Melalui Pendekatan Agama, Perlindungan Satwa dan Ekosistem Hutan Lebih Relevan

"Memperlakukan satwa langka secara baik dengan jalan melindungi dan menjamin keberlangsungan hidup hewan itu hukumnya adalah wajib.
Menurut Shabela pendekatan agama relevan untuk perlindungan satwa
Bupati Shabela Abubakar menghadiri acara Sosialisasi Fatwa MUI tentang Pelestarian Satwa dan Ekosistem di Aula Kantor Camat Linge, Aceh Tengah, Selasa (17/5/2022)

ACEHSATU.COM | Takengon – Melalui pendekatan agama, Perlindungan satwa dan ekosistem hutan lebih relevan.

Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar menyebut perlindungan satwa langka dan pelestarian ekosistem hutan di daerah itu sangat relevan dilakukan melalui pendekatan agama.

Menurutnya konflik manusia dan hewan serta kerusakan ekosistem yang marak terjadi tidak terlepas dari kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat

tentang ajaran agama Islam yang mengatur keharusan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestariannya.

“Memperlakukan satwa langka secara baik dengan jalan melindungi dan menjamin keberlangsungan hidup hewan itu hukumnya adalah wajib.

Oleh karenanya, upaya-upaya pencegahan secara konvensional yang selama ini telah kita lakukan dapat dikolaborasikan dengan pendekatan agama melalui peran-peran ulama, tengku guru, dan tokoh masyarakat,” kata Shabela Abubakar, Rabu.

Hal itu disampaikan Shabela saat menghadiri acara Sosialisasi Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka Untuk Keseimbangan Ekosistem di Aula Kantor Camat Linge, Kabupaten Aceh Tengah. 

Shabela mengatakan upaya perlindungan satwa langka dan pelestarian ekosistem dengan pendekatan agama merupakan satu cara yang belum banyak dilakukan.

Namun dari hasil penelitian kata dia ternyata mampu secara efektif memberikan perubahan persepsi dan kesadaran pada masyarakat.

Selain itu Bupati ini juga menginstruksikan kepada para camat agar memfasilitasi desa-desa yang berada pada kawasan hutan untuk dapat membuat aturan khusus tentang perlindungan satwa dan pelestarian ekosistem di masing-masing desa.

“Tolong para reje (Kepala desa) buat Qanun Kampung tentang larangan-larangan tertentu dalam rangka pelestarian satwa langka dan menjaga keseimbangan ekosistem, seperti dilarang menembak burung dengan senapan angin, memasang jerat hewan dilindungi, atau menangkap/membunuh hewan dengan cara meracun,” tagas Shabela.

Kegiatan sosialisasi tersebut diprakarsai oleh Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAKA) bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Tujuannya adalah agar Fatwa MUI tentang perlindungan satwa dan pelestarian ekosistem mendapat perhatian dan tersampaikan kepada masyarakat.