Breaking News

Majelis Seniman Aceh Akhirnya Terbentuk, Ayah Panton Terpilih Perdana sebagai Ketua MaSA

Ayah Panton akhirnya terpilih sebagai ketua Majelis Seniman Aceh periode 2018 s.d. 2022.

Foto | Muhammad Rain

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Sebagaimana agenda yang telah disepakati para seniman di Aceh, akhirnya Rapat Konsolidasi Kepengurusan Majelis Seniman Aceh berhasil dilaksanakan pada Jumat, 9 Februari 2018, di lokasi Meuligoe Kande kediaman Rafli seniman vokal Aceh mulai pukul 11.00 s.d. 20.00 WIB.

Sebelum dimulai, sambil menunggu keseluruhan undangan rapat, beberapa yang sudah sedia hadir lebih awal melaksanakan ibadah salat Jumat bersama di Mesjid Batoh terdekat.

Sepulang Jumatan, para tamu undangan rapat dipersilakan menyantap makan siang dengan menu Kuah Beulangong daging kambing, tidak lama kemudian rapat pun dimulai.

Sesi pertama membicarakan nama lembaga yang disepakati, bentuk kelembagaan, visi dan misi baru akhirnya ditentukan mekanisme pemilihan ketua Majelis Seniman Aceh (MaSA)

Merujuk dari pola forum/lembaga seperti Majelis Seniman lainnya di Indonesia semisal di Jakarta, akhirnya penentuan ketua memakai pola yang sama, yakni ditentukan dahulu nama-nama Akademi Kutaraja yang berisikan para seniman dan budayawan cukup pengalaman di bidang kesenian serta kebudayaan.

Hanya saja karena kali ini perdana serta demi mendorong percepatan kepengurusan kelembagaan maka ditentukan pemilihan ketua berdasarkan seluruh peserta forum rapat yang telah hadir selaku komitmen nyata sokongan pendirian MaSA.

Nama-nama Calon anggota Akademi Kutaraja yang diusulkan oleh farum untuk kemudian di masa datang agar memilih ketua MaSA diantaranya budayawan Barlian AW, Nab Bahany As, senator Rafly Kande, akademisi Prof Dr Misri, Yulsafli MA,  Dr Harun Al-Rasyid, seniman dan tokoh pers senior Sjamsul Kahar, Helmi Hass serta satu dari unsur perempuan yang akan dimasukkan dalam waktu dekat ini.

Mekanisme penentuan ketua MaSA selanjutnya pun langsung dijalankan dengan penentuan ketua terpilih dimusyawarahkan peserta rapat tersebut yang hadir pula di dalamnya calon anggota Akademi Kutaraja sebagian besarnya di lokasi rapat. Sedangkan yang berhalangan hadir langsung dihubungi via telepon seluler secara terbuka di hadapan forum rapat.

Ayah Panton akhirnya terpilih sebagai ketua Majelis Seniman Aceh periode 2018 s.d. 2022, sebagai ketua perdana, dipundaknyalah segenap potensi MaSA diamanahkan, selaku ketua selanjutnya menetapkan sendiri organisatoris semacam sekretaris maupun bendahara.

Berbagai kendala profesi seniman khususnya di Aceh menjadi satu tantangan yang pokok untuk dikaji dan temukan jalan kebijakannya, karenanya MaSA sekaligus pengurus organisasi yang sudah dipilih secara utuh nantinya diharapkan segera dapat bekerja secara progresif dan efektif.

Sekitar 20-an seniman undangan rapat sepakat memilih Ayah Panton yang sejak awal menggagas terbentuknya MaSA awal September 2017 lalu. Kepada ketua terpilih, forum memberi mandat untuk membentuk susunan pengurus lengkap.

Selain memilih ketua, forum juga memilih anggota Akademi Kutaraja yang tugasnya ke depan akan memilih calon ketua MaSA. Namun, untuk kepengurusan pertama forum memilih langsung ketua MaSA yang direncanakan akan dikukuhkan oleh Gubernur Aceh dalam waktu dekat ini.

“Untuk kepengurusan perdana ini kita serahkan pemilihan ketua MaSA kepada forum. Untuk periode selanjutnya akan dipilih oleh Akademi Kutaraja,” ungkap Barlian AW salah seorang calon anggota Akademi Kutaraja.

Rafli Kande sangat antusias dengan terbentuknya MaSA perdana. Senator Aceh yang berkiprah di Senayan tersebut sangat prihatin melihat kondisi berkesenian di Aceh selama ini. Ia berharap MaSA mampu menjawab berbagai persoalan yang kini membelenggu seniman Aceh.

“Saya senang hari ini, MaSA terbentuk. Mudah-mudahan ini menjadi lokomotif untuk menampung berbagai persoalan kesenian dan budaya di Aceh. Bila kesenian diapresiasi dengan baik, otomatis kehidupan berkesenian ke depan lebih baik,” paparnya.

Menurut Rafli, lembaga yang sudah lama dibahas ratusan seniman yang tergabung awalnya dalam grup WA MaSA menjadi jembatan untuk memotivasi seniman dalam berkarya ke depan. Aceh sangat kaya dengan kebudayaan indatu dan sangat digemari di dunia internasional, akunya.

“Alhamdulillah, kita usahakan lembaga ini bisa sejajar dengan Majelis Adat Aceh atau Majelis Pendidikan Aceh. Untuk itu, perlu diupayakan lembaga ini bisa segera diqanunkan,” ungkap Rafli optimis.

Budayawan Aceh, Nab Bahany As menyatakan dengan terbentuknya Majelis Seniman Aceh, selain telah menyahuti upaya untuk merealisasikan apa yang diamanahkan dalam UUPA tentang pemberadayaan seni budaya Aceh, seniman juga akan memiliki wadah yang bisa mengakomodir berbagai problem berkesenian yang mereka alami selama ini tersendat-sendat.

“Saya menyambut baik atas inisiatif dalam melahirkan Majelis Seniman Aceh ini”, kata Nab Bahany As.

Sedangkan Sarjev selaku penggiat Kebudayaan Aceh sangat mendukung terbentuknya MaSA yang diketuai Ayah Panton.

“Dengan lahir MaSA saya berharap berbagai persoalan selama ini yang mengganjal bisa terurai dan ditampung di lembaga ini,” katanya.

Menurut Sarjev, kini saatnya eksistensi kesenian daerah bangkit kembali, dimulai dengan pemberdayaan seniman itu sendiri.

“Kehadiran MaSA sangat penting untuk segera bekerja di berbagai kegiatan kesenian di Aceh, apalagi menjelang pelaksanaan PKA bulan Agustus 2018 mendatang,” ujar Sarjev penuh harap.

Ketua MaSA, Ayah Panton mengutarakan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan forum untuk memimpin MaSA pedana untuk selama empat tahun mendatang. MaSA akan coba menjembatani antara kebutuhan seniman dengan pemerintah, sehingga berbagai persoalan yang muncul secara perlahan bisa disahuti oleh Pemda Aceh dengan program-program yang berkelanjutan.

“Terima kasih saya ditunjuk sebagai nakhoda MaSA. Mudah-mudahan wadah ini mampu menyelesaikan berbagai persoalan kesejahteraan seniman di Aceh dan dapat berjalan sebagaimana mestinya,” kata Ayah Panton optimis. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top