Mengerikan! Begini Cerita Korban Selamat Ledakan Besar Lebanon

ACEHSATU.COM – Ledakan besar melanda ibukota Lebanon, Beirut pada Selasa (4/8/2020) waktu serempat.

Akibat peristiwa ledakan dasyat tersebut, sejumlah orang dilaporkan tewas dan melukai ribuan lainnya serta merusak sejumlah gedung dan bangunan sekitarnya.

Dikutip dari Tribunnewsmaker.com, Seorang korban selamat dari ledakan besar di Beirut, Lebanon memberikan kesaksiannya.

Korban bernama Nada Hamza yang merupakan warga Beriut itu sampai tak percaya ia bisa selamat dari musibah itu.

Seperti yang diberitakan, dua ledakan besar mengguncang Beirut pada Selasa (4/8/2020) sore pukul 06.07 waktu setempat.

Ledakan tersebut memakan banyak korban jiwa.

Bangunan-bangunan tinggi pun porak-poranda akibat guncangan tersebut.

Diungkap Hamza, ledakan begitu mengerikan.

Saat kejadian, ia berada di dekat pusat penbangkit listrik.

Lokasi tersebut masih satu garis dengan pelabuhan, tempat terjadi ledakan.

Ia berada tak jauh dari lokasi.

Kepada Al Jazeera Selasa (4/8/2020), Hamza mengungkapkan dia hanya berjarak beberapa meter ketika ledakan menghantam dari pelabuhan.

Saat terjadi ledakan, ia berlari ke salah satu gedung.

Namun gedung tersebut kemudian runtuh.

“Saya segera berlari ke salah satu gedung,

sebelum kemudian menyadari bahwa gedungnya sudah runtuh,” jelas Nada mengenang kembali keajaiban yang baru saja menimpanya.

Nada melanjutkan, dia kemudian mencoba untuk menghubungi orangtuanya, namun tak bisa. “Saya tak percaya saya masih hidup,” jelasnya.

Korban lain, seorang pria yang tak disebutkan identitasnya dan dalam keadaan bersimbah darah, menuturkan dia masih tak paham apa yang terjadi.

Dia menjelaskan sedang memancing keitka mendengar adanya kebakaran. Jadi, dia segera pulang ketika mendengar bunyi seperti ledakan.

“Kemudian ini terjadi.

Saya mendapatkan luka seperti ini.

Hanya ini sejauh yang saya tahu,” papar pria tersebut kepada Al Jazeera.

Khaled Hamade, mantan jenderal Angkatan Darat Lebanon mengatakan, dia hanya berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian.

Dia menceritakan tidak hanya kaca yang berserakan di jalan, tetapi juga korban tergeletak, di mana banyak dari mereka mengalami luka.

“Ini benar-benar bencana.

Semuanya (seperti yang saya ingat) seperti hari terakhir perang saudara yang berlangsung di Beirut,” paparnya.

Total 78 orang tewas dalam insiden tersebut, dengan lebih dari 4.000 lainnya dari berbagai penjuru ibu kota mengalami luka.

Berdasarkan keterangan Perdana Menteri Hassan Diab, sebanyak 2.750 ton amonium nitrat, bahan yang digunakan untuk pupuk atau peledak, meledak.

Bahan tersebut, kata Dia, disimpan selama beberapa tahun di dalam gudang pelabuhan yang dilaporkan berlokasi di tepi laut.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih mengklaim, dia mendapatkan informasi dari para jenderalnya bahwa itu adalah serangan.

“Kemungkinan, berdasarkan keterangan mereka yang jelas lebih tahu daripada saya, ini adalah semacam bom.

Ini serangan,” papar Trump.

Tangkapan rekaman video memperlihatkan jamur raksasa terbentuk dalam ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020. Setidaknya 73 orang tewas dalam insiden tersebut dengan ribuan lainnya terluka.(Screengrab from YouTube)

Lebanon akan umumkan keadaan darurat selama dua pekan

Presiden Lebanon Michel Aoun melakukan pertemuan kabinet darurat pada Rabu (5/8).

Ia mengatakan keadaan darurat selama dua minggu akan diumumkan menyusul ledakan besar di Beirut yang menewaskan sedikitnya 78 orang dan melukai 4.000 lainnya.

Ledakan dahsyat yang terjadi Selasa (4/8) mengirim gelombang kejutan di seluruh kota, menyebabkan kerusakan luas bahkan di pinggiran ibukota.

Seperti dikutip Al Jazeera, para pejabat mengatakan mereka memperkirakan korban tewas akan meningkat ketika para pekerja darurat menggali puing-puing untuk menyelamatkan orang dan mengangkat yang mereka meninggal.

Penyebab ledakan tersebut belum diketahui jelas.

Para pejabat Lebanon menghubungkan ledakan itu dengan sekitar 2.700 ton amonium nitrat yang disita yang disimpan di gudang di pelabuhan selama enam tahun.

Dari Filipina dilaporkan, setidaknya dua warga negara Filipina termasuk di antara yang tewas dalam ledakan besar di Beirut, menurut Kedutaan Besar Filipina di Lebanon, Rabu (5/8).

Enam orang warga Filipina lainnya terluka dalam ledakan itu. Lebih dari 27.000 orang Filipina bekerja di Lebanon, menurut angka terbaru dari Departemen Luar Negeri Filipina.

Badri Daher, Direktur Kantor Bea Cukai Lebanon mengatakan, pihaknya tidak bertanggung jawab atas penyimpanan amonium nitrat yang memicu ledakan besar yang menewaskan puluhan orang.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Daher menyalahkan Kepala Pelabuhan, Hassan Koraytem.

“Mereka yang bertanggung jawab, dan aku bisa memberitahumu bahwa bahan ini seharusnya tidak tinggal di sana, itu seharusnya tidak ada di tempat pertama,” kata Daher.

Koraytem tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Direktorat Pelabuhan berada di bawah wewenang Kementerian Pekerjaan Umum dan Transportasi.

Ledakan besar di ibukota Lebanon, Beirut, telah memicu gempa berkekuatan 3,5, menurut pusat geosains Jerman GFZ.

Ledakan itu terdengar dan terasa hingga Siprus yang jaraknya lebih dari 200 kilometer (180 mil) melintasi Mediterania.

Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon merekomendasikan Beirut mendeklarasikan keadaan darurat selama dua minggu dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada otoritas militer. (*)