Membumikan Spirit “Waqina ‘Adzabannar” dalam Dunia Usaha

Selain kehidupan ibadah kita yang perlu dimuhasabah, maka kehidupan muamalah kita juga sudah sepantasnya perlu dimuhasabah, adakah selama ini kita bermuamalah sudah sesuai dengan syariah?
Dr Israk Ahmadsyah
Dr. Israk Ahmadsyah.

Oleh: Dr. Israk Ahmadsyah B.Ec, M.Ec, M.Sc

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin“( As Sajadah ayat 12)

Selain kehidupan ibadah kita yang perlu dimuhasabah, maka kehidupan muamalah kita juga sudah sepantasnya perlu dimuhasabah, adakah selama ini kita bermuamalah sudah sesuai dengan syariah?

Adakah sumber harta kita dapatkan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Allah SWT?

Dengan cara mendzalimi bawahan misalnya?

Dengan membuat proyek mark up, atau bahkan fiktif?

Dengan cara membayar hakim agar kita bisa menguasai harta orang lain?

Atau dengan cara riba yang dosanya melebihi dari zina?

Adakah konsumsi yang kita lakukan hari tidak menyalahi syariah?

Tidak berlebih-lebihan (isyraf/mubazir)?

Karena itu ayat di atas pada Q.S. As Sajdah ayat 12 memberi peringatan betapa Allah SWT telah menggambarkan situasi penyesalan yang luar biasa yang diucapkan oleh hamba manusia yang berdosa saat mereka baru yakin dengan azab Allah ketika mereka sudah berada di tepian neraka Allah SWT.

Kurang lebih, mereka berdoa, kini kami telah melihat (dahsyatnya azabMu), kini kami telah mendengar (dahsyatnya bunyi api nerakaMu), maka kembalikan kami ya Allah ke dunia lagi, karena kini kami telah yakin, neraka itu ada.

Kembalikan kami untuk menjadi hamba yang shalih. Berjanji memperbaiki seluruh aktivitas maksiat yang dahulunya diperbuat.

Akankah Allah swt mengabulkan permintaan ini?

Tentu saja tidak. Bahkan Allah SWt mengejek dan menghina mereka yang lalai akan pertemuan itu (hari kiamat dan yaumil hisab), Allah menyebutnya; “Rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini, sesungguhnya kamipun melalaikan kamu, dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang kamu telah lakukan” (Q.S. As Sajadah:14). 

Jelas inilah kondisi orang-orang yang terhina karena dosa-dosa yang mereka cuai saat di dunia dulu.

Sebenarnya kita diajarkan untuk meminta kepada Allah SWT pertolongan agar kita dihindarkan dari neraka Allah SWT.

Doa yang sudah kita, anak kita, bahkan cucu kita menghafalnya dengan baik adalah yang dikenal dengan istilah doa sapu jagad, yang terdapat dalam Q.S. Albaqarah 201: “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Jika doa ini kita bagi ke pada tiga bagian, maka maka bagian pertama tidak ada persoalan antara pemahaman dan sikap serta prilaku kita.

Dr Israk Ahmadsyah
Dr. Israk Ahmadsyah.

Apa yang kita rasakan, saat kita menginginkan kebahagiaan dunia, maka kita sadar kebahagian itu (seperti kemakmuran) baru bisa didapat setelah kita berusaha semaksimal mungkin. Seorang pebisnis misalnya, akan terus berfikir bagaimana mengembangkan bisnisnya.

Apakah selama ini pelayanan untuk konsumen sudah prima?

Jika belum, perlukah adanya training untuk staf demi menaikkan kualitas pelayanan mereka? Apakah supplier yang selama ini menjadi mitra kita sudah cukup? Bukankah dengan mengembangkan net work, maka usaha bisnis kita akan lebih maju?

Perlukah penambahan modal agar skala bisnis lebih besar dan mampu meraup keuntungan yang kebih besar?

