Menanti Makna Kemerdekaan di Bawah Rezim

ACEHSATU.COM – Rezim silih berganti, penguasa pun bertukar dengan banyak tipe dan model pengelolaan kekuasaan pada ujungnya akan terpotret berbagai karakter dan syahwat politiknya.

Ada rezim yang membangun ada pula rezim yang meruntuhkan. Ada rezim yang datang memperbaiki dan pasti pula ada rezim yang datang untuk merusaknya. Siklus ini sedang berlangsung di negeri +62 dan akan terus bergulir hingga Indonesia musnah di muka bumi.

Pada mulanya Indonesia itu tidak ada. Namanya pun tidak dikenal hingga muncul menjadi nama sebuah negara. Indonesia ada setelah kerelaan para raja di tanah Nusantara melebur diri dalam sebuah negara yang kemudian di sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Itulah metamorfosis pertama adanya negara ini. Dari tidak ada menjadi ada. Dan itu dilakukan oleh mereka para generasi pembangun. Sekelompok pemikir kebangsaan dan kenegaraan yang luar biasa.

Periode Awal

Pada fase awal ini pengorbanan yang dibutuhkan sangat besar. Para raja pemimpin kekuasaan di daerahnya masing-masing harus rela melepaskan kekuasaan nya. Rela kehilangan pengaruh dan nama besar sebagai raja di wilayah mereka demi berdirinya negara modern.

Setelah NKRI berdiri tegak sebagai negara demokrasi terbesar di dunia tentu saja ada orang-orang besar pula dibelakang nya. Pengorbanan founding father tidak dapat dinilai dan dibandingkan dengan apapun. Terlalu besar.

Seiring berjalannya waktu negara ini pun menjadi rumah besar bersama untuk bangsa Indonesia. Penghuninya terdiri dari beragam suku, agama, dan ras. Harmonisasi kehidupan berbangsa dapat dirajut dengan baik dan serasi.

Di bawah naungan rahmat Tuhan Yang Maha Esa bangsa Indonesia konsisten menjaga persatuan dan kesatuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Meskipun ada juga kerikil-kerikil tajam yang mengganggu perjalanan bangsa ini namun semuanya dapat diatasi dengan baik.

Sebut saja misalnya ada persoalan ancaman ideologi asing yang tidak sejalan dengan ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa, oleh rezim yang diberikan amanah mampu mengatasi nya secara tegas dan tuntas.

Rezim yang bekerja untuk menjaga keutuhan NKRI adalah rezim yang membangun dan membawa bangsanya ke arah yang dicita-citakan. Tidak menjual bangsanya dengan dalih apapun.

Walaupun demikian rezim pertama memimpin bangsa ini bukan juga sekelompok malaikat tanpa nafsu. Justru dorongan untuk menancapkan kuku kekuasaan lebih dalam sempat terjadi.

Hingga gonjang ganjing politik dan perebutan kekuasaan pun tercatat dalam sejarah terjadi deadlock, padahal Indonesia baru saja merdeka dan melepaskan diri dari penjajahan kolonialis.

Era Orde Baru

Hingga rezim orde lama itu bubar dan muncul orde baru yang dikomandoi Soeharto, beliau kemudian dikenal sebagai bapak pembangunan.

Panggilan bapak pembangunan bukan tanpa dasar. Soeharto kala itu dianggap berhasil meletakkan dasar-dasar pembangunan Indonesia dan sukses membawa negara ini menjadi negara yang dihormati dunia.

Rezim Soeharto diketahui sangat anti komunis meski sangat pro kapitalis. Sepanjang kepemimpinan nya Soeharto sangat menjaga ketat bahaya laten kemunculan komunisme. Akibatnya pentolan-pentolan PKI yang tidak mengakui Pancasila 18 Agustus 1945 ditangkap dan dipenjarakan.

Kendati tidak semua kebijakan Soeharto dapat dibenarkan, namun benang merahnya adalah rezim orde baru bertekad ingin menjaga NKRI dari rongrongan komunis.

