LSM Flora dan Fauna di Aceh Utara Kembangkan Nutrisi Tanaman, Atasi Kelangkaan Pupuk

LSM Floura dan Fauna mengembangkan pupuk organik dengan memanfaatkan nutrisi tanaman guna mengatasi kelangkaan pupuk.
LSM Flora dan Fauna
Petani menaburi pupuk dikombinasikan dengan nutrisi tanaman Ground-E di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (19/2/2021). Antara Aceh/Dedy Syahputra

ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE – LSM Floura dan Fauna mengembangkan pupuk organik dengan memanfaatkan nutrisi tanaman guna mengatasi kelangkaan pupuk.

Ketua LSM Flora dan Fauna Darwis Kuta di Lhokseumawe, Jumat, mengatakan nutrisi tanaman yang dikembangkan adalah jenis Ground-E. Dari hasil uji coba, penggunaan nutrisi tersebut mampu menghasilkan 7,2 ton gabah per hektare.

 “Pengembangan nutrisi tanaman ini berawal dari kesulitan petani mendapatkan pupuk. Karena kelangkaan pupuk tersebutlah kami mencari solusi agar petani tidak ketergantungan dengan pupuk,” kata Darwis Kuta.

Darwis mengatakan pihaknya telah melakukan uji coba menanam padi lokal dari beberapa varietas menggunakan nutrisi tanaman Ground-E sebagai pengganti pupuk.

Uji coba dilakukan bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, di atas lahan dengan luas 2,5 kali 2,5 meter. dari hasil uji coba tersebut menghasilkan gabah sebanyak 4,5 kilogram.

LSM Flora dan Fauna
Petani menaburi pupuk dikombinasikan dengan nutrisi tanaman Ground-E di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (19/2/2021). Antara Aceh/Dedy Syahputra

Jika dikalkulasikan per hektare menghasilkan gabah 7,2 ton. Gabah 7,2 ton tersebut merupakan hasil tanpa menggunakan pupuk. Jika nutrisi tanaman Ground-E dikombinasikan dengan pupuk urea diperkirakan panennya bisa mencapai 10 ton per hektare, kata Darwis.

“Dengan menggunakan nutrisi tanaman jenis Ground-E ini ternyata lebih efektif karena mengandung unsur hara lengkap. Selain itu, juga dapat menekan biaya penggunaan pupuk berkisar 50 hingga 70 persen,” kata Darwis.

Darwis menyebutkan bahwa pihaknya juga telah melakukan demonstrasi plot penggunaan nutrisi tanaman Ground-E di beberapa lokasi untuk membantu petani yang sering mengalami kelangkaan pupuk.

“Dari demonstrasi plot tersebut berhasil mendapatkan gabah rata-rata sembilan ton per hektare. Produktivitas tersebut meningkat dari sebelumnya yang hanya tujuh ton per hektare,”kata Darwis.

Hasil tersebut, kata Darwis, dapat diperoleh jika perawatan padi menggunakan pupuk lengkap, yakni selain urea juga menggunakan pupuk NPK, pupuk fosfat, dan penyemprotan zat pengatur pengisian bulir.

Biasanya, petani menggunakan pupuk urea untuk kesuburan batang dan daun padi,. Kemudian menggunakan pupuk NPK dan pupuk fosfat agar bisa mendapatkan hasil maksimal. Bahkan ketika buah padi muncul harus disemprot dengan ZPT pengisian bulir.

“Sebelum mengenal nutrisi Ground-E, petani mengeluarkan banyak biaya membeli berbagai jenis pupuk dan ZPT pengisian bulir. Namun, dengan nutrisi tanaman ini mampu mengirit biayad dan hasilnya lebih tinggi,” kata Darwis Kuta. (*)