Potret

Menelusuri Silsilah Pewaris Kesultanan Aceh dari Masa ke Masa

Puutra Mahkota terakhir inilah, Tuanku Raja Ibrahim mempunyai keturunan 16 orang putera-puteri dari beberapa istrinya.

Foto Net | Ilustrasi Istana Daruddunia

ACEHSATU.COM — Berabad-abad lamanya Kesultanan Aceh tegak berdiri menjadi imperium Islam yang paling kuat, makmur, dan beradab.

Dimulai pada awal abad ke XVII, Kerajaan Aceh telah mencatat sejarah paling gemilang dalam sejarah Islam di Asia Tenggara.

Saat kedatangan orang-orang Portugis di Malaka, di seberang selat tersebut, Aceh sedang tumbuh sebagai Kerajaan yang kuat. Sultan pertama adalah Ali Mughayat Syah (1514-1530 M).

Pada tahun 1520, Ali Mughayat Syah memulai memperluas kerajaan. Pada tahun itu dia berhasil merebut daya yang terletak di pantai barat Sumatera di bagian utara setelah mengusir Portugis.

Pada tahun 1524, Sulthan Ali Mughayyat Syah pun merebut Pedir dan Pasai setelah berhasil mengusir Portugis. Putra tertua Ali Mughayat Syah yang menjadi penggantinya yakni Sultan Salahuddin.

Pada awal abad ke XVII, Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) membentuk Aceh sebagai Kerajaan yang paling kuat di Asia Tenggara.

Setelah Iskandar Muda, tahta di Aceh digantikan oleh menantunya yaitu Sulthan Iskandar Tsani selanjutnya kerajaan ini dipimpin oleh istrinya yang juga merupakan Puteri Sulthan Iskandar Muda yaitu Sultanah Safiatuddin (1641-1675 M).

Kemudian dipimpin berturut-turut oleh 3 sulthanah yaitu Sulthanah Naqiatuddin (1675 – 1678 M), Sultanah Zaqiatuddin Inayat Syah (1678 – 1688) dan Sultanah Kamalat Syah (1688 – 1699 M).

Pada masa itu, Aceh mengalami kemunduran dan Kesultanan hanya menjadi sebuah lembaga simbolis yang lemah.

Sejak tahun 1699 hingga dataangnya agresi Belanda pada 1874 M, Kesultanan Aceh diperintah sejumlah sultan mulai dari Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalul Lail (1110 – 1113 H/1699 – 1702 M).

Sultan Syarif Lamtoi Bin Syarif Ibrahim. (1113 – 1115 H/1702 -1703 M). Sultan Jamalul Alam Badrul Munir (115 – 1139 H/1703 – 1726 M). Kemudian Sultan Jauharul Alam Imaduddin (1139 H/1729 M).

Selanjutnya Sultan Syamsul Alam Wandi Teubeueng. Sultan Alaidin Maharaja Laila Ahmad Syah (1139 – 1147 H/1727 – 1735H). Sultan Alaidin Johan Syah (1147 – 1174 H/1735-1760M).

Sultan Alaidin Mahmud Syah (1174 -1195 H/1760 – 1781M). Sultan Alaidin Muhammad Syah (1195 -1209 H/1781 – 1795M). Sultan Husain Alaidin Jauharul Alam Syah(1209 -1238 H/1795-1823 M).

Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (1238 – 1251 H /1823 – 1838M). Sultan Alaidin Sulaiman Syah (1251-1286 H/1838 – 1857 M).

Sultan Alaidin Mansur Syah (1286 – 1290 H/1857 – 1870 M) dan Sultan Alaidin Mahmud Syah (1286-1290 H (1870 – 1874 M).

Ultimatum Perang Belanda

Pada masa Sultan Alaidin Mahmud Syah inilah, Belanda mengumumkan ultimatum perang terhadap Kerajaan Aceh.

Ekspedisi pertama Belanda berakhir kegagalan hingga menyebabkan tewasnya panglima Perang Belanda yaitu Major Jenderal J.H.R Kohler tanggal 14 April 1873 di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Namun kegagalan ini membuat Belanda berang, akhirnya Penyerangan kedua pun dimulai dengan kesuksesan besar sehingga Bandar Aceh Darussalam dibumihanguskan.

Dengan semangat yang masih membara dan kepintaran yang sangat luar biasa dalam mengatur pemerintahan Sulthan Alaidin Mahmud Syah memindahkan Ibukota Kerajaan untuk mematahkan pernyataan Belanda yang mengklaim sudah menguasai ibukota Kerajaan Aceh.

Dalam mematahkan perlawanan prajurit Kerajaan Aceh, Belanda pun menyebarkan wabah kolera sehingga Sultan Alaidin Mahmud Syah pun terkena wabahnya.

Tahun 1874 para Mufti Kerajaan dan pembesar kerajaan lainnya mengangkat Tuanku Muhammad Daud bin Tuanku Zainal Abidin sebagai Sulthan Aceh yang bergelar Sulthan Alaidin Muhammad Daud Syah.

Pindah Ibukota ke Keumala

Karena masih kecil, akhirnya para pembesar kerajaan menunjukkan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Pemangku Sulthan.

