Lagi 19 Nelayan Aceh Ditangkap Otoritas Thailand

Lagi 19 Nelayan Aceh Ditangkap Otoritas Thailand. Anggota DPD RI asal Aceh Sudirman alias Haji Uma menerima laporan bahwa 19 nelayan asal Aceh Timur telah ditangkap oleh angkatan laut Thailand diduga karena melewati batas teritorial laut negara tersebut.
19 nelayan Aceh kembali ditangkap otoritas Thailand
ACEHSATU.COM | Banda Aceh - Lagi 19 Nelayan Aceh Ditangkap Otoritas Thailand. Anggota DPD RI asal Aceh Sudirman alias Haji Uma menerima laporan bahwa 19 nelayan asal Aceh Timur telah ditangkap oleh angkatan laut Thailand diduga karena melewati batas teritorial laut negara tersebut.

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – Lagi 19 Nelayan Aceh Ditangkap Otoritas Thailand. Anggota DPD RI asal Aceh Sudirman alias Haji Uma menerima laporan bahwa 19 nelayan asal Aceh Timur telah ditangkap oleh angkatan laut Thailand diduga karena melewati batas teritorial laut negara tersebut.

“Hari ini saya baru mendapatkan laporan dari Kemenlu secara rinci akan penangkapan tersebut melalui Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Judha Nugraha,” kata Haji Uma, di Banda Aceh, Senin.

Haji Uma mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima, pada Kamis (27/1), angkatan laut Thailand telah menangkap dua kapal ikan Indonesia masing-masing KM Sinar Makmur 05 (14 ABK) dan KM Bahagia 05 (5 ABK).

Menurut Haji Uma, para nelayan Aceh tersebut ditangkap di perairan barat Phuket sekitar 38.5 NM dari pantai. Mereka akan didakwa melakukan pelanggaran UU Keimigrasian dan UU Perikanan.

“Saat ini seluruhnya dalam keadaan sehat dan baik. Mereka ditahan di penjara Phuket. Terdapat dua nelayan di bawah umur ditempatkan di rumah penitipan anak di wilayah Phuket,” ujarnya.

Namun, lanjut Haji Uma, dirinya juga menerima laporan dari pemilik kapal bahwa sebenarnya ada empat nelayan yang masih di bawah umur yakni Akhi Maulana (17) Mujiburrahman (16) Muhammad Nazar (14) dan seorang lagi belum diketahui namanya berusia 17 tahun.

“Terkait selisih dua orang nelayan bawah umur ini kita akan kembali melakukan koordinasi dengan pihak Kemenlu,” katanya.

Haji Uma menambahkan, sejauh ini Kemenlu melalui KRI Songkhla terus berupaya melakukan pendampingan dan akses konsuler terkait pemberian bantuan hukum.

Dalam kesempatan ini, Haji Uma juga mengingatkan kepada seluruh nelayan Aceh untuk selalu mengutamakan keselamatan dengan menghargai tapal batas negara orang.

“Bila sudah seperti ini kejadiannya, siapa yang susah, semua kita ikut susah dan resah termasuk keluarga,” demikian Haji Uma.

Sementara itu, Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh Miftach Cut Adek juga membenarkan bahwa 19 nelayan Aceh tersebut ditangkap karena melewati batas teritorial laut Thailand.

“Mereka ditangkap karena masuk ke perairan Thailand, para nelayan itu tidak tahu batas,” kata Miftach.

Sebelumnya 28 Nelayan Aceh Diampuni Raja Thailand sudah Tiba di Indonesia

28 nelayan Aceh diampuni Raja Thailand tiba di Indonesia
Sebanyak 28 nelayan Aceh Timur yang dibebaskan karena mendapatkan pengampunan kerajaan pada kesempatan ulang tahun Yang Mulia Raja Rama X pada 2021, telah dipulangkan ke Indonesia dan sudah tiba di Jakarta.

“Mereka ditahan di Thailand sejak April 2021, dan sudah dipulangkan ke Indonesia. Mereka dibebaskan setelah mendapatkan ampunan dari Raja Thailand yang berulang tahun,” kata Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Almuniza Kamal¬†dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Kamis.

Kedatangan 28 nelayan tersebut disambut langsung oleh BPPA saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Kamis sore ini sekitar pukul 17.46 WIB.

Almuniza mengatakan sebelum dipulangkan ke Aceh, 28 nelayan itu terlebih dahulu mengikuti karantina di Rumah Susun (Rusun) Pasar Rumput, Jakarta Selatan, sekitar tujuh hari. Mereka juga akan diperiksa kesehatannya, serta tes usap PCR.

“Apabila nanti hasil mereka negatif maka akan diperbolehkan pulang ke Aceh. Namun jika di antara mereka ada yang positif, akan diisolasi terlebih dahulu, tapi kita doakan semoga mereka sehat-sehat semuanya,” ujarnya.

Almuniza menyebutkan selama mereka di Jakarta, akan dipantau keberadaannya oleh tim BPPA. Sehingga, jika para nelayan itu membutuhkan sesuatu, maka segera diberikan bantuan.

Ia menuturkan program ini sesuai dengan amanah Gubernur Aceh Nova Iriansyah dan akan terus dilakukan guna memberikan pelayanan kepada masyarakat Aceh di Pulau Jawa dan sekitarnya.

“Hal ini sesuai dengan yang diamanahkan pimpinan kita. Jadi kalau mereka perlu bantuan sesuatu bisa langsung menghubungi kita (BPPA),” katanya.

Almuniza menjelaskan, ke-28 nelayan berasal dari Aceh Timur itu, merupakan bagian dari empat nelayan anak yang dipulangkan pada 4 Agustus 2021, yang juga difasilitasi oleh kementerian dan dipulangkan oleh Pemerintah Aceh.

Awalnya, kata Almuniza, mereka yang mencari ikan dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Rizki Laot berjumlah 34 orang anak buah kapal. Namun, setelah ditangkap oleh pihak keamanan Thailand di perairan antara Pulau Yai dan Pulau Phuket di lepas pantai Phang Ngah, dua nelayan di antaranya melarikan diri dengan menggunakan boat sekoci.

Ia menyebutkan ke-28 nelayan itu, pada 6 Agustus 2021 dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Thailand, karena melanggar hukum terkait penangkapan ikan tanpa izin wilayah perairan Thailand.

“Alhamdulillah, sekarang mereka sudah dibebaskan atas dasar pengampunan dari Raja Rama X dalam rangka ulang tahunnya pada 2021,” ujarnya.

Almuniza menambahkan, pemberian ampunan oleh Raja Thailand untuk nelayan Aceh yang ditahan di sana bukan hanya kali ini saja. Pada 2020 lalu, kerajaan Thailand juga membebaskan 51 nelayan asal Aceh.

Almuniza mewakili Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh, berterima kasih kepada Konsulat RI Songkhla, KBRI Thailand, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, PWNI, KKP RI, Satgas COVID-19, serta unsur lainnya.

“Terima kasih karena telah membantu mengurus pemulangan para nelayan asal Aceh, tentu ini tidak terlepas dari kerja sama semua pihak,” demikian Almuniza Kamal.