LIPUTAN KHUSUS: Perjalanan Kemerdekaan Indonesia dan Peran Penting Aceh

LIPUTAN KHUSUS HUT ke-75 RI: Aceh, Indonesia dan Sejarah Kemerdekaan

“Akan tetapi, balas jasa politik yang didapat rakyat Aceh sebaliknya. Pasca-kemerdekaan, mereka (Aceh) cenderung menjadi anak tiri di negeri ini. Misalnya saat Soekarno membubarkan Provinsi Aceh dan meleburnya menjadi bagian Sumatera Utara. Tentu saja hal itu menimbulkan kemarahan rakyat Aceh,” seperti tertulis dalam buku ‘Soekarno Poenja Tjerita’ yang disunting Roso Daras, dikutip Senin (17/8/2020).

Atas kekecewaan itu pemberontokan pun hadir, dimulai dari gerakan DI/TII hingga terakhir Gerakan Aceh Merdeka yang dideklarasikan Tgk Hasan Muhammad di Tiro pada 4 Desember 1976.

Kendati semua pemberontakan yang lahir karena ‘luka hati’ itu tadi telah tutup buku, namun stigma sebagai daerah pemberontak sepertinya masih sulit dilepas dari cara pandang pusat melihat Aceh.

Salah satunya tampak dari sikap pusat terhadap Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh yang hingga kini masih menjadi polemik.

Pemerintah belum mengiyakan pemberlakuan peraturan daerah itu, sebabnya disinyalir karena menganggap bendera dan lambang yang digunakan menyerupai simbol separatis.

Padahal qanun tersebut merupakan turunan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh yang dihasilkan atas kesepakatan bersama Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2005 silam.

“Artinya, pengibaran bendera bulan bintang yang dilakukan adalah tindakan legal dan tidak menyalahi peraturan mana pun,” ujar Juru Bicara Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh, Muhammad Saleh terkait pengibaran Bendera Bulan Bintang oleh pihaknya, Sabtu (15/8/2020).

Lepas dari segala polemik, nyatanya Aceh hingga hari ini masih terus berada dalam pangkuan ibu pertiwi.

Meski begitu, tetap saja semua sejarah masa lalu tidak boleh dilupakan, apalagi dihapuskan, seperti ucapan monumental Bung Karno, “jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Karena manis dan pahitnya masa lalu merupakan bahan perenungan untuk perbaikan di masa akan datang.

Dirgahayu Indonesia yang ke-75, damai Aceh, jaya Indonesia. (*)