Lebaran Idul Fitri di Tengah Keprihatinan

Jika tidak ada aral melintang Idul Fitri 1442 H jatuh pada hari Kamis, 13 Mei 2021 bertepatan 1 Syawal 1442 H. Insya Allah lantunan takbir, tahmid, dan tahlil akan berkumandang di seluruh penjuru dunia.
Hamdani.

ACEHSATU – Allahu Akbar…Allahu Akbar….Allahu Akbar…Walillahilhamd..
Puncak dari berpuasa ramadhan adalah merayakan Idul Fitri. Dalam konteks budaya dan tradisi hari raya sering disebut lebaran.

Jika tidak ada aral melintang Idul Fitri 1442 H jatuh pada hari Kamis, 13 Mei 2021 bertepatan 1 Syawal 1442 H. Insya Allah lantunan takbir, tahmid, dan tahlil akan berkumandang di seluruh penjuru dunia.

Namun rasa bahagia yang biasa hadir ditengah Idul Fitri kini berganti keprihatinan yang tak terperikan.

Kebijakan pemerintah melarang mudik, yang mana hal itu sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia puluhan tahun masih sulit diterima, terlebih mereka yang sudah sejak lama merindukan kampung halamannya.

Konon alasan mengindari kerumunan dan untuk memutuskan mata rantai penularan Covid-19 menjadi argumentasi pemerintah.

Keprihatinan tidak saja pada aspek meniadakan mudik yang membuat kesedihan semakin bertambah.

Tetapi juga pada ketimpangan kebijakan yang justru memberi peluang yang besar pada sektor pariwisata meski terjadi kerumunan.

Apa bedanya kerumunan mudik dengan kerumunan di tempat-tempat hiburan, restoran, tempat wisata, kecuali di masjid. Keduanya memiliki potensi yang sama untuk resiko terpapar Covid-19.

Belum lagi di tengah meningkatnya kasus covid ratusan WNA asal China diizinkan masuk dengan bebas bahkan mendapatkan perlakuan istimewa. Ini kebijakan yang tidak adil.

Potret tersebut seakan akan jelas terlihat bila pemerintah tidak berpihak sama sekali kepada rakyat sendiri yang ingin mudik dan bertemu dengan sanak keluarganya.

Rakyat sendiri oleh aparat keamanan mati-matian dihadang agar tidak berpergian. Berbagai cara ditempuh oleh kepolisian agar masyarakat tidak mudik.

Meskipun demikian kita mencoba memahami maksud baik pemerintah untuk melindungi warganya dari paparan Covid-19, itu hal baik yang perlu diapresiasi bila terbukti bahwa larangan mudik dapat menurunkan angka kasus covid.

Namun tetap saja rasa prihatin tidak bisa dihilangkan begitu saja. Perasaan sedih, menderita, dan terluka akan selalu dirasakan oleh masyarakat terutama warga muslim.

Keprihatinan lainnya, pada saat umat Islam sedang menjalani Ibadah puasa. Nun di jauh sana, negeri para nabi Tanah Suci Palestina pertumpahan darah terus berulang oleh kekejaman teroris Yahudi Zionis Israel yang menyerang warga Palestina yang sedang melaksanakan shalat tarawih.

Peristiwa berdarah itu pun terjadi di tempat suci yakni Masjidil Aqsa (Alquds) yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan tempat bersejarah ketika Nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan isra mi’raj bertemu dengan untuk menerima perintah shalat.

Hari Jumat, 7 Mei 2021 menjadi ujian berat bagi warga Palestina yang berada di wilayah Al-Aqsa menerima aksi brutal tentara Zionis Israel yang tidak berprikemanusiaan itu.

Muntahan peluru serdadu Zionis Israel terhadap penduduk Palestina di negara sendiri jadi catatan hitam di bulan suci Ramadhan.

Kesedihan yang dirasakan umat Islam di hari raya idul Fitri kali ini benar-benar menghujam perasaan.

Suasana kesedihan akibat kehilangan sejumlah ulama dan tokoh tanah air yang mereka dekat dengan umat. Kabar terbaru yaitu wafatnya KH Teungku Zulkarnain yang sebelumnya dikabarkan sakit.

Kepergian sosok ulama yang kerap berbicara tegas dan lantang membela Islam itu cukup membuat umat Islam Indonesia kaget dan kehilangan yang amat sangat.

Suasana kebatinan masyarakat Indonesia khususnya yang beragama Islam sedang begitu bergemuruh. Merayakan idul fitri dengan ujian yang sangat berat.

Bukan hanya karena ancaman Covid-19, kebijakan yang memaksa/larangan mudik, keterbatasan ekonomi hingga perpecahan antar warga karena dampak dari kebijakan politik yang memukul.

Fenomena keprihatinan lainnya terlihat pada aksi penegakan hukum yang dirasa telah mencederai rasa keadilan. Negara diduga berlaku diskriminasi terhadap beberapa golongan yang tidak sependapat dengan pemerintah.

Terlepas dari itu semua, lebaran kali ini memang beda, di hari lebaran biasanya ramai dengan lalu lalang orang di jalan bersalam-salaman sambil menenteng sajadah dan mukena, kini pemandangan tersebut tidak lagi sama sekali.

Jalanan mungkin akan sepi, lapangan dan masjid tempat biasa warga berkumpul untuk menunaikan salat Id berjamaah dan bermaaf-maafan tidak akan ramai seperti peringatan hari raya tahun-tahun sebelumnya.

Taqabballahu Minna Waminkum…
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H/13 Mei 2021 Mohon maaf lahir dan batin. (*)