Singkat kata rezim orde baru pun ditumbangkan oleh demo besar, belakangan demo tersebut dituding digerakkan oleh kelompok pro komunis dengan menciptakan berbagai fitnah dan adu domba.

Memasuki era baru, Indonesia digambarkan menuju pencerahan dan kebebasan berdemokrasi. Di bawah pemerintahan transisi, BJ Habibie sebagai pemegang kekuasaan tertinggi menggantikan Presiden Soeharto melakukan sejumlah langkah dan terobosan perbaikan sistem.

Era Reformasi

Memasuki era reformasi yang digaungkan oleh tokoh-tokoh nasional berpengaruh. Indonesia mulai mengubah undang-undang dan peraturan yang dianggap tidak pro demokrasi.

Undang-undang dan peraturan yang menghambat kebebasan semuanya diubah. Dan puncaknya adalah perubahan terhadap Undang-undang Dasar 1945 dengan beberapa kali amandemen.

Presiden BJ Habibie bekerja sangat baik dalam membawa Indonesia untuk keluar dari ancaman perpecahan dan disintegrasi paska lengsernya Soeharto. Walaupun Timor Leste akhirnya lepas juga dari ibu pertiwi. Tetapi BJ Habibie akhirnya memang layak disebut bapak demokrasi.

Setelah sistem negara mengalami banyak perubahan berdasarkan pada semangat reformasi. Pemilu pun digelar dengan sistem langsung. Mekanisme pemilihan para pemegang kekuasaan (presiden sampai bupati/wali kota) mulai dipilih langsung oleh rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Buah reformasi itu melahirkan sosok SBY sebagai Presiden RI pertama yang dipilih langsung oleh rakyat sejak runtuhnya orde baru. Untuk menuju pemilu langsung (pilsung), ternyata Indonesia membutuhkan waktu selama 4-5 tahun.

Ditangan SBY pembangunan Indonesia berbagai sektor terus digerakkan dan berkembang. Meskipun SBY dengan berlatar belakang militer namun dalam gaya kepemimpinan nya tidak otoriter justru sangat demokratis.

Di masa SBY sebagai presiden kerap di demo besar-besaran di depan istana oleh lawan politiknya yang tidak suka dengan kebijakan yang diambil. Tercatat partai politik yang di paling keras menentang SBY waktu itu adalah PDIP. Partai tersebut menjadi oposisi bagi pemerintahan SBY.

Namun bukan SBY namanya bila ia tidak mampu mengatasi masalah dengan bijaksana. Kendati kritik datang dari berbagai arah namun SBY tidak merespon nya dengan sikap represif bahkan cenderung menerima.

Sikap yang ditunjukkan oleh pemimpin besar tentu saja dengan menampilkan sikap memaafkan rakyatnya yang secara konstitusi pun dijamin untuk menyampaikan pendapat. Bukan sebaliknya melakukan penangkapan dan melaporkan nya ke kepolisian.

Pun begitu SBY juga presiden tanpa cacat. Tudingan telah terjadi perampokan uang negara untuk kepentingan kelompok nya bermunculan ditengah-tengah situasi KKN yang mulai subur.

Selama menjabat presiden dua periode, SBY masih meninggalkan misteri terkait beberapa kasus, diantaranya kasus Bank Century, kasus Hambalang, kasus HAM Munir, mafia minyak dan gas.

Terlepas dari itu SBY berhasil mencatat berbagai prestasi. Diantaranya berhasil mewujudkan perdamaian di Aceh, berhasil menjaga stabilitas politik dan keamanan, iklim investasi tetap kondusif, program pro rakyat banyak yang sukses dijalankan, kepentingan nasional menjadi prioritas, dan berhasil meningkatkan citra Indonesia di pentas Internasional.

Hingga SBY turun tahta dan diteruskan oleh penggantinya, Indonesia masih tetap sebagai negara berdaulat dan disegani oleh negara lain di Asean dan dunia Internasional. Indonesia masih menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif.

Era Jokowi

Bersama Presiden Joko Widodo pemegang estafet kepemimpinan nasional, Indonesia memasuki paradigma baru.

