Budaya dan Seni

Masykur Syafruddin, Kolektor Manuskrip Kuno Perkenalkan Sejarah Kebudayaan Aceh di Singapura

Masykur Syafruddin, kolektor masnuskrip sejarah Aceh yang juga merupakan pendiri Pedir Museum di Aceh kembali mengangkat harkat dan martabat sejarah dan kebudayaan Aceh di Asia Tenggara.

ACEHSATU.COM | SINGAPURA – Masykur Syafruddin, kolektor masnuskrip sejarah Aceh yang juga merupakan pendiri Pedir Museum di Aceh kembali mengangkat harkat dan martabat sejarah dan kebudayaan Aceh di Asia Tenggara.

Masykur Syafruddin yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Aktif Universitas Islam Negeri UIN Ar Raniry Banda Aceh mempresntasikan mansukrip sejarah Aceh di University Singapura National Institute of Education NIE.

Dalam acara Haritage and Humanities, Warisan dan Kebaikan yang berlangsung selama 24 Juni hingga 1 Juli 2018.
Kepada ACEHSATU.COM, Masykur mengatakan, kunjungannya tersebut bertujuan untuk memperkenalkan tentang sejarah dan kebudayaan Islam Aceh pada dunia nternational.

Dalam kesempatan tersebut, Masykur membahas sejarah Sumatra (Samudra Pasai) di bawah Dinasti Shalihiyah serta tinggalan heritage berupa mata uang dan batu nisan, Kesultanan Aceh Darussalam.

“Saya memperkenalkan peninggalan heritage berupa mata uang dan batu nisan Kesultanan Aceh Darussalam semasa Sultan Ali Mughayat Syah hingga periode Sultan Mansur Syah, juga memperkenalkan kegiatan kerja atau usaha Pengurus Mapesa dan Pedir Museum dalam menyelamatkan khazanah Islam di Aceh,” kata Masykur, yang juga sebagai anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh.

Masykur bin Syafaruddin, Lahir di Blang Glong, Pidie pada 05 Juli 1997.

Putra ke lima dari 7 bersaudara, pasangan Syafruddin A dan Nur Asiah. Menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Beureunuen, Pidie tahun 2015.

Saat ini sebagai mahasiswa aktif pada program study Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) dengan konsentrasi Filologi dan Numismatik (kajian mata wang).

Masykur, sejak 2014 menjadi kolektor muda yang menyelamatkan warisan khazanah inteletual dan kebudayaan Aceh di masa lampau.

Sejak tahun 2016, Masykur telah membangun museum independen atas koleksinya sebanyak 2500 koleksi berupa manuskrip, mata wang dan hasil kebudayaan masyarakat Aceh di masa lalu, dan ia memberi nama dengan PEDIR Museum-Masykur Syafruddin Collections.

Saat ini selain pelajar dan kolektor, ia aktif sebagai peneliti dan pengkaji di Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) dan sering membentangkan makalah tentang filologi, numismatik dan arkeologi Aceh. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top