Mantan Kombatan GAM Desak Pemerintah Cari Solusi dan Turun Melihat Kondisi Banjir Aceh Utara

Apabila pihak Pemerintah tidak merespon dan mencari solusi permasalahan banjir , dirinya bersama masyarakat dan para Geuchik akan mendatangi  Kantor Bupati maupun DPRK Aceh Utara untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang memang tidak dihiraukan.
Eks Kombatan GAM
Eks Kombatan GAM daerah III Tgk Chik Dipaya Bakong, Sofyan Alias Combat

ACEHSATU.COM | Aceh Utara – Kondisi Aceh Utara yang setiap tahun merasakan banjir kiriman maupun banjir lokal, terkesan tidak ada tindakan yang serius dari pihak pemerintah untuk mencari solusi.

Hal tersebut diungkapkan oleh tokoh eks Kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) daerah III Tgk Chik Dipaya Bakong, Sofyan Alias Combat pada Sabtu (01/01/2022).

Combat mendesak pemerintah daerah maupun pemerintah propinsi untuk  serius menangani persoalan banjir di Aceh Utara, ia meminta pihak pemerintah untuk turun langsung kelapangan melihat kondisi masyarakat yang terkena imbas banjir.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara , dalam hal ini DPRK dan DPRA, Muapun DPR RI Serta DPD agar segera duduk persoalan banjir khususnya di Aceh Utara.

Perlu diketahui, kata Combat, kondisi tanggul Kreung Peutoe di Desa Jok KM II dan Desa Manyang KM I Kecamatan Lhoksukon dalam kurun waktu setahun telah jebol tiga kali “,ujar Panglima Operasi Daerah III Chik di Paya Bakong kepada wartawan pada Sabtu (02/01/2022).

Akibatnya, Masyarakat yang tinggal dikawasan Lhoksukon  bukan hanya mengalami kerugian materil saja namun juga non materil, sehingga dirinya mewakili eks Combat dan masyarakat Lhoksukon mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh untuk segera melakukan perbaikan tanggul dari KM I sampai dengan KM X yang sering jebol.

Sofyan menegaskan, apabila pihak Pemerintah tidak merespon dan mencari solusi permasalahan banjir , dirinya bersama dengan masyarakat dan geuchik – geuchik akan mendatangi  kantor Bupati maupun DPRK Aceh Utara untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang memang tidak dihiraukan.

Menurutnya, banjir  yang selama ini terjadi di Aceh Utara,  selain akibat tanggul yang jebol juga karena dangkalnya sungai sehingga meluapnya air sungai dan juga akibat perambahan kawasan hutan termasuk akibat dari alih fungsi lahan menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit milik perusahaan-perusahaan tertentu yang hanya mendapat keuntungan bagi perusahaannya saja, tegas mantan kombatan GAM.

Sementara itu hal yang senada juga diungkapkan oleh Geuchik Gampong Jok KM II, Zulkifli yang ditemui dilokasi banjir, akibat jebolnya tanggul di daerahnya mengalami banjir sampai lima kali dalam kurun waktu setahun.

“Sebelumnya tanggul tersebut sudah kita perbaiki dengan cara swakelola , namun jebol lagi dan dana tersebut tidak ada sama sekali dari pihak pemerintah. Mereka hanya datang mengambil data lalu pulang, tanpa melakukan apapun”, beber Zulkifli.

Dampak dari banjir tersebut sebanyak 210 Kepala Keluarga terpaksa mengungsi ,sebagian warga memilih mengungsi ke rumah sanak saudaranya dan sebagian besar warga terpaksa harus menjadikan Meunasah sebagai tempat tinggal.

Tak hanya itu,lanjut Zulkifli, masyarakat juga mengalami kerugian akibat gagal panen yang hanya menunggu waktu sesaat lagi, pungkas Geuchik Zulkifli.