Laris Manis! Sure Panggang Keumala Tembus ke Geumpang Hingga Meulaboh

Ayah dua anak ini, setiap hari berjualan surpang di rumahnya pinggiran jalan provinsi lintas Keumala-Geumpang. Di sebuah gubuk kecil mungil yang diapit oleh rumahnya itulah Yunus menggantungkan hidup untuk isteri bersama dua anaknya yang masih kecil.
Seorang calon pembeli mampir di Kios Yunus, Sabtu (19/9/2020)/Abdullah Gani/ACEHSATU.COM.

Laporan Abdullah Gani | Pidie Jaya

ACEHSATU.COM, PIDIE JAYA – Jika Anda melintasi jalan provinsi dari Keude Keumala menuju ke Tangse atau Geumpang, Pidie Jaya, agar jangan lupa singgah sejenak di kawasan Gampong Reeng masih dalam kawasan Keumala. Karena di lokasi tersebut anda bisa menikmati sure panggang yang dijajaki oleh oleh seorang pedagang bernama Muhammad Yunus.

Muhammad Yunus (60) warga Gampong Reeng, Pidie adalah satu-satunya pedagang sure panggang atau surpang di Gampong Reeng yang sudah hampir 10 tahun menggeluti usaha tersebut. Miskipun usahanya kecil-kecilan tapi sudah sangat terkenal.

Sure panggang (Surpang) asal Keumala, Pidie ini, setiap harinya  laris manis terjual hingga ke Tangse atau Geumapng bahkan terkadang tembus hingga ke Meulaboh Aceh Barat.

Ayah dua anak ini, setiap hari berjualan surpang di rumahnya pinggiran jalan provinsi lintas Keumala-Geumpang. Di sebuah gubuk kecil mungil yang diapit oleh rumahnya itulah Yunus menggantungkan hidup untuk isteri bersama dua anaknya yang masih kecil.

Kebanyakan pembeli adalah pengguna jalan raya dan setiap hari banyak mobil penumpang jenis L-300 yang mampir di kios Yunus untuk beli surpang.

Bagi yang sudah biasa mampir di lokasi tersebut mungkin bukan hal baru. Tapi untuk yang pertama kali bisa jadi sebuah catatan tersendiri.

Kepada ACEHSATU.COM, Yunus mengatakan, usaha ini dijalani setiap hari dan omzetnya agak lumayan.

Di dinding rumahnya tertulis dengan spidol kalimat  sedia Sure Panggang (Surpang). Yunus menceritakan sekilas usaha yang digelutinya. Disebutkan, memanggang ikan tongkol sudah digeluti sejak 9 tahun lalu. Hanya disitulah satu-satu-satunya pendapatan untuk keluarga.

“Saya tidak punya sawah untuk bertani kecuali hanya disinilah usaha saya yang kini sudah sekitar 9 tahun,” sebut Yunus dengan wajah ceria.

Jika suasana jalan raya normal dan alam pun mendukung, lanjut Yunus, setiap hari rata-rata mampu menghabiskan ikan 60 kg. Ikan tersebut pagi-pagi benar ia beli dari Sigli Ibukota Kabupaten Pidie. Sesampai di rumah, dibantu isterinya bersama anak perempuan yang kini sudah seusia SMP  membersihkan untuk dipanggang.

Muhammad Yunus Sedang Membakar Ikan Tongkol, Sabtu (19/9/2020). Foto. Abdullah Gani/ACEHSATU.COM.

DTentang harga jual, Yunus mengatakan itu bervariasi atau tergantung ukuran ikan. Ada yang satu ekor Rp 10.000, ada yang dua ekor Rp 15.000.

Dan ada  pula yang tiga ekor dilego Rp 20.000. Pembeli umumnya pengguna jalan baik dengan sepeda motor maupun penumpang L-300 tujuan Tangse atau Gempang bahkan juga arah ke Meulaboh-Aceh Barat atau sebaliknya.

Disebutkan bahwa kebanyakan penumpang rute tersebut sudah tahu betul jika kawasan tersebut tersedia sure panggang dan sang supir pun sudah terbiasa mampir sejenak.

Ditambahkan, pengguna jalan lintas Keumala-Geumpang atau sebaliknya sudah biasa mampir di tempat usahanya untuk membeli sure panggang walau hanya satu atau dua ekor.

Ditanya tentang omzet atau pendapatan, Yunus menyebutkan hanya cukup membeli untuk kebutuhan hidup sehari-har.

Inilah usaha kami yang tinggal di pinggiran jalan hanya tertumpu pada orang yang lalu lalang, imbuhnya lagi.

Ramainya pengguna jalan tahu usaha sure teutet alias sure panggang di pinggiran jalan juga tak lepas dari peran wartawan televisi  yang datang ke tempat usahanya beberapa bulan lalu, sebut Muhammad Yunus dengan rasa lega. (*)