Internasional

Krisis Ekonomi Landa Zimbabwe, KFC Tutup karena Habis Stok Daging Ayam

Hampir setahun sejak Robert Mugabe diturunkan paksa dari kursi presiden melalui kudeta militer, pemerintah Zimbabwe masih terus berupaya mencari jalan keluar atas situasi ekonomi mereka.

FOTO | EPA

ACEHSATU.COM – Jejaring restoran cepat saji KFC yang beroperasi di Zimbabwe tutup untuk sementara waktu karena krisis uang tunai yang terjadi di negara itu terus memburuk.

Di cabang restoran mereka yang berada di ibu kota Zimbabwe, Harare, dan kota Bulawayo, KFC mengumumkan mereka kesulitan mendapatkan pasokan daging ayam.

KFC memutuskan untuk terus menutup usaha mereka selama krisis uang tunai di negara itu belum terpecahkan.

“Keputusan ini disebabkan kami tak mendapatkan bahan dari pemasok, karena mereka menginginkan uang dalam mata uang dolar Amerika.”

BACA: Pemerintah Luncurkan Mata Uang Baru, Ribuan Rakyat Venezuela Mengungsi ke Negara Tetangga

“Kami akan melakukan segala hal untuk melanjutkan usaha sesegera mungkin,” demikian pengumuman KFC itu.

Kesulitan serupa juga terjadi pada restoran pizza St Elmos yang menutup usaha sampai waktu yang belum ditentukan.

St Elmos memiliki alasan tambahan, yakni membutuhkan waktu untuk pembersihan dan perbaikan restoran.

Seperti KFC dan St Elmos, restoran Chicken Inn juga kehabisan stok daging ayam. Seperti dilaporkan koran milik pemerintah, Chronicle, Chicken Inn tak dapat memastikan kapan pasokan bahan makanan akan kembali normal.

Krisis uang tunai di Zimbabwe berdampak langsung pada berbagai sektor usaha. Sejumlah apotek di Bulawayo tak beroperasi.

BACA: Ternyata Ada Motif Bisnis di Balik Krisis Rohingya

Pekan lalu, harian Financial Gazette melaporkan, sejumlah toko kehabisan barang dan bahan penting karena jumlah mata uang asing di negara itu semakin terbatas.

Krisis ekonomi Zimbabwe juga berdampak pada penjualan bahan bakar minyak di negara itu. Antrean panjang pembeli mengular di sejumlah SPBU.

Zimbabwe tak lagi menggunakan mata uang mereka sejak 2009 dan mengadopsi mata uang asing, termasuk dolar AS.

Pemerintah Zimbabwe menerbitkan dolar versi lokal tahun 2016 untuk mengurangi krisis uang tunai. Namun dalam waktu singkat, mata uang baru itu kehilangan nilai.

Hampir setahun sejak Robert Mugabe diturunkan paksa dari kursi presiden melalui kudeta militer, pemerintah Zimbabwe masih terus berupaya mencari jalan keluar atas situasi ekonomi mereka.

BACA: Venezuela Bangkrut, Mata Uang Ambruk: Kertas Tisu Dijual 2,6 Juta, Daging Ayam 14,6 Juta

Krisis ekonomi yang terjadi, menurut pakar ekonomi dari Universitas Zimbabwe, Ashok Chakravarti, disebabkan pengeluaran besar-besaran pemerintah selama bertahun-tahun, termasuk korupsi, kebijakan tak menentu, dan transaksi ekspor yang lesu.

Menteri Ekonomi Zimbabwe yang baru, Mthuli Ncube, belakangan ini mendapatkan dukungan internasional untuk menyeimbangkan perekonomian.

Ncube berencana memotong pengeluaran negara dan melakukan privatisasi perusahaan asing. Upaya itu disebutnya akan dilakukan beriringan dengan pembayaran utang luar negeri agar bantuan internasional dapat segera tersalurkan ke Zimbabwe.

Sumber: BBC Indonesia

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top