Karikatur

“Marathon Gate”

Dan ‘Marathon Gate” adalah sebuah idiom. Ungkapan dari sebuah alasan untuk menjatuhkan atau dijatuhkan.

FOTO | DOK.ACEHSATU

KITA semua pasti sepakat. Korupsi adalah kejahatan terbesar manusia saat ini. Karena korupsi akan menyakiti tubuh warga negara di setiap titik.

Banyak cara berbuat korup. Ada pejabat tinggi yang menyelewengkan kekuasaanya. Ada guru yang korup waktu mengajar di sekolah, ada juga calon mahasiswa yang menyuap demi mendapatkan bangku kuliah.

Korupsi juga menjadi senjata andalan seseorang melanggengkan kekuasaaan– begitu juga sebaliknya, korupsi juga menjadi alasan seseorang bisa lengser keprabon.

Seperti halnya yang dialami Gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusuf.

Masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan gubernur yang satu ini. Irwandi memang sangat populer di media.

Tidak saja karier politik yang mentereng, tapi kepopuleran Irwandi juga ditopang kepiawaiannya mengemudi pesawat.

Kita pasti masih ingat apa yang terjadi dengan Presiden Abdurahman Wahid alias Gusdur di tahun 2001.

Kasus Bulog Gate dan Brunei Gate telah mengantar kejatuhannya dari kursi kepresidenan. Padahal Gusdur sendiri tidak pernah menyandang status tersangka sebagai seorang koruptor.

Tapi begitulah politik. Ada banyak cara sekaligus strategi—cara menjatuhkan dan strategi meraih kekuasaan.

Goenawan Moehammad pernah menulis dalam catatan pinggirnya berjudul “KPK.”

Legitimasi yang dimilki KPK memang super power. Kewenangannya tidak hanya untuk menyelidiki, tapi juga menindak.

Secara historis, KPK lahir dengan kekuasaan yang abnormal; karena posisi KPK diletakkan diantara ‘daerah tak bertuan’ antara hukum publik dan fakta politik.

Dengan kata lain kekuasaan itu ditopang hukum yang lahir dari subyektivitas yang menegaskan kedaulatannya untuk membuat pengecualian.

Tapi kedaulatan itu toh akhirnya bertopang legitimasi yang contingent. Tak ada dasar a priori bagi hak pemegang kekauasaan istimewa itu.

Maka ‘di daerah tak bertuan’ kekuasaan justru butuh pembenaran.

Apalagi KPK bukan lembaga yang mendapat mandat langsung dari rakyat. KPK pun butuh sekutu, dengan segala risiko.

Tugasnya yang luhur mengatasi kepentingan sepihak, tak berarti politik berhenti.

Kekuasaan selalu ada bersama resistensi dirinya.

Maka konflik bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Bahkan itu bisa mengakibatkan sengketa panjang tak berujung.

Selalu saja ada korbannya; bersalah atau tidak bersalah.

Sebab di ‘daerah tak bertuan’, perjuangan melawan korupsi adalah perebutan setiap ruang strategis yang tersedia.

Tiap benteng harus dikuasai, bukan dikosongkan.

Tiap langkah adalah kesetiaan, dengan kegemasan, tapi juga dengan organisasi yang dipersiapkan untuk perang 100 tahun.

Irwandi adalah contoh di antara banyak contoh. Kejatuhannya adalah pelajaran berharga bagi kita semua.

Dan ‘Marathon Gate” adalah sebuah idiom. Ungkapan dari sebuah alasan untuk menjatuhkan atau dijatuhkan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top