Masyarakat Pedalaman Aceh Kini Bisa Nikmati Jalan Mulus

Selama puluhan tahun selalu mengeluhkan terkait kondisi jalan ke wilayah tersebut yang sangat memperihatinkan.
Lokop Serbajadi
Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah didampingi Bupati Aceh Timur, H. Hasballah HM. Thaib dan Kadis PUPR Aceh, Fajri meninjau rencana segmen 1 Multiyears ruas jalan Puereulak- Lokop di Kabupaten Aceh Timur, Sabtu, (12/9/2020). Dok. Humas Aceh

ACEHSATU.COMMasyarakat yang tinggal di pedalaman Aceh, tepatnya di wilayah tengah jantung provinsi Aceh seperti Kecamatan Pining, Terangun dan Tripejaya di Kabupaten Gayo Lues, Lokop Serbejadi, Aceh Timur, Samar Kilang di Bener Meriah dan Bandar Pusaka di Aceh Tamiang.

Selama puluhan tahun selalu mengeluhkan terkait kondisi jalan ke wilayah tersebut yang sangat memperihatinkan.

Tak jarang akibat jalan rusak berdampak terhadap dunia pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat pedalaman.

Mega proyek tersebut, telah dimulai dengan nama proyek jalan poros tengah ketika Gubernur Aceh Ibrahim Hasan pada tahun 1985 mencanangkan 10 jalan terobos di pedalaman Aceh.

Namun, tahun berganti tahun tampuk pimpinan silih berganti dan Gubernur Aceh pun beralih, dari Ibrahim Hasan ke Syamsuddin Mahmud, dan program itu berubah menjadi 10 jalan terobos juga masyarakat pedalaman Aceh belum menikmati jalan yang bagus.

Lalu beralih ke Abdullah Puteh, program jalan itu berubah lagi nama menjadi Ladia Galaska, (Laut india Gayo Alas Selat Malaka) karena terlalu banyak mendapat protes dari aktivis lingkungan, hingga jalan itu menjadi terbengkalai pembangunannya. 

Pada akhirnya, di tangan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah lah melalui program Multiyesr Contract (MYC), 12 segmen jalan poros tengah yang masuk program (Aceh Hebat) berhasil dilaksanakan dengan skema tahun jamak 2020 – 2022.

Dengan anggaran Rp 2,4 triliun dan panjang ruas 700 KM lebih dan akan tuntas pada akhir 2022 ini. 

Meskipun program ini pada awalnya banyak tantangan dari DPRA Aceh kala itu.

Dari 12 ruas jalan tersebut setidaknya beberapa ruas jalan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di pedalaman antaranya Pining – Lokop Serbajadi, Lokop- Peurlak Kampung Besar, Terangun Babahrok, Pondok Baru Samarkilang dan Bandar Pusaka Simpang Jernih.

Kini setelah 1,5 tahun proyek tersebut berjalan, setidaknya telah mencapai 80 persen pembangunannya.

Kesiapan masyarakat pedalaman

Dengan adanya program pemerintah Aceh, terkait pembangunan infrastuktur masyarakat setempat khususnya yang ada di pedalaman diharapkan dapat memanfaatkan potensi daerahnya masing masing.

Terutama mengembangkan potensi pertanian, memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami, salah satu solusi untuk menyejahterakan Aceh hingga ke daerah pedalaman.

Pun demikian semoga program Pemerintahan ini dapat dukungan dari semua kalangan, bukan untuk kepentingan pribadi tapi untuk masyarakat yang selama ini menjerit di pedalaman terkait infrstruktur jalan.

Suhatsyah Tokoh masyarakat Kecamatan Pining baru baru ini mengatakan program Pemerintahan Aceh melalui Aceh Hebat telah menyentuh kepada masyarakat dengan pembangunan jalan multiyesr contrac.

Masyarakat yang tinggal di pedalaman sudah bisa melalakuan transaksi ekonomi, yang artinya hasil tani masyarakat bisa dipasarkan keluar daerah melalui jalan lintas tersebut pun sebaliknya masyarakat pesisir Aceh bisa memasarkan barang dagangannya ke ke pedalaman.

Hal senada juga dikatakan oleh tokoh masyarakat Lokop Serbejadi Aceh Timur, Berlian. Menurutnya, salah satu faktor pendukung kemajuan daerah adalah didukung infrastruktur yang bagus karena dengan tersedianya infrastruktur yang bagus masyarakat bisa memasarkan hasil taninya keluar daerah yang selama ini berkutat dengan jalan berlubang dan sulitnya membawa hasil tani keluar daerah.

Sembari mengucapkan terimakasih Pemerintahan Aceh dan berharap pihak kontraktor bisa mengerjakan proyek ini dengan baik agar masyarakat tak dirugikan.

Di samping itu, tokoh masyarakat Terangun, Muhammad juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintahan Aceh.

“Inilah saatnya kita bisa mengembangkan potensi yang ada di daerah kita melalui pertanian karna dengan adanya infrastruktur yang bagus setidaknya kita bisa keluar daerah membawa hasil pertanian,” sebutnya.

Demikian juga pendapat masyarakat Simpang Jernih Aceh Timur, Jamin. Ia mengucapkan alhamdulillah setelah bertahun tahun masyarakat Gayo Tali Naeh (masyarakat yang tinggal di Aliran Sungai Tamiang) berkutat dengan jalan berlumpur akhirnya bisa menikmati jalan mulus.

Dengan adanya program Multiyer Contrac Pemerintahan Aceh, Gayo Lues salah satu yang terletak jatung provinsi Aceh, kini sudah terkoneksi dengan kabupaten tetangga seperti Aceh Tenggara, Takengon, Aceh Timur dan Aceh Barat Daya. Ini merupakan pintu masuk ke Gayo Lues.

Hanya Lesten, eks TRD  Bluten Pulo Tige Kalul yang belum bisa dilalui.

Tak heran, Bupati Gayo Lues  Mumamad Amru mewacanakan nama Gubernur Aceh ditambalkan sebagai nama jalan Terangun Babahrot Aceh barat Daya (Abdya). (*)