Mahasiswi Malaysia Diduga Tertular di Aceh, Ini Penjelasan Pakar Mikrobiologi

Mahasiswi Malaysia Diduga Tertular di Aceh, Ini Penjelasan Pakar Mikrobiologi

ACEHSATU.COM |  BANDA ACEH – Dua mahasiswa di Aceh yang berasal dari Malaysia dinyatakan positif Covid-19 (Corona) saat mereka kembali ke negaranya.

Pemerintah Malaysia mengumumkan ada dua mahasiswinya yang kembali dari Aceh positif Covid-19.

Dua mahasiswi tersebut kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Salah satu mahasiswi tinggal di Gampong Blang Krueng, Aceh Besar dan satunya lagi di Gampong Rukoh, Banda Aceh.

Informasi terjangkitnya virus mematikan terhadap dua mahasiswi itu membuat masyarakat Aceh terkejut.

Pasalnya, selama ini mereka tinggal di Aceh khususnya di Banda Aceh.

Kabar itu menjadi dugaan bahwa Banda Aceh sudah menjadi daerah transmisi lokal virus corona.

Namun bagaimana sebenarnya?

Hasil penelusuran, kedua mahasiswa tersebut diduga terpapar bukan saat berada di Banda Aceh.

Pasalnya, Pemerintah Malaysia melakukan tes dengan metode RT PCR (Real Time Polymerase Chain Reaction), bukan rapid test (tes cepat) seperti di Indonesia.

Hal itu dibenarkan pakar mikrobiologi Aceh, Dr dr Zinayatul Hayati MKes SpMK seperti dikutip dari laman Tribunnews.

Rapid test merupakan metode pemeriksaan yang cara kerjanya mendeteksi zat antiserum yang dikeluarkan tubuh untuk melawan virus.

Namun zat antiserum atau antibodi tersebut baru dapat dideteksi pada hari ke-5 hingga ke-7 setelah terjadinya paparan/kontak.

Karena itu, lanjut dokter Atun, jika Pemerintah Malaysia melakukan pemeriksaan menggunakan metode rapid test, maka bisa dipastikan kedua mahasiswi tersebut tertular saat berada di Aceh.

Berbeda jika pemeriksaannya menggunakan metode RT PCR.

Melalui pemeriksaan ini, virus bisa langsung terdeteksi tak lama setelah mengalami kontak dengan pasien.

Sehingga, untuk kasus tersebut, kedua mahasiswi Malaysia itu terpapar saat dalam pesawat, di Bandara Kualanamu Medan, maupun saat sudah berada di Malaysia. (*)