Makin Panas, China Balik Tuding Australia tak Aman untuk Kuliah

Makin Panas, China Balik Tuding Australia tak Aman untuk Kuliah

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ketegangan kembali memanas antara China dan Australia. Kini China balik menuding kondisi Australia tak aman dan memperingati warganya yang sedang menempuh pendidikan di negara itu agar berhati-hati.

Tudingan China ini dinilai sebagian pihak sebagai buntut dari wacana investigasi Australia yang sebelumnya gencar ingin menyelidiki asal-usul penyebaran COVID-19.

Melansir laporan detikcom. pertikaian diplomatik antara Australia dan China kini melebar ke sektor pendidikan. China menganggap tidak aman bagi warganya untuk kuliah di Australia karena meningkatnya “serangan rasis”.

Ketegangan Australia-China

  • China peringatkan mahasiswanya untuk mempertimbangkan kuliah ke Australia karena kini dianggap tidak aman
  • Sebelumnya, China telah melarang turis bepergian ke Australia dengan pertimbangan banyak “serangan rasis”
  • Australia merupakan pilihan utama bagi mahasiswa China yang ingin kuliah ke luar negeri

Tudingan China tersebut dilontarkan hari Selasa (9/06/2020), dengan memperingatkan “mahasiswa yang ingin kuliah di luar negeri agar berhati-hati memilih Australia atau kembali kuliah di Australia”.

Sekitar 1,5 juta mahasiswa akan kembali ke kampus-kampus di Australia ketika perkuliahan normal dimulai kembali pada Juli mendatang.

Data menunjukkan bahwa mahasiswa China yang kuliah di luar negeri mayoritas memilih Australia dibandingkan negara lain.

Sejak terjadinya pandemi COVID-19, kebanyakan mahasiswa internasional kembali ke negara asalnya dan tidak bisa masuk ke Australia akibat penutupan perbatasan sejak Februari.

Tudingan China itu dibantah oleh kalangan perguruan tinggi Australia melalui ‘Group of Eight’, yaitu asosiasi delapan perguruan tinggi terkemuka di Australia.

CEO ‘Group of Eight’, Vicki Thomson menyatakan pihaknya telah menghubungi Kedutaan Besar China untuk menanyakan apakah ada peristiwa serangan rasis terhadap mahasiswa asal China yang mereka ketahui.

“Kami menanyakan kepada Kedubes China mengenai kejadian yang mereka ketahui dan perlu kami ketahui agar bisa diselesaikan secara bersama-sama,” katanya seperti dilaporkan ABC News.

“Mereka tidak bisa menyampaikan kepada kami karena menurut mereka sendiri tidak ada kasus,” kata Vicki Thomson.

Reuters: David Munoz: Vicki Thomson, CEO Group of Eight, asosiasi delapan perguruan tinggi terkemuka di Australia.

Kemudian akhir pekan lalu, Kementerian Budaya dan Pariwisata China mengeluarkan peringatan bagi warganya agar jangan berkunjung ke Australia dengan alasan “adanya peningkatan serangan rasis terhadap orang China dan keturunan Asia lainnya”.

Media pemerintah China menyebut larangan ini hanyalah reaksi atas apa yang mereka sebut sebagai “kebijakan anti China di Australia”.

Tindakan Pemerintah China di sektor pendidikan kali ini diharapkan tidak akan mempunyai dampak jangka panjang bagi Australia.

Menurut CEO Asosiasi Pendidikan Internasional, Phil Honeywood saat ini perbatasan Australia masih ditutup bagi kedatangan mahasiswa internasional. Butuh waktu sebelum dibuka sepenuhnya.

“Hal ini memberikan banyak waktu bagi para menteri untuk mengatasi kesalahpahaman dan isu yang dilontarkan Pemerintah China,” katanya.

Namun upaya sejumlah pejabat Australia untuk berdialog dengan mitranya di China telah mengalami kegagalan.

Menteri Perdagangan dan Pariwisata Simon Birmingham misalnya, sampai kini belum berhasil melakukan pembicaraan dengan Menteri Perdagangan China.

“Sayang sekali, permintaan kami untuk mendiskusikan hal ini, tidak mendapat tanggapan,” katanya kepada program radio ABC.

Pengakuan mahasiswa China

“Tapi banyak teman dan keluarga di China yang khawatir. Mereka menanyakan situasi sebenarnya di Australia,” kata Ren.

“Mereka khawatir. Hubungan antara China dan Australia tidak begitu bagus sehingga mungkin berdampak secara negatif pada mahasiswa yang ingin kuliah di sini.

Pada April lalu, dua mahasiswa Melbourne University mendapatkan perlakuan rasis dari dua wanita yang meneriaki mereka “virus corona”.

Kejadian tersebut, serta kejadian lainnya mulai dari sikap Australia terhadap isu HAM di China, Hong Kong, dan isu Laut China Selatan, menjadi bahan bagi media Pemerintah China untuk menyerang Australia.

Selain itu, juga isu larangan Australia bagi Huawei untik ikut tender jaringan 5G serta desakan untuk menggelar penyelidikan asal-usul penyebaran COVID-19. (*)