oleh

Membedah Tikaman Sajak De Kemalawati

ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA

Oleh: D Kemalawati

 

Orang-orang yang bukan hanya

membawa api

Mereka juga membawa angin

Menjauhkan hujan

Setelah semua menjadi abu

Mereka terbahak

Berlalu

 

Orang-orang yang mementingkan

Sejengkal perut

Hanya akan berebut remah

Bergaya seperti tuan raja

Yang selamanya memiliki tahta

 

Orang-orang telah terbiasa hidup

Bermuka-muka

Hingga tak tahu muka mana

Nantinya menemui Tuhannya

 

Banda Aceh,  15 Oktober 2018

ERA KEKUASAAN (Analisis Tema)

“Bergaya seperti tuan raja

Yang selamanya memiliki tahta”

Dua larik ini dari sajak di atas memberikan suatu pedoman bahwa sajak milik penyair perempuan Aceh D Kemalawati sedang menganulir kekuasaan yang terus simpang siur memasuki dan menghibukkan era.

Era kekuasaan adalah masa yang menjadikan kemampuan menguasai dan menjadi pemimpin lebih diagungi, melepas dari fungsi-fungsi kekuasaan itu sendiri, sebab kekuasaan dalam terminologi hukum justru memberi tugas yang berat dan menganjurkan jiwa adil dan jiwa benar di tiap putusan kuasa sang pemimpin.

Sejak bergulirnya reformasi, absoluditas kekuasaan khususnya di Indonesia dan umumnya di Asia serta energi revolusi bahkan menghenyakkan dagu pikir kita, riwayat kekuasaan terus bermetamorfosis alasannya akibat kekuasaan telah sirna dari ajaran, nilai-nilai kekuasaan telah berjarak dari fungsinya sendiri sebagai titipan nilai keTuhanan pada diri manusia akal, manusia pikir.

Era kepemimpinan terjebak pada saratnya pemenuhan nafsu dan pemenuhan selera koloni dan ambisius atas apa yang semata amanah untuk terus mereguk nikmat dilayani bukan justru melayani.

Reformasi bergulir sejak 1998 menghasilkan problematika kekuasaan yang tak mudah terbaca dengan hanya mengandalkan kacamata sosial, ekonomi dan bahkan pandangan kita terhadap nilai beragama tidak berhasil membuahkan kekuasaan di Indonesia berada pada jalan aman.

DEKONSTRUKSI PUISI (Analisis Ide)

“Setelah semua menjadi abu

Mereka terbahak”

Pengalaman dua larik De ini membawahi rasionalitas atas rumus sebab dan akibat, penyair menulis sajaknya dengan mendahulukan bait tentang persoalan kehancuran dari atas nama kekuasaan, ia menulis “setelah semua menjadi abu” bermakna kesia-siaan, menganaksungailah penyesalan, berbaris dengan rapi kesalahan-kesalahan.

Argumen De bukanlah sebuah imajiner, tetapi sulit terbantahkan, pembaca barangkali bisa menganalogikan berbagai situasi politik di belahan dunia ketiga, di saat Indonesia goyah oleh politik praktis, negeri lain pun tak luput dari sisipan yang sama dari soal kekuasaan timpang.

Simbolik sajak abu, juga mengetengahkan betapa sia-sianya pengorbanan dan modal membangun dan menghasilkan kekuasaan itu sendiri, padahal berkat ayat-ayat dalam terminologi agama maupun budaya.

Kekuasaan pada tingkat tertentu tidaklah menjadi satu-satunya patron nilai kemajuan ataupun bab terpenting bagi peradaban manusia, namun terdapat banyak cara lain selain kekuasan semata dalam memajukan suatu bangsa, suatu entitas harus juga tunduk pada alamnya yang memiliki sistem tersendiri, tsunami usai gempa menghentak, kekuasaan tertinggal di bawah lumpur hukum alam.

“Orang-orang telah terbiasa hidup

Bermuka-muka”

Larik ini dengan gamblang hendak dimaksudkan penyairnya bahwa pembiasaan kepalsuan, anggap membudayanya penipuan dan bisa diterimanya pengkhianatan, ini adalah kausalitas dari rendahnya nilai keadilan dan moral, goyahnya hukum melahirkan anggapan “ahh biasa” suara keadilan seperti lenyap dan terbungkam oleh nilai materi berbanding nilai normatif.

