oleh

Lelucon

TAK ada yang abadi di dalam politik.

Abraham Lincoln, Salmon Chase, dan William Seward menjadi kandidat Presiden dari partai repubik di tahun 1860.

Seward menjadi sosok antagonis bagi Lincoln.

Ia pernah mengatakan monyet kepada rivalnya.

Siapa sangka, di tahun yang sama, Lincoln mengangkat Seward sebagai menteri luar negeri.

BACA: Petani dan Janji Jokowi

16 Juli 2019. Berawal dari stasiun MRT Lebak Bulus, Prabowo dan Jokowi duduk berdampingan di dalam MRT menuju Senayan.

Setelah sajian makan siang. Keduanya  memberikan sinyal yang terang. Seketika,  “demi bangsa” pun menjadi slogan.

Sejarah berulang. Prabowo bermanuver mengikuti jejak langkah sejarah. Mirip cerita tentang Lincoln dan Seward yang diutarakannya.

Jalan panjang kampanye pemilihan presiden yang sempat memanas dan menimbulkan segregasi di ranah pubik pun berakhir anti klimaks.

BACA: Setelah Pesta Usai

Rabu, 23 Oktober 2019, dari depan istana, tepuk tangan riuh sontak terdengar ketika mantan Danjen Kopassus yang telah 3 kali mengikuti pilpres disebut sebagai bagian dari kabinet.

Politik, akhirnya, tak lebih dari”management of interests”.

Sebuah kepentingan yang di bangun dengan tujuan tertentu.

Arah yang belum tentu memberikan kepuasaan seluruh pihak.

Pada titik tertentu, ketidakpuasan itu melahirkan beragam ekspresi.

Bagi mereka yang kecewa, menertawakan keadaan barangkali bisa menjadi pilihan ekspresi yang paling menyenangkan

Karl Marx dalam Eighteen Brumaire of Louis Bonaparte pernah berujar : Sejarah berulang. Pertama sebagai tragedi, kedua sebagai  lelucon. (*)

Komentar

Indeks Berita