Malangnya Petani Kopiku

Adat istiadat sebagai salah satu unsur kebudayaan Gayo yang menganut prinsip "Mukemel, Tertip, Keramat, Mupakat, Behu Berdedale" (Kemuliaan karena mufakat, kebersamaan untuk kekuatan).
Petani Kopi Gayo
Seorang petani kopi di dataran tinggi Gayo sedang memetik kopi. Foto Dok. ACEHSATU.com

Oleh Meli Saputri

“Engon ko so tanoh Gayo Si megah mu reta dele Rum batang uyem si ijo kupi bako e Pengen ko tuk ni korek so Uwet mi ko tanoh Gayo Seselen pumu ni baju netah dirimu Nti daten bur kelieten Mongot pude deru Oya le rahmat ni Tuhen ken ko bewenmu Uwetmi ko tanoh Gayo Semayak bajangku Ken tawar roh munyang datu uwetmi masku Ko matangku si mumimpim Emah ko uyem ken soloh Katiti kiding nti museltu ilahni dene Wo kiding kao ken cermin Remalan enti berteduh Nti mera kao tang duru Bon jema dele Nti osan ku pumun jema Pesaka si ara Tenaring ni munyang datu ken ko bewen mu Uwet mi ko tanoh Gayo Ko opoh bajungku Ken tawar’n roh munyang datu uwetmi masku” Cipta; Ar Moese.

LIHAT Tanah Gayo ku yang megah dan penuh dengan kekayaan alam, batang cemara dan hijau nya daun kopi menjadi bako di semenanjung Alam. Dengarkanlah suara ayam-ayam yang menyuruh bangunnya rakyat gayo dan naikkan lengan bajumu. Bur Kelieten rahmat Allah untuk kita semuanya bangunlah engkau rakyat gayo untuk tawar ruh nenek moyang, bangun lah kita saudara.

Lagu di atas meggambarkan Gayo adalah anugerah terindah dan rahmat yang Allah berikan kepada kita Aceh.

Dan kami akan mempertahankan hak kami, budaya kami mengajarkan sistem norma yang mengatur ‘cara-cara merasa dan bertindak’.

Adat istiadat sebagai salah satu unsur kebudayaan Gayo yang menganut prinsip “Mukemel, Tertip, Keramat, Mupakat, Behu Berdedale” (Kemuliaan karena mufakat, kebersamaan untuk kekuatan).

Siapa yang tidak kenal Dataran Tinggi Gayo?

Sebuah daratan yang memiliki unik dan peka terhadap alam ini.

Dataran tinggi gayo juga sangat termegah dengan perkebuan kopi yang merupakan warisan nenek moyang yang dikenal sebagai “Kopi Gayoku”.

Pepohonan yang hijau, suasana yang sejuk dan kami lahir di tanah pusaka dikandung didikan juwa di Gayo.

Tidak kalah saing nan bahasa yang muncul juga mempunyai beberapa daerah yaitu Bener meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues.

Ketiga daerah ini merupakan wilayah inti yang berada di Dataran Tinggi Gayo.

Daerah ini memiliki masyarakat yang hampir rata sebagai petani kopi, Mereka merawat kopi dengan penuh kasih sayang. pergi mata hari menjelang hingga petang mendatang.

Akan tetapi ada masalah dengan penghasilan mereka, eist…… tapi bukan penghasilnnya yang salah melainkan pemasaran mereka yang sangat miris malang sekali petaniku.

Dengan harga kopi yang murah dibeli oleh rentir (toke), mereka tetap semangat untuk anaknya putra, putrinya agar tak kelparan dan bisa bersekolah sampai perguruan tinggi.

“Kami sedih harga kopi selalu turun padahal kami cuman mengandalkan harga kopi untuk kebutuhan sehari-hari, untuk anak sekolah, 30 tahun saya bertani tapi tak pernah sesulit ini.

Katanya harga kopi rendah karena korona.”

Kami berbicara kecewa dengan harga kopi yang anjlok karena dari itu dia hidup dan membesarkan anaknya.

Berbicara dengan mata yang berkaca-kaca seakan ingin menangis tetapi harus tetap tegar menghadapi semuanya.

Seorang ayah yang sudah berumur dengan kulit yang lebam tersengat matahari, membungkuk karena mengangkat sekarung goni yang berisikan kopi demi membawa keceriaan di raut wajah anak dan istrinya.

Petaniku yang malang denga harga kopi permainan mereka tetap terus berjuang, berdarah, gatal, terkena ulat, tapi engkau tak pernah mengeluh walau hanya di hargai dengan murah dan kau tak tau ingin mengadu kemana, hanya saja hati mu yang menjerit kesakitan.

Kapan semua ini akan berakhir?

Kenapa di daerahku harga murah?

Sedangkan di kota di jual sangat mahal?

Padahal kami yang merawat dan memanennya, menjaga kulaitasnya, tapi kenapa kami yang diberi harga jual seperti ini.

Seakan kami yang menjadi budak di rumah kami sendiri.

Jeritan rakyat terus terdengar, suara tangis seakan membuat kami harus melawan dengan sejuta diksi pemangku negeri ini, selamatkan generasi dan keluarga kami, rakyatmu menjerit melonta-lonta, dimanakah keadilan yang engkau janjikan selama ini?

Pemangku negeri, bolehkan anak negeri membisik ke telingamu?

Ku ingin berkata rakyat Gayo tidak ingin kopi anaknya merasakan hidup susah seperti mereka di masa yang akan mendatang.

Wahai kalian penguasa, jangan renggut kebahagian kami hanya keperkuanmu, kami hanya rakyat biasa yang tidak tau ingin mengadu kepada siapa. Kami hanya ingin hidup sejahtera dengan emas merah kami (kopi).

Gayoku Mufakat.

“Tirus lagu gelas belut lagu umut, rempak lagu ree susun lagu belo” (bersatu kita teguh)

“Nyawa mu-sara pelok ratip mu-sara anguk”. (*)

Penulis adalah seorang jurnalis, dan petani kopi berasal dari Dataran Tinggi Gayo.