Liputan Khusus

Membongkar Kecurangan Seleksi Penerimaan Anggota Panwas Desa di Kecamatan Jangka

“Wate ta tanyong bak nilai tes pue hanseb nilai sampo hana lewat. Hana dituoh jelaskan awak Panwascam,”

Foto | Ilustrasi

ACEHSATU.COM | BIREUEN – Proses rekrutmen penerimaan anggota panitia pengawas pemilu (Panwaslu) desa yang diseleksi oleh Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Kecamatan Jangka penuh dengan indikasi  kecurangan.

Masalahnya, mulai dari tidak ada yang ikut  tes, ada yang juga yang tidak bisa baca  quran, tapi diluluskan.

Tidak hanya itu, peserta juga mengaku kecewa proses seleksi petugas Panwaslu Desa karena terindikasi sarat nepotisme.

Sehingga terkesan tes yang dibuat hanya formalitas saja.

Indikasi kecurangan dalam proses seleksi tersebut diungkapkan Musri, warga Bugak Krueng kepada ACEHSATU, Ahad (10/6/2018).

Musri mengaku kecewa terhadap Panwaslu Kecamatan Jangka.

Ia mengungkapkan sejumlah indikasi kecurangan seperti tes baca Al-Qur’an ada peserta tes  tidak bisa membaca Al-Qur’an.

Tapi lulus.

Bahkan yang lebih aneh lagi ada yang tidak ikut tes seperti salah seorang peserta bernama Mustafa dari Pulo Blang tidak mengikuti tes disaat pengumuman di lulus.

“Yang lebih parah lagi, ada yang menjabat sebagai KPPS di Sektariat Gampong juga diluluskan jadi Panwaslu Desa. Secara aturan ini tidak bisa,” protes Musri.

Musri berharap kepada anggota Banwaslu Kabupaten Bireuen agar dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Panwascam Kecamatan Jangka.

Agar dikemudian hari proses pelaksanaan Pemilu di Kecamatan Jangka dapat berlangsung dengan jujur dan adil.

Senada diungkapkan Afrizal Warga Gampong Jangka Alue U.

Ia mengungkapkan, panitia seleksi tidak fair, saudara panitia lulus.

“Sementara kami yang tak ada beking tak lulus,” keluh Afrizal.

Ia juga menunturkan pihak Panwascam Jangka dalam menilai hasil tes peserta tidak profesional. Dimana dalam tes tulis maupun tes wawancara banyak peserta tidak mampu menjawab diluluskan dikemudian hari.

Afrizal mengakui ia sempat mempertayakan mekanisme tes yang dibuat oleh Panwascam, Namun jawaban yang dijelaskan tidak mengambarkan nilai keadilan bagi peserta yang mengikuti tes.

Wate tatanyong bak nilai tes pu hanseb nilai sehingga hana lewat. Hana dituoh jelaskan awak Panwascam,” jelas Afrizal  dalam Bahasa Aceh.

Ia juga menyebutkan ada beberapa orang sudah mampu dan pernah menjadi anggota Panwaslu desa sebelumnya namun tidak lulus dikarenakan tidak mempunyai beking di Panwascam Jangka. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top