Subulussalam rawan petir

Manjang Tewas Disambar Petir, Fakta-fakta Subulussalam Rawan Petir

ACEHSATU.COM | SUBULUSSALAM – Subulussalam terkenal dengan banyaknya jumlah kasus sambaran petir. Petir yang terjadi di Subulussalam kerap menelan korban jiwa. Kasus terakhir terjadi pada tahun 2020 lalu tepatnya, Sabtu 29 Agustus. Seorang remaja meninggal dunia akibat  disambar petir saat membantu orang tuanya berada di kebun. Peristiwa paling menyeramkan juga terjadi, Jumat (22/11/2019) sebanyak empat … Read more

ACEHSATU.COM | SUBULUSSALAM – Subulussalam terkenal dengan banyaknya jumlah kasus sambaran petir.

Petir yang terjadi di Subulussalam kerap menelan korban jiwa.

Kasus terakhir terjadi pada tahun 2020 lalu tepatnya, Sabtu 29 Agustus. Seorang remaja meninggal dunia akibat  disambar petir saat membantu orang tuanya berada di kebun.

Peristiwa paling menyeramkan juga terjadi, Jumat (22/11/2019) sebanyak empat warga  disambar petir plus satu rumah ludes terbakar di Desa Danau Teras, Kecamatan Simpang Kiri, Kota  Subulussalam.

Dalam kejadian tersebut salah seorang warga menjadi korban.

Kasus terbaru terjadi pada Sabtu (22/4/2023) di Desa Batu Napal, Kecamatan Sultan Daulat, Kota  Subulussalam.

Korban adalah Manjang Bin Mahdi, pria berusia sekitar 25 tahun meninggal dunia akibat disambar petir.

Manjang baru menikah sekitar empat bulan lalu dengan mempersunting gadis bernama Riska asal Desa Batu Napal Kecamatan Sultan Daulat, Kota  Subulussalam.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 17.00 WIB bertepatan hujan deras mengguyur Kota  Subulussalam dan sekitarnya termasuk lokasi kejadian.

Menurut warga, saat kejadian korban tengah berada di dalam kamar bersama sang isteri tiba-tiba petir menyambar seiring hujan deras yang mengguyur daerah itu.

Selain korban, isterinya Riska pun sempat terkena sambaran petir namun tidak terlalu parah sehingga dapat selamat.

Sementara korban Manjang, meski sempat ditanam dalam lumpur untuk maksud membantu namun nyawanya tidak tertolong.

Fakta Subulussalam Rawan Petir

Dalam tulisan Dosen Meteorologi Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah serta Dosen Fisika FMIPA Unsyiah Dr. Yopi Ilhamsyah dan Dr. Zulkarnain Jalil menyebutkan bahwa petir di langit Subulussalam dahsyat!

Penelitian mereka berbasis sensor optik Satelit NASA terungkap kerapatan petir di Subulussalam mencapai 80 kilatan perkilometer persegi pertahun, sama seperti Bogor Kota Petir Indonesia.

Karakteristik topografi Subulussalam yang berbukit dan dilatarbelakangi pegunungan Bukit Barisan berperan dalam pertumbuhan  Awan Cumulonimbus (CB) berisikan hujan dan petir.

Karenanya, hujan Subulussalam disebut hujan orografis.

Hujan bersumber dari uap air Lautan Hindia di pesisir selatan Aceh yang menguap di siang hari.

Karena daratan memanas lebih cepat dibanding lautan maka tekanan udara di atas daratan menjadi rendah sehingga uap air bergerak hingga ke Subulussalam.

Saat tiba, udara sudah jenuh karena uap air telah berwujud air dalam suatu mekanisme disebut kondensasi.

Proses ini berlangsung cepat sebab dalam perjalanannya, uap air terbentur lereng-lereng perbukitan dan pegunungan yang mengelilingi Subulussalam.

Awan-awan kumulus dekat permukaan inilah wujud mekanisme kondensasi karena faktor topografi ini.

Pancaran matahari di Subulussalam menjadikan udara semakin labil di siang hari.

Udara berisi air dalam wujud awan terus naik bergabung membentuk awan CB.

Naiknya udara turut diakselerasi oleh angin lembah yang bertiup ke gunung.

Karena lereng pegunungan lebih cepat panas, maka tercipta tekanan rendah dan udara dengan cepat mengalir menuju puncak.

Subulussalam rawan petir
Dok. Net

Awan CB menjulang hingga lapisan stratosfer di ketinggian 11 ribu meter melebihi tinggi rata-rata Pegunungan Bukit Barisan yakni 2 ribu meter.

Kenapa demikian?

Hal ini dipicu oleh pemanasan di permukaan. Kuatnya radiasi matahari mendorong massa udara untuk terus naik ke angkasa.

Di dalam awan, pada ketinggian 5 ribu meter terdapat lapisan beku.

Udara berisi air yang melewatinya membeku, berubah menjadi kristal-kristal es. Semakin ke atas suhu mendingin, kristal es terurai menjadi es-es halus, disebut Graupel.

Di puncak awan, suhu minus menciptakan tekanan tinggi sementara awan dekat permukaan yang panas bertekanan rendah membuat udara kembali turun.

Saat turun, es-es halus ini bersinggungan dengan es-es halus yang naik, menciptakan muatan listrik. 

Muatan positif berada di awan sementara muatan negatif turun ke permukaan.

Setiap zat diciptakan berpasang-pasangan, demikian juga petir yang timbul akibat interaksi pasangan muatan dalam suatu proses pelepasan energi yang besar sebagai upaya alam mencari keseimbangan.

Analogi sederhana, penggaris yang kita gosok-gosokkan di rambut memiliki kemampuan untuk menarik sehelai kertas.

Inilah yang disebut listrik statis, demikian juga petir. Muatan negatif menarik muatan positif untuk mendekatinya.

Banyak korban sengatan petir di Subulussalam.

Ini artinya selain muatan negatif alami yang turun ke permukaan karena gesekan es di angkasa, ada juga muatan negatif di sekitar kita apakah dari benda elektronik, badan air, logam atau bangunan dan pohon yang rawan tertempelnya muatan negatif petir.

Inilah mengapa petir dapat menyambar rumah dan tempat yang sama dua kali, hal ini disebabkan melimpahnya muatan negatif di permukaan. (*)

AcehSatu Network
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Optio, neque qui velit. Magni dolorum quidem ipsam eligendi, totam, facilis laudantium cum accusamus ullam voluptatibus commodi numquam, error, est. Ea, consequatur.