Dengan menawarkan konsep nawacita, Jokowi menginginkan Indonesia melakukan revolusi mental sebagai tonggak awal membangun Indonesia. Gagasan tersebut ternyata sebagaimana dahulu Presiden Soekarno pernah wacanakan.

Revolusi mental apa Jokowi adalah Indonesia harus mengubah paradigma baru dalam pembangunan. Cara pandang baru tersebut berkorelasi dengan pemisahan politik dengan agama atau dengan kata lain agama tidak lagi menjadi urusan publik tapi sudah urusan pribadi.

Penilaian itu muncul setelah dalam banyak kesempatan Jokowi selalu menyampaikan kepada rakyat tentang pembangunan mental rakyat Indonesia berdasarkan Pancasila dan bukan agama.

Ini terkonfirmasi dengan rencana Pemerintah untuk menghapus kolom agama yang terdapat pada KTP warga negara Indonesia, menghapus sebagian materi agama pada pelajaran sekolah, dan melarang kegiatan-kegiatan bersifat syiar Islam di sekolah-sekolah pemerintah seperti yang dilakukan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama saat dia berkuasa dengan melarang kurban di sekolah.

Semenjak Jokowi berkuasa pada periode pertama, banyak hal yang diubah. Bukan hanya tradisi kenegaraan bahkan sistem tata negara pun mengalami evolusi. Perlahan namun pasti, Jokowi berhasil mengendalikan negara sesuai dengan keinginan penguasa.

Banyak program Jokowi yang lahir dalam semalam. Begitu cepatnya Jokowi bekerja dalam merancang pembangunan Indonesia.

Begitu pula dengan janji politik yang dia sampaikan saat kampanye dan pada acara debat Capres. Publik menilai dari ratusan janji yang ditebarkan, sebanyak 66 diantaranya tidak ditunaikan malahan ditambah dengan janji yang baru.

Sebagai presiden dan panglima tertinggi angkatan, Jokowi memiliki kewenangan yang besar untuk mengangkat dan menunjuk pejabat dan orang-orang yang akan membantunya bekerja di pemerintahan termasuk memilih para menteri.

Presiden Jokowi dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Sangking dekatnya rakyat pun diperkenan untuk selfi setiap dirinya melakukan blusukan dan sesi foto.

Tidak ada yang menyangka bila Jokowi tidak pro rakyat sebab penampilan nya saja sangat sederhana dan merakyat. Boleh jadi itu hanya gimmick atau polesan agar disukai rakyat. Sebab politik pencitraan selalu melekat pada pejabat di negeri ini dan sulit dihilangkan.

Presiden Jokowi memang didukung sepenuhnya oleh PDIP dan koalisi. Sebagai partai pemenang pemilu PDIP menguasai parlemen. Ini pula yang memudahkan Jokowi untuk berbuat apa saja seolah tanpa kontrol lembaga legislatif.

Rancang bangun negara baru posting pun mulai dilakukan. Langkah pertama dimulai dengan mengubah undang-undang.

Dengan alasan selama ini Indonesia terlalu banyak undang-undang yang menghambat untuk maju, investasi sulit masuk, dan argumentasi lainnya. Hebatnya DPR pun mengangguk saja apa kata pemerintah tanpa koreksi.

Sementara pada kebijakan ekonomi, sosial, dan keagamaan. Jokowi terus menambah utang baru baik utang dalam negeri maupun utang luar negeri. Hingga kini utang Indonesia tercatat tidak kurang dari 5.000 triliun rupiah.

Pertumbuhan utang sangat signifikan tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi. Jokowi menjanjikan tidak akan melakukan utang bila ia menang pemilu ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Begitu juga pertumbuhan ekonomi ditargetkan 6-7 persen itupun tidak pernah terealisasi. Boro-boro 6 persen, untuk mencapai 5,4 persen saja belum berwujud. Sebab nya pun dituding karena faktor eksternal terutama kondisi ekonomi global yang berpengaruh negatif terhadap ekonomi dalam negeri.