Di Aceh, keadilan bagi pelaku zina atau khalwat bagi kaum ber-‘uang’ dapat ditutupi dengan puluhan juta angka denda rupiah, lalu menisbikan peran keadilan dari sisi khafahnya syariat Islam juga menjadi konteks yang sama rupa atas apa yang De sebut dalam sajaknya berganti muka, seolah hukum bisa diubah sekehendak pemimpin atau majelis yang melegalisasikan standar hukuman.

Fase terakhir dari persoalan berganti wajah dan menjadikan wajah kekuasaan sebagai barter challenge, bebas pilih akhirnya melahirkan kesadaran yang antitesis, bahwa hukum dan keadilan bisa berganti wajah sesuai nafsu sang kuasa, sang pimpinan, politik Aceh juga tak terlepas dari soalan ini, yang dahulu musuh dan halal darahnya dibunuh, kini adalah kawan semeja kopi.

Jika dulu dihadang di hutan tetapi kini memudahkan meraih puncak politik di daerah lantas menjadi karib pembela sejati, muka bermuka, tipu dan tak tertipu sudah menjadi tontonan biasa dan lekang dari pertanggungan dosa moral, namun tentu tidak ‘agama’.

AMARAH LUNAK SANG PENYAIR (Ekstrinsikalitas)

Membaca sajak ini, larik dari pilihan diksinya, bagi pembaca yang tidak mengenali secara pasti sosok penyair tentu akan sedikit mengalami rentetan intisasar. Berbeda halnya ketika penganalisis sajak dapat bersengaja menganalisis perjalanan panjang penyair De dalam dunia sastra sajak dan apalagi dalam soal tema ‘kekuasaan’ khusus di sajak kali ini.

De merupakan penyair yang juga birokrat, mirip dengan Teuku Ahmad Dadek dan maupun Barlian AW atau Syarif Aliza bahkan penyair lainnya yang akrab dengan Dialektika Kekuasaan di selingkaran kesehatian hidup mereka dan sengaja tak disebutkan di tulisan amat terbatas ini.

Sedangkan para penyair Aceh lain yang sama sekali tidak berada dalam suasana kekuasaan maupun birokrasi, bisa kita sebutkan antaranya; Mustiar Ar, Hasbi Burman, Din Saja dan beberapa nama seangkatannya, maka cara menghadapi konteks maupun nilai ‘materi’ sajak-sajak mereka tetaplah harus beda perlakuan.

Menariknya sajak De adalah dalam soal menahan diri untuk tidak terlalu sekonyong-konyong menyebut pihak mana yang hendak ia titipi tegur sapanya. Penyair perempuan ini menyampaikan perumpamaan dan perhiasan kritik nilai dari ketimpangan atmosfir kekuasaan yang dirasakannya.

Bergerak menuju penisbian atas ketimpangan, De malah membagi untuk pembaca sajaknya “begini lho situasinya saat ini” bahwa kekuasaan telah berganti muka sekonyong-konyongnya untuk tidak bertanggung jawab bila berakibat hempasan debu sia-sia.

De Kemalawati selain memberikan pembacaan yang sarat menahan emosi dalam memilih diksi, pada sajak ini melepaskan kehendak “mimbar”-nya dengan istigfar menuliskan Tuhan sebagai antiklimaks konflik batin sajak. Segala kembali soal keTuhanan, tipikal ini semakin jamak ketika kesadaran sebagai insan pada diri bangsa ini bahwa segala kekuasaan dan ketimpangan mestinya mencari petunjuk.

Sastrawan De berjabat tentang berbagai tema dan nilai-nilai aktualitas kedirian sebagai asupan bagi bacaan sastra. De sekaligus saksi seperti demikianlah kekuasaan pada fase medio Oktober 2018.

Penyair sejatinya pencatat yang baik dan rinci namun melalui simbol-simbol linguistik bahasa bertaut erat dengan nilai sastra, karenanya amatlah berbeda dengan laporan para antropolog apalagi sejarawan yang menulis dari apa yang sudah jadi sisa.

Penyair mengaktualisasi laporan terkini untuk memicu kesadaran pembaca, agar tidak diganti halusinasi kekuasaan dan tema lainnya yang terus beragam. (*)

Terus berkarya De Kemalawati.

Komentar

Indeks Berita