Perjuangan untuk tetap berdaulat membuat para petinggi kerajaan dan prajurit kerajaan Aceh harus bergerilya berperang mengusir penjajah Kerajaan Islam Aceh yaitu Belanda hingga akhirnya Sulthan Alaidin Muhammad Daud Syah memindahkan Ibukota Kerajaan ke Keumala Dalam.

Di Keumala Dalam inilah Sulthan Muhammad Daud Syah mengatur pemerintahan dan mengangkat Tgk Chiek Muhammad Saman di Tiro sebagai Wazir Sulthan Kerajaan Aceh Darussalam.

Tgk Chik Ditiro ini menjabat urusan Perang Sabil pada tahun 1883 setelah diputuskan dalam Musyawarah Besar para petinggi kerajaan di Keumala Dalam.

Sampai kemudian Tgk Chiek Muhammad Saman di Tiro meninggal tahun 1891 karena diracuni seorang janda yang telah diupah oleh pihak Belanda.

Sepeninggalan Tgk Chiek Muhammad Saman, pemimpin perang sabil dengan persetujuan Sultan dipegang oleh Tgk. Chik Di Tiro Muhammad Amin.

Setelah Tgk. Di Tiro Muhammad Amin syahid di Aneuk Galong pada tahun 1896, pucuk pimpinan perang sabil dipegang oleh Tgk. Chik Di Tiro Mahyiddin yang terus bergerilya di pegunungan Tangse.

Keluarga Sultan Disandera

Tahun 1902, permaisuri sultan yaitu Tengku Putroe Gamboe Gadeng dan Putera Mahkota yaitu Tuanku Raja Ibrahim disandera oleh prajurit Belanda.

Sehingga akhirnya pada tahun 1903, Sultan Muhammad Daud Syah, terpaksa berunding dan akhirnya ditangkap dalam perundingan ini.

Sultan Muhammad Daud Syah yang telah menyerahkan diri ini kemudian diasingkan ke Batavia dan sempat pula diasingkan ke Ambon dan akhirnya kembali ke Batavia hingga meninggal tahun 1939 di Jakarta.

Sultan Muhammad Daud Syah mempunyai seorang anak dari istrinya Teungku Putroe Gamboe Gadeng yaitu Tuanku Raja Ibrahim.

Kabarnya, Sultan terakhir Kesultanan Aceh ini juga memiliki beberapa anak dari istrinya berdarah Banten, Hajjah Neng Effi.

Putera Mahkota Terakhir

Tuanku Raja Ibrahim merupakan putera tertua dari Sulthan Muhammad Daud Syah. Ia adalah pemegang Putera Mahkota terakhir. Ratu Belanda pernah ingin melihatnya langsung.

Tuanku Raja Ibrahim ini juga pernah diasingkan oleh Belanda bersama dengan ayahanda dan ibundanya ke Batavia hingga akhirnya bisa pulang kembali ke Aceh tahun 1937.

Sampai tahun 1960 Tuanku Raja Ibrahim menjabat Mantri Tani di Sigli dan sempat diberikan rumah untuk tinggal sementara oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan syarat dikembalikan setelah dia meninnggal.

Pada 1 Maret 1982, sang Putera Mahkota ini meninggal dunia dan dikebumikan di Baperis (Badan Pengurus Kompleks Makam Raja Aceh).

Puutra Mahkota terakhir inilah, Tuanku Raja Ibrahim mempunyai keturunan 16 orang putera-puteri dari beberapa istrinya.

Nah, putri tertuanya inilah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam, yang menetap dan meninggal dua hari lalu di Mataram.

Sulthanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam tutup usia di RS Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (6/6/2018) sekitar pukul 06.45 WITA.

Silsilah selanjutnya adalah adik-adik dari Sulthanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam.

Mereka ini mulai dari Teungku Putroe Kasmi Nur Alam, Tuanku Raja Zainal Abidin.

Teungku Putroe Rangganis, Tuanku Raja Ramaluddin, Teungku Putroe Sariawan, Tuanku Raja Mansur, Tuanku Raja Djohan, Tuanku Raja Iskandar.

Teungku Putroe Sukmawati, Tuanku Raja Syamsuddin, Tuanku Raja Muhammad Daud,  Tuanku Raja Yusuf,  Tuanku Raja Sulaiman, Teungku Putroe Gambar Gading, dan Tuanku Raja Ishak Badruzzaman.

Di antara mereka ini ada yang sudah meninggal dan banyak juga yang masih hidup sampai saat ini.

Namun, kehidupan mereka sangat menyedihkan, dan sungguh miris.

Mereka bekerja seadanya untuk mencukupi penghidupan sehari-hari.

Sejak Kesultanan Aceh jatuh ke tangan Belanda, sampai Indonesia merdeka dan hingga hari ini, tidak ada perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia dan juga Pemerintah Aceh untuk meningkatkan taraf ekonomi kehidupan mereka.

Beginilah nasib tragis yang dialami para silsilah terakhir pewaris Kesultanan Aceh yang pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. (*)

(Dirangkum dari berbagai sumber)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top