola administrasi pelayanan pemerintahan efesien artinya cepat dan tepat serta jamianan kebebasan mengeluarkan pendapat terjamin, fasilitas permodalan tersedia dan yang terakhir terjaminnya hak atas asetnya, dan juga tidak ketinggalan mereka berharap pemerintah berlajan secara demokrasi jauh dari praktik-praktik illegal.

Kemudian, kaum borjuis yang notabene merupakan orang-orang kaya dan memiliki banyak aset dengan tingkat konsumsi mewah dan biasanya mereka hidup pada level tertinggi dalam segala hal menyangkut duniawi.

Di Indonesia kelompok ini boleh dikatakan tidak begitu banyak dan biasanya dikatakan sebagai kelompok konglomerat yang memiliki banyak unit bisnis dan banyak mempekerjakan kaum menengah dan bahkan rakyat jelata sekalipun.

Biasanya mereka juga tidak banyak berharap kepada pemangku kepentingan baik negara maupun daerah yaitu agar dapat menjamin aset dan unit bisnis mereka serta pemerintah harus berpihak kepada mereka jangan kepada kaum pekerja serta tingkat pajak penghasilan harus bernegosiasi dengan mereka.

Dan mereka sebenarnya lebih suka pemimpin negara dan daerah itu bisa berada di bawah kendali mereka agar keberlangsungan aset dan unit bisnisnya terjamin dan hakikatnya mereka cenderung tidak mau praktik demokrasi secara totalitas karena mereka mengandalkan kemampuan dananya dalam melobi untuk sebuah keputusan.

Oleh sebab itu, sebenarnya harapan rakyat jelata dan menengah yang sesungguhnya harus mendapat priority karena bila rakyat jelata dan menengah itu bisa terpuaskan biasanya seorang top leader akan mendapat dukungan kuat karena jumlahnya terlalu banyak.

Sedangkan, untuk harapan kaum borjuis atau konglomerat biasanya memang sudah di dalam ring satu kekuasaan dan identik dengan penguasaan sumberdaya secara berlebihan oleh individu tertentu yang membuat banyak individu tidak dapat mendapatkan bagian.

Sebagai contoh dari bentuk konglomerat pada penguasaan lahan, betapa seorang borjuis menguasai ribuan bahkan jutaan hektar lahan karena mereka mampu membelinya dan dengan cara apa saja mereka perbuat karena memiliki kemampuan, maka tidak mengherankan banyak rakyat tidak bisa memiliki lahan.

Padahal sesungguhnya rakyat tersebut adalah petani, adan atas situasi seperti ini munculah kemudian rakyat jelata dipenjarakan karena mengambil sebatang pohon atau ranting, mengambil sebuah buah coklat, dan bahkan menebang sebatang pohon untuk membuat tempat tinggal dan sebagainya.

Dengan demikian, kita harus kembali kepada semangat adanya sebuah negara harus ada tiga pilar, yaitu adanya wilayah dalam hal ini daratan dan lautan bila ada, adanya rakyat sebagai penduduk, dan adanya pemerintahan sebagai pemimpin.

Berdasarkan hal tersebut jelas bagi pemangku kepentingan (pemangku kepentingan adalah yang dibiayai oleh negara untuk mengurusi negara atau daerah) jelas harus biasa membuat harapan rakyat menjadi kenyataan, maka sebenarnya persetasi bagi pemangku kepentingan itu diukur sejauh mana harapan dari rakyat bisa diubah menjadi kenyataan.

Demikian tulisan pendek ini untuk menambah khazanah bacaan kaum pembaca, dan biasanya yang suka membaca itu pintar dan jauh lebih pintar dari pendengar dan penonton, mohon maaf dari segala bentuk kesalahan dan kekurangan dan jika berumur panjang boleh kita sambung lagi di lain waktu.(*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Sosial, Dosen FE Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh))