Nagan Raya

Lahan 400 Hektare Masih dalam Sengketa, Warga Cot Mee Tolak Tawaran Ganti Rugi PT Fajar Baizury & Brother’s

Lahan seluas 400 hektare itu diklaim oleh warga sebagai milik mereka.

FOTO | ILUSTRASI

ACEHSATU.COM | NAGAN RAYA  – Warga Gampong Cot Mee, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya menolak tawaran perusahaan perkebunan kelapa sawit  PT Fajar Baizury & Brother’s untuk mengganti rugi lahan yang saat ini sedang dalam sengketa antara warga desa dengan perusahaan tersebut.

Lahan seluas 400 hektare itu diklaim oleh warga sebagai milik mereka.

Tarmizi (30), salah seorang warga setempat, mengatakan, tawaran tersebut sempat dibahas dalam pertemuan yang dilakukan oleh warga setempat Selasa, 7 Agustus 2018 di balai desa setempat.

Di dalam pertemuan yang dihadiri perangkat desa dan pemuka agama setempat itu berakhir dengan keputusan warga ingin lahan mereka dikembalikan, atau perusahaan menyediakan kebun plasma.

“Selasa kemarin, diinisiasi keuchik, dan menurut saya itu atas dorongan camat, dan camat itu idenya datang dari perusahaan, warga melakukan pertemuan di balai desa setempat. Sempat terjadi perdebatan, apakah menerima tawaran perusahaan, atau tetap komitmen seperti yang kami tuntut bertahun-tahun lalu, yakni tanah dikembalikan,” kata Tarmizi, Sabtu (11/8/2018).

BACA: Terbukti tidak Membakar Barak, Musilan Akan Tuntut Balik PT Fajar Baizury Brothers

Menurut Sekretaris Jendera, Gerakan Agraria Pemuda (GAP) Cot Mee ini, warga lebih memilih lahan yang diduga diserobot perusahaan sawit tersebut dikembalikan.

Lantaran, jika warga menerima tawaran ganti rugi dari perusahaan, maka hal akan berdampak pada nasib anak dan cucu warga di desa tersebut puluhan tahun kedepan.

“Kalau kami terima yang per hektare Rp 6 juta, untuk lahan yang telah diserobot, lebih kurang 400 hektare, maka, sampai manalah uang itu bisa kami pakai. Paling juga seminggu, sebulan, habis. Nah, sedang tanah, itu puluhan, ratusan, bahkan sampai kiamat tetap ada,” tegasnya.

Senada diungkap Sudio (53).

Dalam pertemuan membahas persoalan desa mereka tersebut, Sudio menilai kepemilikan tanah yang saat ini sedang dalam sengketa tersebut lebih penting diselesaikan, dibanding tawaran ganti rugi perusahaan.

BACA: Warga Cot Mee Desak Pemkab Nagan Selesaikan Sengketa Lahan dengan PT Fajar Baizury

“Kita tetap memilih tanah. Tanah lebih penting. Tuntutan kami itu, dikembalikan tanah atau disediakan kebun plasma,” ujarnya.

Hingga berita ditulis, belum ada konfirmasi pihak PT Fajar Baizury & Brother’s mengenai hal tersebut.

Sementara, Keuchik Gampong Cot Mee, Abdul Manan, cenderung tidak mau menjawab saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Untuk diketahui, sengketa penguasaan lahan antara Gampong Cot Mee dengan perusahaan perkebunan sawit PT Fajar Baizury & Brother’s belakangan mencuat sejak demonstrasi dilakukan warga Gampong Cot Mee.

BACA: Sengketa Lahan PT Fajar Baizury dan Sejarah Perlawanan Warga

Saat itu bersama warga Gampong Cot Rambong, kecamatan dan kabupaten setempat, melakukan aksi unjuk rasa di kantor Gubernur Aceh, medio 2016.

Selain itu, mereka juga menggeruduk kantor Badan Pertanahan Aceh serta kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh.

Di tahun yang sama, warga Cot Mee melakukan demonstrasi di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, menuntuk empat warga mereka dibebaskan.

Keempatnya, Asubki, Julinaidi, Khaidir, dan Musilan, dituduh telah membakar barak milik PT Fajar Baizury & Brother’s pada 2015. Musilan divonis bebas, sementara masing-masing divonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, tiga sampai enam bulan penjara.

Saat dinyatakan tidak bersalah, Jaksa Penuntut (JPU) Umum Kejaksaan Negeri Suka Makmur, Nagan Raya, mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung atas vonis bebas terhadap Musilan.

Namun kasasi tersebut ditolak.

Saat ini, Musilan berencan menuntut balik agar nama baiknya dipulihkan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top