oleh

Membangun Asa di Ujung Sumatera

-Bisnis-87 views

ACEHSATU.COM  — Peristiwa tsunami tidak hanya meluluhlantakkan bangunan fisik, tapi juga struktur sosial.

Bagi sebahagian mereka yang jadi korban, asmilsi dengan lingkungan baru adalah sebuah keharusan.

Hampir 15 tahun berlalu.

Pagi itu, Jumat (26/7/2019), cuaca cerah di langit Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.

Kilau matahari bersinar dari sisi timur.

Semilir angin perlahan menyapu pepohonan cemara yang berdiri tegak di antara seratusan rumah dengan konstruksi serupa.

Di perumahan Indrapatra.

Dari jalanan desa yang belum di aspal, tampak beberapa kelompok wanita yang terdiri dari 3-5 orang.

Mereka duduk di teras, gazebo, dan di dalam rumah. Ada yang mengupas pisang. Sebahagian memotong tipis, dan menjemurnya.

“Pisang rakit telah menjadi pencaharian mayoritas bagi masyarakat disini”, ujar Bu Asri.

Asri adalah warga yang berasal dari Lamno. Ia menuturkan, masyarakat yang menetap di rumah bantuan, hampir seluruhnya merupakan masyarakat korban tsunami yang sebelumnya tinggal di Barak Cot Cut.

Asalnya pun beragam. Ada yang dari Kluet, Aceh Selatan, Calang, Aceh Jaya, Meulaboh, Aceh Barat, hingga Nagan Raya.

Rumah bantuan dari Australia Red Cross ini awalnya ditempati pada Agustus 2008. Ada 160 unit yang dibangun.

Saat ini, tidak semua terisi.

Sebahagian telah pindah dengan berbagai alasan. Asri menjadi salah satu warga yang bertahan.

Sejumlah warga yang bertahan memilih usaha pisang rakit sebagai pencaharian.

Selain proses pengolahan tidak begitu rumit, usaha ini menjanjikan secara bisnis. Asri menuturkan, dalam seminggu ia mampu mengolah 25 tandan pisang.

“Pisang diperoleh dari Pasar Lambaro, warga disini membeli di waktu subuh. Umumnya kami menyewa becak untuk trasnportasi dari Lambaro ke Ladong,” lanjutnya.

Pisang rakit merupakan penganan olahan yang berbahan baku pisang wak, atau dikenal dengan nama latin musa acuminata.

Proses pembuatannya sangat sederhana, pisang wak yang belum sepenuhnyat matang dikupas kulitnya, ditiriskan tipis dari pangkal ke ujung.

Selanjutnya, pisang disusun di atas plastik sehingga membentuk pola rakit.

Setiap pisang rakit berbentuk persegi panjang dengan dimensi 15 cm x 8 cm.

Setelah dibentuk, pisang dijemur dengan mengandalkan cahaya matahari.

Setelah melalui proses pengurangan kadar air, pisang rakit selanjutnya di angkat dari plastik dan disusun satu persatu dengan ketebalan 5-10 cm.

Foto : Asri (40), salah seorang warga Perumahan Indrapatra, Ladong, Aceh Besar bersama produk olahannya, pisang rakit.

“Sebahagian ada yang menjual pisang rakit dengan cara digoreng dengan menggunakan tepung, tapi umumnya masyarakat disini menjual mentah. Selain praktis, kami juga tidak dipusingkan dengan pengolahan dan pemasaran,” ujar Asri.

Ia melanjutkan, sejumlah pengumpul secara rutin mendatangi masyarakat disini untuk membeli pisang rakit mentah.

Lalu, penganan tersebut diolah kembali dengan cara menggorengnya dengan tepung, dan dijual secara eceran dengan variasi harga Rp 1.500,- hingga Rp. 3.000,-, bergantung pada varian ukuran.

“Produk olahan kami dibawa ke beberapa kabupaten di Aceh, Medan, bahkan Saya dengar ada yang membawanya ke Malaysia,” ujarnya.

Ia lalu melanjutkan, produksi pisang rakit warga disini sebenarnya belum mampu memenuhi permintaan pasar.

Para pengumpul seluruhnya bersedia menerima olahan pisang rakit berapapun yang dihasilkan.

Namun, karena sejumlah keterbatasan, kuantitas produk belum optimal untuk memanfaatkan potensi pasar.

Meski demikian, kini sejumlah warga perlahan mulai mampu meningkatkan kapasitas produksinya.

”Sejumlah warga disini telah memperoleh pembiayaan mikro dari Bank Aceh, sehingga keterbatasan modal dapat teratasi. Prosesnya mudah dan cepat”, lanjutnya.

Asri menuturukan, profesi yang dijalaninya saat ini sangat membantu kebutuhan rumah tangganya.

Ia memiliki enam orang anak.

Kini, dengan kerja keras yang dilakoninya, seorang anaknya telah menerima beasiswa untuk kuliah di Australia.

Di ujung sumatera, cahaya matahari kian terasa.

Asri mulai bangkit dan membalik pisang di halaman depan rumahnya.

Terik matahari seolah menjadi pertanda bagi asa yang lebih baik di masa akan datang. (*)

Komentar

Indeks Berita