oleh

Media Amerika Sebut Aceh tidak Toleran terhadap Umat Kristiani

-Indeks-84 views

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Sebuah laporan yang diterbitkan media milik Pemerintah Amerika Serikat, Voice of America (VoA) menyebutkan bahwa Aceh adalah sebuah provinsi yang dihuni kaum ultrakonservatif (ortodok) Islam dan mengekang kebebasan beragama, khususnya dalam perayaan natal dan tahun baru umat Kristiani.

VoA dalam situs portal voanews.com yang diterbitkan pada Kamis (28/12/2017), awalnya menulis dalam perspektif positif yang diberi judul ‘Christmas Largely Peaceful in Muslim-majority Indonesia’ (Natal luar biasa damai di Indonesia di negara berpenduduk mayoritas Muslim).

VoA menyebutkan bahwa perlakuan Pemerintah Indonesia terhadap minoritas Kristen sangat baik karena menghadiahkan remisi (pengurangan masa tahanan) kepada Basuki Cahya Purnama alias Ahok–Gubernur Kristen berdarah Cina yang berkuasa sebelumnya di Jakarta.

Ahok sendiri dihukum karena menistakan kitab suci umat Islam.

Selain itu, kesiapan polisi dan tentara dalam mengamankan parayaan Natal juga mendapat apresiasi luar biasa dari media berbasis di Negeri Paman Sam itu.

Namun, sebuah judul kecil dalam artikel itu yang diberi nama ‘Kerusuhan Kecil’ justru sangat menyayat hati rakyat Aceh dengan menceritakan sikap tak toleran yang diperlihatkan masyarakat Aceh terhadap minoritas Kristen.

Dengan hanya mengambil narasumber dari Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch, VoA menyimpulkan Islam di Aceh terkesan sangat konservatif dan ekstrim.

Andreas menyebutkan bahwa Pada 20 Desember, sekelompok Islam militan melakukan aksi demo di Banda Aceh menentang perayaan Natal dan Tahun Baru. Aksi tersebut adalah sebuah harapan agar lahirnya fatwa tidak adanya hari libur terhadap perayaan hari Natal di Aceh.

“Tidak ada tanda Natal sama sekali di sana tahun ini,” kata Andreas Harsono. “Ini lebih represif dari tahun-tahun sebelumnya,”  tambah Andreas dalam pernyataannya yang terlihat sangat subjektif.

Ada yang lebih ganjil dengan data yang dilansir VoA tanpa memverifikasinya dengan menyebutkan bahwa ada sekitar 50.000 orang Kristen di Aceh dan mereka terus bersuara mempertahankan perayaan Natal dan Tahun Baru sejak beberapa tahun terakhir.

Padahal, di Aceh nyaris tidak pernah terdengar ada pelarangan perayaan hari besar agama lain.

Selain itu, VoA juga menulis, sedikitnya terdapat sembilan gereja di Aceh yang dibongkar pada tahun 2016 karena pelanggaran aturan membangun rumah ibadah. Semua laporan yang sangat asumtif itu tentu sangat tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Seperti diketahui, tidak ada rumah ibadah yang dirobohkan, kecuali yang tempat peribadatan yang tidak memenuhi syarat pendirian rumah ibadah seperti yang sudah disepekati oleh semua tokoh agama yang tergabung dalam  Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Berikut kutipan asli laporan VoA dalam edisi Inggris: 

Minor unrest

The only major Christmas-related protest took place in Aceh, an ultraconservative province in Western Indonesia ruled by sharia law. On December 20, militant Islamists protested at the capital of Banda Aceh against Christmas and New Year’s Eve celebrations, in hopes of prompting a fatwa against those holidays from the local clerics.

“There are no Christmas signs at all there this year,” said Andreas Harsono, an Indonesia researcher with Human Rights Watch. “It is more repressive than in previous years.”

There are about 50,000 Christians in Aceh, but they have kept their celebrations quiet in recent years. Nine churches in the province were demolished in 2016 because of building code violations. (*)

Komentar

Indeks Berita