Perlukah kita mengadopsi kelebihan IT dalam usaha kita demi mempercepat laju penjualan? Upaya demi upaya terus dilakukannya.

Demikian juga bagi seorang dosen, pegawai  pemerintah atau swasta, selalu berfikir bagaimana meningkatkan karir agar sukses dunia ini bisa terealisasikan dengan baik.

Hari ini dosen disibukkan dengan penelitian scopus, demi sukses mengejar pangkat yang lebih tinggi.

Seorang pekerja akan mengikuti berbagai training dan pelatihan demi mendapatkan jabatan yang lebih baik.

Bagi orang tua juga demikian, demi anak-anaknya sukses, tidak keberatan menyekolahkan mereka di sekolah bonafit, bilingual school meski dengan membayar mahal, agar kedepannya anak itu lebih sukses. Impian, doa yang kemudian dibarengi dengan iktiar.

Maka wajar ketika dari ujung rambut hingga ke ujung kaki kita memahami bahwa kebahagian dunia itu didapat setelah adanya ikhtiar. Sering kita mendengar “man jadda wajada”, ada usaha maka ada hasil.

Artinya untuk mencapai kebahagian dunia, maka tidak ada persoalan antara pemahaman dan aktivitas yang kita lakukan.

Sayangnya, prilaku dan sikap ini tidak sama, saat seseorang itu berdoa agar ia sukses (bahagia) untuk akhiratnya.

Pemahaman ini tidak dibarengi oleh ikhtiar yang maksimal. Impian itu tidak dibarengi dengan usaha.

Misalnya dalam beribadah, kita tidak mengejar shalat subuh berjamaah, atau bangun malam untuk mendirikan qiyamullail.

Kita sudah puas hanya dengan hadir shalat berjamaah di masjid saat shalat maghrib saja. Subuh kita cuek dengan jamaah meski fadhilah nya luar biasa, dan meski ancaman bagi yang tidak melakukannya juga luar biasa.

Belum lagi bicara shalat malam, puasa sunah, zikir dan ibadah sunnah lainnya.

Dari sisi harta, sedekah dan infaq kita cukup sedikit, karena kita masih berfikir pragmatis, berfikir bahwa harta yang diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, panti asuhan, masjid, akan mengurangi jumlah harta yang dimiliki.

Semakin besar jumlah dana yang kita keluarkan untuk ZISwaf (Zakat, Infaq, Shadaqah dan Waqaf) maka akan semakin sedikit tersisa harta kita. Akhirnya kita menjadi hamba yang kikir.

Kita mencukupkan dengan sedekah yang kecil-kecil saja. Padahal setiap satu kebaikan yang kita berikan, maka Allah SWT akan menggandakannya paling kecil dengan 10 kali ganda.

Allah menyatakan hal itu di dalam Q.S.An Annamlu: 160). Jika satu kali ganda itu sama dengan 100%, maka Allah SWT akan mengembalikan kepada sipelaku 1.000%.

Perusahaan manakah yang mampu mengembalikan ‘return’ atas investasi kita sebanyak 1.000%?

Tidak ada, kecuali berinvestasi dengan perusahaan Allah SWT.

Belum lagi jika dikaitkan dengan Q.S. Al Baqarah: 261 di mana Allah akan mengembalikan kepada hambaNya yang mengeluarkan infaq di jalannya sebanyak 700 kali ganda (7.000%).

Bahkan Allah akan memberikan balasan sesuai dengan kehendaknya.  Keyakinan akan ‘return’ dari Allah SWT  yang begitu tinggi masih sangat lemah. Padahal bukan cuma pahala yang digandakan, tapi juga hartanya akan digandakan.  

Artinya, keinginan akan kebagiaan akhirat juga harus dibarengi dengan ikhtiar. Hal itu sejalan dengan pesan Allah SWT pada Q.S Al Isra’ ayat 19, di mana Allah menyebutkan  “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”

Jelas sekali bahwa menggapai kebahagian akhirat juga harus dibarengi dengan ikhtiar yang maksimal. Tidak akan mungkin sama orang yang mentaati Allah dan Rasulnya dengan orang yang cuek atau melalaikan urusan agama, apalagi kalau termasuk golongan yang mencemoohkan, menghina Islam.

