Aceh Besar

KPHA Sesalkan Penyerangan Pos Pulhut di Tahura Seulawah

Laporan Riswan Haris

ACEHSATU.COM, BANDA ACEH — Penyerangan pos Polhut di Seulawah Agam dan pos Pesanggrahan  Tahura Po Cut Meurah Intan di Saree, Kabupaten Aceh Besar oleh massa bersenjatakan parang dan pentungan beberapa hari lalu cukup memprihatinkan.

Peristiwa penyerangan ini harus menjadi refleksi terhadap pemerintah Aceh, bahwa typologi dan karakter masyarakat harus menjadi salah satu faktor pertimbangan dalam menyusun program-program yang berbasis masyarakat.

Sehingga kejadian tersebut juga tidak boleh lepas dari penegakan hukum sebagai bentuk tindakan yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan kerugian Negara.

Juru Bicara Koalisi Peduli Hutan Aceh (KPHA), Efendi Isma S Hut dalam siaran pers yang diterima ACEHSATU.COM, Rabu (17/02/2016), memberi apresiasi yang tinggi terhadap KPH (Kesatuan Pengelolaa Hutan) Tahura Po Cut Meurah Intan.

Pasalnya, KPH tersebut sudah melakukan penegakan hukum terhadap pelaku illegal logging yang selama ini merambah kawasan Tahura.

Di tengah ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi penegakan hukum setidaknya KPH Tahura menunjukkan keseriusan dalam rangka perbaikan kualitas lingkungan hutan agar mampu mereduksi bencana banjir dan longsor di masa mendatang.

Lebih jauh lagi terhadap pengelolaan kawasan Tahura oleh KPH, sebagai kesatuan pengelolaan di tingkat tapak harus memperbesar saluran komunikasi dengan masyarakat sekitar, terutama dalam mengelola potensi-potensi kawasan bersama-sama masyarakat dan membangun kemitraan sehingga masyarakat sekitar kawasan tidak lagi menjadi sub-ordinasi atau objek pengelolaan.

KPHA mencatat banyak kasus illegal logging yang dapat dilihat di www.hutan-aceh.com sampai dengan tahun 2015 ditemukan 34 titik, kondisi ini diduga berkonstribusi cukup besar terhadap kerusakan lingkungan hutan di Tahura.

Sebelum tahun 2005, Tahura Seulawah yang dulu cukup terkenal dengan puncak Saree yang dingin dan sejuk, sehingga ketika kendaraan yang melintasi daerah ini penumpangnya akan segera mengetahui bila sudah berada di Saree hanya dengan merasakan hawa sejuknya walau mata terpejam.

Perubahan besar di kawasan ini banyak terjadi pasca Tsunami dan perdamaian Aceh, hutan di sekitar menjadi oven akses dan menyajikan tontonan kenderaan yang mengangkut kayu dari dalam kawasan Tahura menuju sawmil dan sebagian lagi menuju kota Banda Aceh.

KPHA menyesalkan terjadinya penyerangan pos Polhut di KPH Tahura Po Cut Meurah Intan sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan terlukanya personil penjaga Tahura, peristiwa ini harus diusut oleh aparat penegak hukum agar bisa mengetahui dengan jelas latar belakang permasalahan yang memicu kejadian tersebut.

Hal ini menjadi penting demi menjaga supremasi hukum dan peraturan di negara ini agar kehidupan perdamaian, kehidupan demokrasi, kehidupan ekonomi dan kehidupan lingkungan akan sangat mempengaruhi masa depan Aceh selanjutnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top