Kegaduhan lain yang terjadi bak drama Korea yang tidak pernah ada habisnya semakin membuat kondisi sosial masyarakat rapuh. Persekusi ulama dan aksi brutal buzzer di media sosial membuat situasi jadi lebih buruk.

Rakyat seperti disuguhi sebuah peradaban baru yang sama sekali belum dikenal sebelumnya. Oleh rezim hal itu disebut sebagai bagian dari revolusi mental. Namun untuk soal ini ada yang menyebut sebagai revolusi nguntal.

Namun Jokowi tergolong presiden luar biasa. Dia satu-satunya presiden yang sukses membangun jalan tol paling cepat dan terpanjang dibandingkan presiden sebelumnya. Bentang jalan tol Jokowi pun mulai dari Aceh hingga Papua.

Selain tol darat, rezim juga membangun tol laut, tol udara atau istilah mereka disebut tol langit.

Ada juga pembangunan kereta api cepat Jakarta Bandung. Mega proyek Indonesia China yang pembiayaan dari investasi negara Tiongkok. Luar biasa!

Hingga gagasan memindahkan ibukota Indonesia ke Kalimantan sebagai ibukota baru itu juga Jokowi bilang tidak mengeluarkan uang negara (APBN) sepeser pun, meski untuk ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati harus stres karena tidak sanggup menyediakan anggaran. Ntahlah…

Rezim Jokowi tidak hanya luar biasa tetapi juga terbilang sangat beruntung. Ditengah gencarnya membangun infrastruktur dan pertumbuhan utang tiba-tiba dihadirkan wabah Covid-19 yang bikin heboh dunia.

Bermula dari negeri Tiongkok virus Corona di ekspor ke seluruh dunia termasuk negara sahabat nya Indonesia. Dan hingga saat ini Indonesia menduduki peringkat pertama jumlah pasien terinfeksi paling tinggi di Asean. Ini prestasi apa bukan?

Situasi terakhir Indonesia berada pada situasi stagnan cenderung resesi. Ekonomi telah mengalami kontraksi negatif dan penurunan. Dampak tersebut tentu berpengaruh terhadap keuangan negara. Fiskal Indonesia mulai mengalami defisit lebih besar.

Dampak memburuknya perekonomian telah memakan korban pada sektor-sektor lain. Industri mulai merevisi rencana bisnis mereka, jumlah produksi pun dikurangi.

Seiring dengan kebijakan efesiensi bisnis, pelaku usaha mengurangi tenaga kerja, ada yang di PHK ada pula yang dipensiunkan dini.

Ekonomi secara makro dan mikro telah terdampak secara serius. Namun aneh nya, dalam situasi krisis seperti itu pemerintah malah semakin menggenjot pembangunan jalan tol dan boros dalam mengalokasikan anggaran.

Tidak berhenti disitu dengan datangnya wabah Covid-19 semakin menambah berat krisis yang dialami Indonesia. Di bawah kepemimpinan Jokowi angka orang terinfeksi Corona semakin merangkak naik. Menteri kesehatan meski sudah melibatkan aparat TNI dan Kepolisian seperti tidak mampu mengatasi masalah tersebut.

Akhirnya negeri ini terjebak pada kedalam krisis yang sulit diatasi secara cepat. Krisis ekonomi dan krisis kesehatan, sedangkan krisis politik, sosial, dan kegentingan hukum sudah terjadi sejak awal.

Jadi semakin kompleks persoalan bangsa Indonesia. Negara ini telah runtuh dari dalam. Kerusakan paling dasar adalah terjadinya perusakan sistem tata negara dan pemberangusan hukum dan keadilan.

Sekarang rakyat sedang menanti era pencerahan datang. Bangsa Indonesia sudah lelah dengan semua drama politik dan kepalsuan yang disuguhkan oleh politisi jahat dan oligarki.

Munculnya gerakan sipil untuk menyelamatkan Indonesia dinilai sebagai reaksi atas lambannya pemerintah mengatasi dan menyelesaikan masalah. Selain itu pemerintah pun harus didukung dan diberikan pertolongan sehingga memiliki kemampuan untuk membawa keluar Indonesia dari krisis. (*)