MA Minta PN Meulaboh Klarifikasi Laporan Masyarakat Terkait Lambannya Eksekusi Kallista Alam

PT. Kallista Alam didenda Rp 366 miliar karena membakar hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Rawa Tripa, Nagan Raya, Aceh.
Kallista Alam
Aktivis APEL Nagan Raya memasang papan pengumuman putusan Pengadilan Negeri Meulaboh tentang status kawasan eks areal HGU PT. Kallista Alam. Foto HO/ACEHSATU.com

ACEHSATU.COM | NAGAN RAYA – Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya menyatakan pihaknya sudah menerima surat balasan dari Mahkamah Agung (MA) terkait pengaduan lambannya proses eksekusi lahan eks HGU PT. Kallista Alam.

Ketua Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya, Rahmad Syukur kepada ACEHSATU.com, Selasa (23/11/2021) mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah menyurati Badan Pengawas Mahkamah Agung untuk mengawasi pelaksanaan eksekusi putusan terhadap tanah dan bangunan milik PT. Kallista Alam.

Menurut Syukur, pihaknya telah menerima surat tembusan dari Mahkamah Agung tentang permintaan klarifikasi surat pengaduan dari pelapor yakni APEL Nagan Raya terkait eksekusi terhadap lahan HGU PT. Kallista Alam yang sampai sekarang belum dilakukan.

Adapun substansi dalam surat tersebut adalah pihak Mahkamah Agung dalam hal ini bidang pengawasan meminta kepada Ketua PN Meulaboh untuk memberikan klarifikasi mengenai kebenaran isi pengaduan APEL Nagan Raya.

Maka dari itu, Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya dengan ini menyatakan, pertama, sangat mengpreasiasi dan mengucapkan terimakasih kepada Plt. Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI.

Karena telah merespon surat pengaduan dari pelapor, yakni Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya.

Kedua, APEL Nagan Raya menunggu undangan klarifikasi dari Ketua PN Meulaboh.

Rahmad Syukur sangat berharap perkara ini segera diproses dan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur dan azas keadilan dan equality before the law.

Memasang Plang Nama

Sebelumnya, para aktivis lingkungan yang tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya melakukan aksi penanaman dan pemasangan plang pengumuman di eks areal yang dibakar PT. Kallista Alam.

Hal inilah yang menjadi inisiasi mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah lembaga mahasiswa di Nagan Raya ini menanam pohon Trembesi dan memasang plang putusan pengadilan tersebut.

Ketua Aliansi Peduli Lingkungan (APEL) Nagan Raya, Syukur mengatakan, aksi penanaman dan pemasangan plang yang bertuliskan putusan pengadilan yang sampai hari ini tidak dilaksanakan.

“Sampai hari ini eksekusi tersebut tidak dilaksanakan, artinya negara kalah sama korporasi. Makanya kami bersuara, kami malu karena negara kami kalah dengan perusahaan,” ujar Syukur.

Syukur menyatakan akan berkomitmen untuk terus bersuara sampai putusan ini dilaksanakan oleh Pengadilan Suka Makmue.

Kallista Alam
Aktivis APEL Nagan Raya memasang papan pengumuman putusan Pengadilan Negeri Meulaboh tentang status kawasan eks areal HGU PT. Kallista Alam. Foto HO/ACEHSATU.com

“Kepada bapak-bapak yang sudah kami pilih, kami berharap tidak melupakan persoalan ini, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat Nagan Raya dan juga masyarakat Aceh,” sebut Syukur menyindir lemahnya suara dan para wakil rakyat atas masalah gambut Tripa.

PT. Kalista Alam terbukti melakukan perbuatan melanggar hukum karena membakar 1.000 hektar lahan gambut di Suaq Bahong, Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya pada 2009-2012.

Perusahaan itu didenda Rp 366 miliar karena membakar hutan dan lahan (karhutla) di hutan gambut Rawa Tripa, Nagan Raya, Aceh. (*)