LIPUTAN KHUSUS: Perjalanan Kemerdekaan Indonesia dan Peran Penting Aceh

LIPUTAN KHUSUS HUT ke-75 RI: Aceh, Indonesia dan Sejarah Kemerdekaan

Aceh juga menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang tak ‘disentuh’ oleh Belanda saat upayanya melakukan penjajahan kedua melalui agresi militer I dan II. Pejuang Aceh justru terlibat membantu Sumatera Utara berperang mengusir pasukan Belanda.

Belum lagi ketika ibu kota Republik Indonesia masih berkedudukan di Yogyakarta, Belanda berhasil mendudukinya dan menawan Soekarno dan Hatta dalam Agresi Militer II. Lagi-lagi rakyat Aceh menunjukkan andilnya bagi republik ini dengan membangun dua pemancar radio.

Eksistensi Indonesia

Pemancar radio itu, salah satunya berada di Aceh Tengah (saat ini, setelah terjadinya pemekaran berada dalam wilayah kabupaten Bener Meriah), yaitu Radio Rimba Raya yang dibangun pada tahun 1948, berperan sebagai sarana utama Indonesia berkomunikasi dengan dunia luar yang terputus akibat Agresi Militer Belanda II.

Keberadaan radio ini sekaligus sebagai penegasan kepada dunia, bahwa Indonesia masih ada, yang dibuktikan dengan Aceh belum dikuasai Belanda.

Monumen Radio Rimba Raya di Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

“Radio Rimba Raya berperan sangat besar terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia dan menjadi penyelamat Indonesia, dan satu-satunya radio yang menyuarakan keberadaan Indonesia, setelah RRI Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948.” tulis laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, yang dikutip ACEHSATU.COM, Senin (17/8/2020).

Melalui Radio Rimba Raya pula, pesan–pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia disiarkan ke seluruh penjuru dunia.

Saat itu, Radio Rimba Raya memiliki panggilan sinyal “Suara Radio Republik Indonesia”, “Suara Indonesia Merdeka”, “Radio Rimba Raya”, “Radio Divisi X”, atau “Radio Republik Indonesia”.

Pengorbanan rakyat Aceh lainnya juga dibuktikan saat Pemerintah Darurat Republik Indonesia yang berkedudukan di Bukittinggi, Padang, Sumatera Barat, dipindah ke salah satu daerah di Aceh, yakni Bireuen.

Saat itu, warga Aceh secara patungan dan bahu membahu menanggung seluruh biaya akomodasi pemerintahan darurat saat kekuasaan Indonesia berpusat di wilayah yang kini telah menjadi Kabupaten Bireuen itu.

Perjuangan rakyat Aceh untuk mempertahankan republik ini dilakukan dengan seluruh kemampuan yang ada. Warga tak sungkan menjual tanah, ternak, hingga harta benda lain dan merelakan nyawanya berperang menghalau kolonial.

Luka ‘Daerah Modal’

Inilah alasannya mengapa Soekarno menjuluki Aceh sebagai Daerah Modal. Karena fakta sejarah memang membuktikan, andil Aceh di dalam perjuangan mempertahankan terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang masih bertahan hingga saat ini, memang begitu besar.