Allah menyatakan “tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni syurga, para penghuni syurga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan” (Q.S.Hasyr: 20).

Kaitan dengan penggalan ketiga, “waqina ‘adzabannar” juga selayaknya dan sepantasnya diartikan sebagai pemahaman yang harus diikuti dengan ikhtiar.

Jika penggalan kedua ikhtiar kita dimaksudnya untuk berbuat, maka ikhtiar kita untuk penggalan ketiga untuk meninggalkan seluruh perbuatan maksiat.  Mulai dari syirik, membunuh, memperkosa, menzalimi, menyiksa, merampok, mencuri dan sebagainya.  Termasuk maksiat dalam urusan bermuamalah.

Dalam urusan mencari harta kita diingatkan oleh Allah SWT di mana Allah SWT berfirman  “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar ridha.. (QS. Annisa : 29)”.

Baginda Rasulullah SAW, juga ikut mengingatkan kita di mana Baginda SAW bersabda yang bermaksud: “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka api nerakalah yang lebih layak baginya.” – (Hadis riwayat at-Tirmizi).

Keyakinan akan peringatan ini harus dibarengi dengan ikhtiar kita dalam rangka menjauhi seluruh laranganNya.

Spirit ‘waqina ‘adzabannar, harus  menyatu dalam tubuh kita, maka kita akan menjauhi dari memperkaya diri dengan cara-cara yang batil seperti korupsi, membuat kwitansi mark up, membuat projek fiktif, menipu dalam berdagang semisal curang dalam timbangan, bertransaksi haram misalnya ikut dalam investasi judi, tidak tellibat dengan transaksi riba, gharar, maisir dan dhalim.

Tidak menyuap atau menyogok aparatur pemerintah demi menggolkan proyek yang sedang dilelang, dan juga tidak berkhianat dengan sesama pebisnis. 

Khusus pelarangan riba, Allah SWT telah mengancam perang bagi para pelakunya.

Hal ini jelas terlihat dari pesan  Allah SWT “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu…(Al Baqarah: 279). Seiring dengan ancaman perang dalam ayat di atas, ternyata Rasul juga memberikan ‘warning’ keras untuk pelaku  riba “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim).

Nabi mengingatkan kita “Riba itu ada tujuh puluh dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, no. 2274).

Karenanya sudah sepantasnya spirit ‘waqina ‘adzabannar’ harus menjadi prinsip hidup kita. Harus menjadi acuan pada setiap aktivitas kita termasuk dalam bermuamalah.

Sehingga tidak ada keinginan kita menentang pemberlakuan hukum syariah, semisal penetapan  Qanun No. 11 tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah misalnya, karena ini wujud implementasi kebijakan pemerintah dalam rangka mewujudkan prinsip ‘waqina ‘adzabannar’ dalam kehidupan.

Tentunya, bukan saja dalam hal pelarangan riba, tapi mewujudkannya dalam seluruh kebijakan pemerintah.

Semoga dengan meyakini prinsip ini, dan dibarengi dengan ikhtiar menghindari dari aktivitas dosa, maka kita nanti di yaumil hisab dihisab dengan hisab yang ringan, dan bisa langsung menikmati syurga, tanpa melalui (via) neraka.

Karena Allah mengingatkan kita, satu hari di nerakaNya, sama seperti 1000 tahun ukuran waktu dunia kita.

Pentingnya aplikasi ‘waqina ‘adzabannar karena sukses akhirat bukan hanya sekedar masuk syurga, tapi masuk syurga tanpa melalui nerakaNya. Wallahu’alam. (*)

Penulis adalah dosen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Wakil Ketua Umum IKADI (Ikatan Da’I Indonesia) Aceh, dan Sekretaris I Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Aceh.