Mengenang 19 Tahun Kepergian Panglima GAM Abdullah Syafi’i

Pria kelahiran 12 Oktober 1947 silam itu wafat dalam sebuah pertempuran dengan pasukan TNI di Jim-jim, Pidie Jaya, Aceh pada 22 Januari 2002.
Panglima GAM Abdullah Syafi’i
Panglima GAM Abdullah Syafi’i. Foto Net

ACEHSATU.COMTepat pada Jumat (22/1/2021), genap 19 tahun kepergian Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Abdullah Syafi’i.

Pria kelahiran 12 Oktober 1947 silam itu wafat dalam sebuah pertempuran dengan pasukan TNI di Jim-jim, Pidie Jaya, Aceh pada 22 Januari 2002.

Teungku Abdullah Syafi’i gugur bersama istrinya Cut Fatimah serta dua pengawal setianya.

Sosok pejuang yang sangat membekas dalam memori rakyat Aceh ini, pergi setelah ia bertempur sampai titik darah terakhir.

Sosok sang panglima

Dalam sejarah perjuangan GAM, sosok Teungku Abdullah Syafi’i tertulis dengan tinta emas.

Ia adalah Panglima GAM yang kharismatik dan disegani.

Tidak hanya itu, Teungku Lah, begitu ia disapa adalah juga sosok yang ramah dan santun serta konsisten di garis perjuangan GAM.

Panglima GAM Abdullah Syafi’i
Panglima GAM Abdullah Syafi’i. Foto Net

Ia dikenal sangat bersahaja, sopan, religius, dan dicintai rakyat Aceh.

Biografi sang Panglima

Sang Panglima dilahirkan di sebuah desa terpencil di pedalaman Matang, Bireuen pada 12 Oktober 1947.

Dalam masa usia muda, Abdullah Syafi’i sempat mengenyam pendidikan di sekolah Madrasah Aliyah Negeri Peusangan, Bireuen.

Ia juga belajar ilmu agama di sejumlah pesantren di Aceh.

Dari beberapa sumber yang didapat, Teungku Lah mulai terlibat GAM pada awal 1980, namun ada juga kabar yang menyebutkan bahwa Ia bergabung dengan GAM sehari sebelum Hasan Tiro memproklamirkan GAM di Gunong Halimon pada 4 Desember 1976.

Terlepas kapan tanggal pastinya Abdullah Syafi’i bergabung dengan GAM, yang jelas periode perjuangan GAM yang menggema antara tahun 1998 sampai ia meninggal dunia (2002).

Abdullah Syafi’i adalah sosok kunci di sayap militer GAM dalam upaya merebut kemerdekaan Aceh dari Indonesia.

Tgk Abdullah Syafi’i memang tidak mendapat pendidikan militer di Libya seperti kebanyakan tokoh besar GAM lainnya, namun ia diangkat sebagai Panglima GAM.

Sang Deklarator GAM Almarhum Tgk Hasan Tiro mengangkatnya sebagai Panglima untuk memimpin Pasukan GAM “Ban Sigom Aceh” dalam merebut kemerdekaan dari Republik Indonesia.

Dalam masa kepemimpinannya, Abdullah Syafi’i bukan hanya menjadi pemimpin militer GAM tapi juga menjadi panutan kalangan GAM dan rakyat Aceh lewat kepribadiannya yang religius, santun dan bersahaja. Ia begitu dicintai oleh pasukan GAM dan rakyat Aceh, serta disegani oleh tentara musuh (TNI).

Perjuangan Abdullah Syafi’i berakhir pada tanggal 22 Januari 2002, ia syahid bersama istri dan dua pasukannya setelah disergap oleh pasukan TNI.

Abdullah Syafi’i syahid pada umur 54 tahun.

Sekitar sebulan sebelum ia syahid, Abdullah Syafi’i sempat memberikan wasiat yang sangat menyentuh kepada pasukannya.

Berikut kutipan wasiat terakhir Abdullah Syafi’ia yang populeh di kalangan pejuang GAM dan rakyat Aceh.

“…jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyhidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apa pun apabila negeri ini (Aceh) merdeka”… (*)