Membangun Ekonomi Indonesia Ditengah Resesi Ekonomi Dunia

ilustrasi rupiah

Oleh : Dr. Zainuddin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Tak dipungkiri kehadiran Covid-19 memporak poranda ekonomi dunia dan sepertinya bangsa-bangsa di dunia harus bersiap-siap menghadapi keadaan yang paling buruk bila eksistensi Covid-19 makin betah tinggal berlama-lama di muka bumi ini.

Negara-negara di dunia harus memiliki data tentang sektor-sektor mana yang mampu bertahan dan malah bisa tumbuh walaupun terjadi penurunan namun tidak sampai minus.

Bila itu sudah didapatkan, maka sebenarnya penopang ekonomi negara tersebut yang utama ada sektor yang mampu bertahan tersebut.

Karena apabila negara belum mampu mengambil hikmah dari kemelorosotan ekonomi seperti sekarang ini dengan tindakan nyata memperkuat sektor yang mampu bertahan, maka dapat dipastikan ibarat kapal sedang mengalami kebocoran labung kapal dan sang kapten memiliki pilihan penyelamatan hanya satu cara yaitu kembali ke dermaga sebelum terlalu jauh berlayar dengan akibat akan tertunda perjalanan beberapa saat tapi bisa selamat untuk semua.

Namun, bila sang kapten memiliki gengsi yang tidak logika hanya ingin dikatakan hebat dalam menjelajah samudera dan pemberani dengan penuh percaya diri demi tercapai ambisi bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu, maka kapal besar itu kan benar-benar tenggelam dan akan hilang diperadaran untuk selamanya.

Bila kita merujuk pada publikasi Badan Pusat Statitik (BPS) bahwa dalam kemerosotan ekonomi pada kuartal kedua 2020 hingga minus 5,3 persen lebih dan dalam keadaan seperti itu ada sektor ekonomi yang bisa bertahan, maka hendaknya sektor yang bertahan itu harus ditetapkan sebagai primadona penopang ekonomi bangsa.

Menurut BPS bahwa PDB pertanian tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara y0y, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19 persen walau pun keadaan ekonomi secara umum merosot tajam hingga 5,3 persen lebih dan bahkan bisa lebih parah lagi di kemudian hari.

Asumsinya, publikasi tersebut benar maka kemudian dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sektor pertanian lah yang masih bisa bertahan dalam keadaan krisis kemanusiaan seperti sekarang ini untuk Indonesia.

Dengan demikian, seperti tamsilan kapal yang lambungnya bocor sebelumnya, maka pemangku kepentingan Indonesia harus cekatan memilih skala priority langkah-langkah strategis sektor mana yang secara insetensif dilakukan penguatan dengan menggerakan potensi energi yang masih ada agar kapal besar Republik Indonesia mengikuti seperti tindakan sang kapten yang emosional yang membuat kapal itu tenggelam ditengah samudra.

Tindakan nyata yang bisa diambil bila pemangku kepentingan bersikap memilih alternative memperkuat sektor yang masih bisa bertahan dalam pandemic seperti sekarang ini adalah dengan cara menganggarkan dana untuk memberi insentif lebih bersar kepada para petani agar lebih giat lagi bercocok tanam dan pasar untuk produk pertanian harus semua ditampung oleh pemerintah melalui Bulog.

Insentif yang dimaksud diberikan bukan seperti memberi makan untuk sebulan, melainkan pemberian yang produktif atau dengan kata lain rakyat tani didanai untuk berproduksi, dan bila ini dilakukan dengan melakukan kajian yang mendalam tentunya bukan tidak mungkin Indonesia bakal swasembada pangan ditengah-tengah pandemic Covid-19.

Apabila sektor pertanian sudah bisa memberi kontribusi untuk ketahanan pangan nasional dan tejadi kemakmuran di tingkat rakyat tani yang nyata-nyata masih kelompok terbanyak dari populasi penduduk Indonesia, maka dengan sendirinya sektor-sektor lain pun bias dengan mudah dibenahi seumpama menciptakan peningkatan daya beli ditingkat masyarakat banyak dan gairah pasar terutama pada barang konsumsi karena masyrakat sudah memiliki pendapatan.

Setelah sektor pertanian dapat di manage dengan baik tentu pemangku kepentingan bisa beralih memperbaiki sektor-sektor lain karena bisa saja insentif kepada rakyat tani dihentikan dan bahkan dana bantuan tunai lainya dapat dihentikan untuk dialihkan memperbaiki infrastruktur sektor-sektor ekonomi lainya yang sangat menderita dimasa convid-19.

Tidak mudah memang beriskap untuk berpihak kepada sektor pertanian karena gengsi yang kadung terlanjur di klaim kewibawaan negara diukur maju itu yang tesiernya mantap dan industrinya oke.

Bila gensi itu dipertahankan, maka lagi-lagi akan benar-benar kapal besar Indonesia raya seperti nasip kapal tenggelam ditengah-tengah samudra.

Suasana merdeka dicirikan bebas berimajinasi dan bisa diperdebatakan demi manambah wawasan itu sendiri, karena orang cerdas itu yang terus-menerus berimajinasi dan salah itu sudah pasti, namun atas kesalahan tersebut dicari cara atau metoda untuk menghasilkan yang benar.

Sekarang kebenaran statemen kita harus bisa berteman dengan covid-19 hampir tebukti adanya, karena kehidupan masa depan tak mungkin tak ada covid-19, dan berteman yang dimaksud adalah hanya tamsilan agar kita kudu waspada tinggi setiap hari untuk melindungi diri. Amiin (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Politik USM Aceh)