Menanam Pohon di Lahan Gambut yang Dibakar Kallista Alam

PT. Kalista Alam terbukti melakukan perbuatan melanggar hukum karena membakar 1.000 hektare lahan gambut di Suaq Bahong, Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya pada 2009-2012.
APEL Nagan Raya
Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya menanam pohon dan plampet di areal bekas dibakar Kallista Alam. Foto Yusmadi Yusuf/ACEHSATU.com

SEJUMLAH mahasiswa tampak sibuk mempersiapkan bekal. Ada yang menyiapkan bekal makanan, ada yang merapikan plang nama yang siap pasang, dan ada sebagian tampak sibuk mengabadikan foto dan video.

Minggu (17/10/2021) hari itu menjadi hari penuh semangat bagi para mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya.

Mereka akan melakukan aksinya memasang plang nama dan menanam puluhan pohon Trembesi di kawasan Rawa Tripa yang sudah dijadikan sebagai kawasan lindung.

Perjalanan menuju lokasi tidak begitu mudah.

Setelah satu jam melewati Jalan Gunung Trans di lintasan nasional barat selatan Aceh.

Mobil berbelok menuju jalan Tripa.

Menggunakan mobil bak terbuka, perjalanan penuh tantangan.

Sengatan matahari dan terpaan debu mewarnai perjalanan para aktivis lingkungan ini.

Ditambah lagi dengan jalan belum beraspal dan penuh lubang membuat penumpang digoyang kiri dan kanan.

Sesekali penumpang harus turun saat melintasi jembatan kecil berkonstruksi kayu.

Dua jam mobil berjalan, rombongan kami yang terdiri dari wartawan dan juga sejumlah anggota polisi hutan berhenti di sebuah pos pengamanan milik perusahaan SPS.

Sembari menunggu rombongan mahasiswa, kami para wartawan dan anggota polhut beristirahat di pinggir hamparan sawit yang membentang.

Sebuah kanal kecil mengalir air yang menghitam.

“Di sini (anak sungai) sudah tidak ada lagi ikan, habitatnya sudah semakin tergerus,” ujar seorang anggota Polhut Sektor Paya Bilie.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri jalanan dalam perkebunan sawit. Kali ini rombongan melintasi jalan milik HGU PT. Kallista Alam.

Yah, perusahaan inilah yang sekarang dituntut masyarakat agar segera mengganti rugi senilai Rp 366 miliar akibat kejahatan membakar hutan Rawa Tripa.

Sesampai di ujung jalan. Mobil terhenti. Jembatan sebatang pohon memaksa kami memarkir mobil dan turun.

Hamparan Sawit di Hutan Gambut

Saat menginjakkan kaki di tanah, sejumlah teman-teman wartawan terkejut. Ternyata tanahnya bergambut meski sudah tumbuh sawit puluhan tahun.

Lahan gambut adalah hutan kering dataran rendah yang dekat dengan kawasan pesisir. Dibawah tanah hutan ini tersimpan jutaan ton karbon akibat akumulasi pembusukan vegetasi selama ribuan tahun.

Tonggak kayu bekas terbakar terbentang di sepanjang kanal kecil. Kontras, penampakan bekas hutan terbakar.

Hanya hamparan sawit sangat luas membentang di kawasan rawa gambut Tripa ini.

Di sebelahnya, pohon sawit remaja terlihat tumbuh subur milik PT Kallista Alam.

Kallista Alam
PT. Kallista Alam didenda Rp366 miliar atas kejahatan lingkungan yang dilakukannya. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Perusahaan ini merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit berlokasi di lahan gambut Rawa Tripa yang telah dinyatakan bersalah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Meulaboh pada Januari 2014.

Perusahaan ini diharuskan membayar ganti rugi dan biaya pemulihan lahan sebesar Rp 366 miliar.

Namun eksekusi atas putusan pengadilan ini belum terlaksana hingga hari ini.

Negara Kalah dengan Korporasi

Hal inilah yang menjadi inisiasi mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah lembaga mahasiswa di Nagan Raya ini menanam pohon Trembesi dan memasang plang putusan pengadilan tersebut.

Ketua Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya, Syukur mengatakan, aksi penanaman dan pemasangan plang yang bertuliskan putusan pengadilan yang sampai hari ini tidak dilaksanakan.

Menanam di Rawa Tripa
Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya menanam pohon dan plampet di areal bekas dibakar Kallista Alam. Foto Yusmadi Yusuf/ACEHSATU.com

“Sampai hari ini eksekusi tersebut tidak dilaksanakan, artinya negara kalah sama korporasi. Makanya kami bersuara, kami malu karena negara kami kalah dengan perusahaan,” ujar Syukur.

Syukur menyatakan akan berkomitmen untuk terus bersuara sampai putusan ini dilaksanakan oleh Pengadilan Suka Makmue.

“Kepada bapak-bapak yang sudah kami pilih, kami berharap tidak melupakan persoalan ini, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat Nagan Raya dan juga masyarakat Aceh,” sebut Syukur menyindir lemahnya suara dan para wakil rakyat atas masalah gambut Tripa.

PT. Kalista Alam terbukti melakukan perbuatan melanggar hukum karena membakar 1.000 hektar lahan gambut di Suaq Bahong, Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya pada 2009-2012.

Sebagian lahan di areal konservasi Tripa sudah bersertifikat

Lahan gambut yang sudah dibebaskan dari PT. Kallista Alam seluas 1.000 hektare itu kini muncul persoalan baru.

Status kepemilikan lahan itu kini diburu masyarakat yang ingin menguasai.

Informasi baru mengemuka dari wawancara dengan petugas polisi kehutanan bahwa ada sebagian kawasan yang dibebaskan itu sudah diklaim milik masyarakat.

“Bahkan, ada yang sudah keluar sertifikatnya,” ungkap Kepala BKPH Alue Bilie, Hermansyah Shut yang juga Kepala Pamhut.

Pahmut Alue Bilie
Seorang anggota Pahmut mendokumentasikan plmapet larang mengggarap aereal areal bekas dibakar Kallista Alam. Foto Yusmadi Yusuf/ACEHSATU.com

BPKH Alue Bilie berada di bawah KPH Wilayah V UPDT Dinas Kehutanan Lingkungan Hidup Provinsi Aceh.

Hermansyah menambahkan, sebelumnya pihaknya juga sudah memasang plampet larangan menanam sejumlah jenis pohon di di areal yang diibebaskan ini.

Menurut Hermansyah, dari status administrasi peta, kawasan ini tidak boleh diganggu gugat.

Karena berdasarkan peraturan Menteri Kehutanan sudah dibebaskan sebagai daerah yang dijaga dan wajib dilindungi.

“Banyak masyarakat ingin menguasai lahan ini. Ketika mereka mengajukan rekomendasi ke kami, tentu tidak bisa kami berikan karena berada di aeral konservasi,” kata Hermansyah..

“Kami mohon kepada masyarakat sekitar khususnya Nagan Raya mari menjaga hutan ini bersama, dan peduli bersama karena dengan adanya Rawa Tripa ini akan menjaga lingkungan kita dan paru-paru dunia,” pinta Hermansyah. (*)