Mayat Ditemukan Mengapung di Sungai Tambon Ternyata Santri Dayah Abu Paloh Gadeng

Mayat laki-laki yang ditemukan mengapung di sungai Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (9/3), akhirnya terungkap.
Dayah Abu Paloh Gadeng
Petugas mengevakuasi sesosok mayat laki-laki tanpa identitas yang ditemukan mengapung di sungai, Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (9/3/2021). (Antara Aceh/HO)

ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE  – Mayat laki-laki yang ditemukan mengapung di sungai Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (9/3), akhirnya terungkap.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto melalui Kasubbag Humas Salman Alfarisi di Lhokseumawe, Kamis, mengatakan korban diketahui Muhammad Rizki (13), warga Desa Baloy Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

“Terungkapnya identitas korban berawal dari informasi seorang guru di Dayah Abu Paloh Gadeng. Sebelumnya tiga santri di dayah tersebut memberitahukan kepada guru mereka bahwa mayat laki-laki ditemukan di sungai itu temannya yang tenggelam saat memancing,” kata Salman.

Dayah Abu Paloh Gadeng
Petugas mengevakuasi sesosok mayat laki-laki tanpa identitas yang ditemukan mengapung di sungai, Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (9/3/2021). (Antara Aceh/HO)

Ketiga santri di Dayah Abu Paloh Gadeng itu bernama Habib Zain, Raihan Maulana dan A Razi. Dari keterangan mereka, korban bersama tiga temannya berangkat dari Dayah Abu Paloh Gadeng ke sungai untuk memancing dan mandi pada Senin (8/3).

“Saat mandi, ternyata sungai tersebut dalam. Mereka semua tidak bisa berenang. Mereka berupaya menyelamatkan diri ke pinggir sungai. Namun, korban tenggelam hanya terlihat kedua tangannya,” kata Salman.

Kemudian, kata Salman, ketiga rekan korban mengambil pelepah daun kelapa dan mencoba membantu korban. Namun korban tidak dapat diselamatkan dan tenggelam di sungai.

“Ketiga saksi sempat menunggu sekitar menit menit tetapi korban tidak kunjung muncul. Sebelum kembali ke dayah, ketiga saksi sempat menyimpan pakaian korban di antara batang pohon,” katanya.

Setibanya di dayah, ketiga saksi memberitahukan kepada santri lainnya untuk menolong menyelamatkan korban. Namun karena takut tidak ada yang mau menuju ke sungai.

"Awalnya ketiga saksi takut menceritakan peristiwa tersebut kepada guru mereka, setelah adanya kabar bahwa ditemukan mayat laki-laki di sungai, barulah mereka memberitahukan kejadian tersebut," katanya.

Salman mengatakan dari pengakuan tersebut, kemudian diteruskan ke Polsek Dewantara. Polsi menjemput dua saksi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

"Setelah berkoordinasi dengan perwakilan Dayah Abu Paloh Gadeng, akhirnya petugas mendapat informasi keberadaan keluarga korban yakni di Desa Baloy Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe," kata Salman.  (*)